RSS

Bionatural Batik sebagai Inovasi Baru Produk Batik di Indonesia

06 Jun

batik

Batik Indonesia sarat dengan teknik, simbol, dan budaya yang tidak lepas dari kehidupan masyarakat Indonesia. Kekayaan ragam batik yang datang dari beberapa wilayah dan provinsi, menjadi bukti bahwa Indonesia layak menjadi sumber budaya di mana batik tumbuh dan berkembang.

Namun pada kenyataannya,  pendapat tentang pengertian batik pada masyarakat umum saat ini masih belum sepenuhnya benar. Sebagian besar masyarakat memahami bahwa batik adalah sebuah hasil karya budaya Rakyat Indonesia dimana dalam pembuatannya, motif  batik selalu digunakan sebagai tolak ukur, namun ternyata pendapat tersebut tidak sepenuhnya benar. Menurut Widodo, seorang pembatik Indigo di Kulonprogo. Batik adalah sebuah hasil karya Budaya rakyat Indonesia dimana dalam proses pembuatannya menekankan pada teknik pembuatannya yaitu adanya pelapisan menggunakan malam (lilin panas) di atas kain yang akan digunakan sebagai kain untuk membatik, adanya proses pewarnaan dan perebusan (nglorot).

Dari penelitian yang telah dilaksanakan, kami mengunggulkan penggunaan bahan dari alam yaitu berupa getah pisang sebagai pewarna motif dasar dan kulit buah Jelawe sebagai pewarna akhir pada saat proses pencelupan. Selain bahan yang digunakan dari alam, kami juga mengunggulkan adanya nilai edukasi dalam motif pembuatan batik tersebut, tema yang kami angkat adalah motif batik dengan gambar siklus nitrogen, sehingga diharapkan selain untuk melestarikan hasil karya cipta budaya Indonesia, batik dengan motif baru ini dapat menarik masyarakat umum, para pendidik dan memberikan nilai edukasi bagi pengguna dan penggemar batik.

Adapun proses pembuatan bionatural batik tersebut adalah sebagai berikut, Pertama,  menyiapkan semua bahan dan alat yang akan digunakan untuk membuat batik. Kemudian Sebelum membuat desain motif dasar batik. Kain mori yang telah disiapkan direbus dahulu di dalam air tawas agar nantinya warnanya tidak mudah pudar. Adapun  perbandingannya untuk  kain 500 gram : air tawas 100 gram. Setelah air direbus hingga mendidih, lalu larutkan tawas sebanyak 50 gram. Setelah larut, masukkan kain mori 250 gram kedalam rebusan air tawas, panaskan dengan api sedang selama +- 15 menit. Kemudian kain mori dibersihkan dengan air bersih dan dijemur hingga kering.

Kedua, mengambil getah pisang menggunakan sabit dan mengumpulkan tetesan-tetesan getah pisang yang nantinya akan digunakan sebagai pewarna motif dasar  kain.

Ketiga, membuat desain batik bermotif biologi dengan tema Siklus Nitrogen diatas kain mori dengan pensil atau biasa disebut molani.

Keempat, Desain motif batik biologis yang telah di desain menggunakan pensil, kemudian kita lapisi dengan malam menggunakan canting yang telah berisi lilin cair untuk melapisi motif.

Kelima, Bagian dalam desain motif batik biologis yang telah diberi malam tadi kemudian diolesi getah pisang, kemudian dikeringkan. Lalu Kain tersebut di fiksasi menggunakan air tunjung sebagai pembangkit warna pada kain, fiksator tersebut juga aman bagi lingkungan.

Keenam, Kain yang telah diolesi getah pisang dan diifiksasi tunjung tadi kemudian dilapisi malam lagi sebelum nantinya dicelupkan kedalam pewarna. Tujuannya supaya saat pencelupan bahan ke dalam larutan pewarna, bagian yang diberi lapisan lilin tidak terkena pewarna.

Ketujuh, Setelah lilin cukup kering, kain dicelupkan ke dalam larutan pewarna alami, dalam penelitian ini kami memilih menggunakan pewarna coklat kekuningan dari kulit buah Jelawe (Terminalia belerica), dicelupkan sebanyak 4 sampai 5 kali pencelupan. Kemudian difiksasi tunjung lagi.

Kedelapan, perebusan atau nglorot, dimana kain yang telah berubah warna direbus dengan air panas. Tujuannya adalah untuk menghilangkan lapisan lilin, sehingga motif yang telah digambar sebelumnya terlihat jelas.

Kesembilan, Proses terakhir adalah menjahit pinggirain kain batik menggunakan mesin jahit dan benang agar lebih rapi.

Pada pembuatan batik ini dihasilkan warna yang sedikit gelap yaitu kecoklatan, warna coklat tua menunjukkan hasil warna getah pisang pada motif utama, kemudian coklat muda akibat pewarna alami dari kulit buah jelawe.

Dari penelitian yang telah dilaksanakan diperoleh produk batik “bionatural” yang menggunakan getah pisang sebagai bahan pencetak motif. Motif yang dibuat adalah motif berbasis edukasi biologi. Produk “bionatural” batik juga merupakan produk batik yang menggunakan bahan alam sebagai pewarna.

Diambil dari ringkasan penelitian 50 judul FMIPA UNY yang disusun oleh Asni Ramdani dan Ika Feni S

 

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 6 Juni 2013 in C Karya Ilmiah

 

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: