RSS

Aku dan Dakwah Kepenulisan

06 Jun

images (1)

Goresan pena ibarat pedang bagi seorang mujahid, dengan ilmu dan pengalamannya, ia torehkan setiap untaian kata dalam hikmah. Seorang mujahid pena tak enggan mengangkat Al-Qur’an sebelum berperang, karena Al-Qur’an bak nutrisi iman bagi pembacanya, sedang iman adalah sumber oksigen utamanya, tanpa oksigen kerja metabolisme dalam tubuh tidak akan berlangsung dengan baik, bahkan perlahan akan mati.

Selain dakwah tunas bangsa, saya memilih menulis sebagai salah satu jalan dakwahku, karena menulis adalah ungkapan cinta terhadap anugerah yang telah Allah berikan, dengan menulis berarti kita telah mengikat buruan ilmu, kita juga dapat menuangkan setiap impian tanpa harus mengucapkannya, bahkan setiap kalimat tetap dapat menjadi pembelajaran sekalipun penulisnya telah tiada.

Sejak kecil ibuku menginspirasiku untuk menggoreskan tinta ini, tinta kebaikan kendati sangat sederhana dan hanya tertuang dalam kertas usang. Aku ingat kalimat syahdunya saat perlombaan kepenulisan dulu, “Nak, carilah mutiara ilmu dengan membaca dan berguru, kemudian tuangkanlah dalam goresan penamu, sampaikanlah kebaikan yang kau dapat sekalipun hanya satu ayat.’’ Sejak saat itu, aku mulai senang menulis meskipun tak banyak yang terpublikasi, namun setidaknya saat kumembacanya kembali, tiap lembarnya memberikan evaluasi bagi diri sendiri.

Dalam goresan pena seringkali kumelihat secercah cahaya, lebih dari itu.. bahkan menulis mampu memunculkan energi sebagai penolong dalam diri setelah berkawan sabar dan sholat. Terlebih saat kita sedang terpuruk dalam kesendirian tiada teman untuk berbagi atau mungkin mereka tak mudah memahami.

Pada saat itu akan kuambil pena cinta-Nya, lalu perlahan kutuangkan dalam selembar atau berlembar kertas. Atas izin Allah, rupanya menulis dengan pena iman mampu menguatkan kaki yang tadinya telah lelah untuk melangkah, ya.. sekalipun tak jarang harus dibersamai dengan gerimis air mata, namun selalu muncul pelangi cantik setelah gerimis itu reda. Indahnya paduan warna pelangi ibarat gelombang cinta yang meredamkan tiap kesedihan.

Musim demi musim terus berganti, saat kemarau datang dan matahari lebih sering muncul, rasanya ia sama saja seperti pelangi, tak lelah mengajakku untuk menulis, hingga berganti tahun, rupanya aku semakin mencintai dunia kepenulisan, baik fiksi maupun non fiksi. Kini jelas kudapati manfaat dari aktifitas tersebut yaitu sebagai penguat langkah dan media dakwah.

Allah,Yaa Rahiim.. dengan penuh cinta kuhaturkan rasa syukurku atas anugerah ini, anugerah berupa kelengkapan indera dan pekanya tiap perasaan, hingga kutuangkan dalam setiap goresan pena. Terimakasih telah menjadikan kecintaanku dalam menulis sebagai sahabat hingga aku tak pernah merasa sendiri, karena dalam setiap goresan impian yang disertai doa, kuyakin ada cinta-Mu yang senantiasa mentransfer semangat pada diriku. Yaa Robb.. jaga ruh dan jasadku agar senantiasa dalam rengkuh-Mu..

Tiada kesempurnaan pada diri setiap insan, karena sejatinya kesempurnaan hanya milik Rabb-nya, manusialah yang seringkali menuliskan kekhilafan. Dan sungguh nikmat Allah bagitu luas, kini Allah telah memberiku banyak sahabat pena, semoga mereka tak lelah mengingatkan atas kekhilafan goresanku, agar kami mampu menyemai ukhuwah, menyemangati jejak langkah dalam dakwah.

yogyakarta, 28 ‎April ‎2013

diedit dari teks essay Aku, FLP dan Dakwah Kepenulisan oleh Asni Ramdani.

Iklan
 
 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: