RSS

Episod PDKT FLP XV

06 Jun

934165_10200299793521010_261436351_n

Bismillahirrohmanirrohim..

Dua hari satu malam, tepatnya tanggal 25 – 26 Mei 2013,  saya dan beberapa anggota FLP angkatan XV menghadiri agenda rutin yang diadakan oleh panitia FLP bagi setiap anggota baru. Terlepas dari perintah seorang qiyadah untuk membingkai pengalaman tersebut dalam rangkaian paragraf lalu me-ngeploudnya, saya harap narasi kronologis ini dapat menyampaikan hikmah dan menjadi gambaran bagi para pembaca, khususnya teman-teman FLP XV yang kemarin belum sempat datang PDKT.

okei sebelumnya, coba tebak apa kepanjangan PDKT? Pendekatan dan Ta’aruf? Hehe.. bukan itu.. Kalau kata panitia, “PDKT mempunyai kepanjangan Pelatihan Dakwah dan Karya Tulis’’, hmm.. diluar dugaan ya ternyata.. 

Saat hari H tiba, kami pun segera berkumpul di tempat dan waktu yang telah disepakati bersama. Berkawan udara pagi yang masih sejuk, sinar mentari yang menghangatkan tubuh, lambaian pohon,  serta niat yang lurus dengan menggandeng Izin dari kedua Orang tua, motor saya pun melesat menuju Pesantren Darul Ulum, Brajan, Potorono, Banguntapan, Bantul, sebuah tempat dimana kami akan menikmati makrab bersama.

7

Kegiatan tersebut dimulai dengan pembukaan, sarapan pagi, games dan perkenalan. Selanjutnya kami langsung dibawa kedalam training Kepenulisan Empatik 1 yang berlangsung selama setengah hari hingga pukul 17.00 WIB. Dalam training empatik ini kami dibimbing oleh Tim Training CWC (Creative Writing Center) yaitu sebuah wadah pelatihan kepenulisan yang didirikan oleh FLP Yogyakarta pada tahun 2001.

Training sesi pertama dibersamai oleh Mbak Rara, materi yang beliau sampaikan mengenai How to – explore idea. Tema ini dilatarbekalangi dari sebuah fenomena permasalahan yang sering dialami oleh penulis pemula yaitu dalam menyusun sebuah kalimat pembuka dan mengembangkan idenya menjadi sebuah karya tulis, hal ini seringkali terjadi karena ketakutan pada kegagalan, sehingga menghambat gerak penulis tersebut. Menurut beliau bila kita ingin menjadi seorang penulis yang baik, maka kita harus mempunyai sifat seperti anak-anak, karena anak-anak selalu jujur, ingin tahu, pantang menyerah, pemberani serta selalu terbuka pada perasaannya. Ambil contoh, seringkali fenomena yang terjadi di bangku kuliah, ketika dosen bertanya, maka hanya sedikit mahasiswa yang berani menjawab atau bahkan mereka pura-pura menulis agar tidak ditunjuk. Hal ini sangat kontras bila dibandingkan dengan pemandangan yang terjadi saat dahulu kita masih duduk di bangku TK, ketika guru bertanya hampir semua siswa mengacungkan tangan untuk menjawab, disini dapat kita petik hikmah bahwa anak-anak mengajarkan sikap pemberani dan tidak takut salah, sedang saat kita mulai tumbuh dewasa maka akan mulai muncul sikap pasif, dan berkembanglah sikap waspada akan takut kegagalan.
Anak-anak juga selalu jujur dan terbuka akan perasaannya, akan semua yang ada dalam hatinya. Oleh karena itu, pada training sesi pertama tersebut, Mbak Rara dengan kelihaiannya merangkai kata demi kata, membawa kami ke suasana yang mendung, membiarkan mata kami terpejam dan merenungkan segala hal yang telah membuat kami merasa sedih, diiringi musik pendukung suasana hingga setiap peserta meneteskan air matanya, bahkan ada yang  sampai menangis tersedu. Setelah itu kami diminta membuka mata kami dan menuliskan pengalaman yang paling menyedihkan tersebut pada selembar kertas yang telah disediakan, lalu menceritakan didepan teman-teman. Pelatihan yang luar biasa bukan? Kami dilatih untuk lebih peka terhadap suasana hati, lalu jujur terhadap perasaan sendiri, terhadap setiap pengalaman masa lalu, agar kami dapat menyampaikan hikmah kepada teman-teman yang lain. Oya satu hal, ditempat tersebut pemikiran kami juga di mind set bahwa antar seluruh anggota FLP itu adalah keluarga. Ya.. kami keluarga, sehingga kami dengan suka rela akan menyampaikan pengalaman kami agar sanak saudara kami yang lain dapat memetik hikmah yang kami tuliskan. Kemudian untuk menstabilkan keadaan, dengan teknis yang tidak jauh berbeda, kami pun diminta untuk mentutup mata kembali akan tetapi kali ini kami membayangkan hal-hal yang menyenangkan dan memotivasi, kemudian menuliskan dan menceritakannya kembali kepada teman-teman.

Training sesi kedua dibawakan oleh Mas Wahyu, kami dibawa ke planet “memilih Ide’’ dengan suasana yang santai, kocak namun sarat pembelajaran. Dari materi tersebut saya belajar bahwa Ide yang baik itu adalah ide yang memiliki karakteristik dan nilai jual, guna mencapai tujuan tertentu. Sebagai penulis ada 3 karakteristik yang penting untuk dimiliki yaitu  BBM (berkarakter, berani beda dan mendunia). Lalu bagaimana agar memiliki ketiga karakter tersebut? untuk memilikinya kita harus memunculkan jiwa yang sensitif atau peka, kreatifitas, berwawawasan, tak lelah mencari pengalaman, serta sering melakukan eksperimen – eksperimen kecil hingga didapat sebuah hasil untuk dikembangkan menjadi ide karya tulis. Materi ketiga dilanjutkan setelah sholat dhuhur, pada sesi ini kami dibawa kedalam planet ‘Pengembangkan Ide’ oleh Pak Lido de Rio. Disini yang dibutuhkan adalah imajinasi, kedengarannya memang mudah, tetapi pada kenyataan seringkali dijumpa kesulitan dalam mengembangkan imajinasi hingga terangkai dalam runtutan paragraf dengan alur yang jelas. Akar dari masalah ini adalah karena pemikiran kita yang terlalu heterogen, ide yang datang tertumpuk dan tercampur tanpa  ada susunan yang sistematis, sehingga dibutuhkan sebuah solusi, salah satunya adalah dengan membuat mind mapping. Mind mapping mudah diingat karena hanya kata-kata kunci penting yang kita tuliskan, selain itu metode ini juga cocok untuk mengatur kerangka berpikir kita dengan cara menulis ide utama di tengah kertas, baru selanjutnya membuat cabang – cabang dari ide utama tersebut. Metode ini cukup berhasil membantu, karena pada dasarnya manusia cenderung berpikir dari hal-hal yang umum baru kemudian pada hal-hal detail dan spesifik.

——- ***——-

Diiringi gemericik rintik hujan para peserta beriringan mengambil air wudhu, tak lama setelah adzan ashar berkumandang syahdu dari masjid samping pondok, menanti waktu pertemuan antara hamba dengan Rabbnya. Setelah bermunajat, kami masuk kembali ke kelas materi dan inilah sesi yang paling menarik ketika selembar kertas telah tersedia di depan saya dan menanti diwarnai dengan tulisan demi tulisan. Saat panitia mempersilakan untuk menulis, wah benar-benar diluar dugaan deh, tiba-tiba suasana kelas menjadi tempat yang paling ramai bahkan lebih ramai dari pasar. Mulai dari musik yang dinyalakan keras-keras, panitia yang mondar-mandir mengganggu dan  mencoba menghentikan konsentrasi peserta, sampai tawaran snack yang sengaja ditaruh di depan saya dan teman-teman peserta lain yang sedang menulis. Great! Justru moment seperti ini yang ditunggu, dimana penulis pemula merasakan bagaimana susah mudahnya menulis dan menuangkan ide-ide mereka hingga memenuhi lembaran kertas kosong tadi. How creative they are). Disini kami kembali belajar bahwa dalam menulis dibutuhkan sebuah kondisi dan suasana hati serta niat yang kuat, sehingga apapun penghalangnya tidak akan menjadi hambatan untuk tetap menulis.
Kemudian training sesi akhir adalah tentang bagaimana cara menuangan Ide. Dalam sesi yang dibersamai oleh Pak Dwitya tersebut ada beberapa buah pembelajaran yang dapat dipetik, diantaranya tentang penulis visioner adalah mereka yang menulis tidak hanya untuk dirinya sendiri tetapi membawa unsur kepentingan yang bermanfaat untuh khalayak umum, tanpa menimbulkan adu domba sehingga dapat dinikmati oleh setiap pembacanya. Kemudian suasana kelas menjadi semakin bersemangat saat kehadiran seorang senior FLP yang menawarkan kami proyek menulis buku secara jama’ah, senior FLP ini adalah penulis novel The Lost Java dengan nama penanya Kun Gea. Saat itu beliau juga menjelaskan beberapa aturan tentang alur penulisan hingga penerbitan buku.

Untitled

Malamnya kami disuguhi penampilan yang sangat istimewa, dengan lampu yang dipadamkan, dan kemudian perlahan 1 per satu lilin mulai dinyalakan.. ya hanya dengan beberapa lilin,  tim Teater Pena FLP Yogyakarta berhasil membawakan musikalisasi puisi berjudul ‘Mata-mata’ karya W.S Rendra, sederhana, namun penuh makna.. Kemudian sekitar pukul 20.00, acara dilanjutkan dengan membangun Istana Impian, dengan dipandu oleh Kak Haris setiap person berhak menyampaikan impian atau harapan mereka sampai satu per sat lilin padam. Pukul 22.00 semua nyala lilin telah padam sehingga Istana impian pun selesai dibangun. Alhamdulillah, malam itu sangat berkesan, kami kembali ke kamar dan bersiap istirahat, berharap esok jauh lebih barakah.

971060_10200299795281054_1761215915_n

Hari ke dua dimulai dengan sholat tahajud di masjid, tepatnya pukul 3.00 dini hari. Terasa udara di luar masih cukup dingin, langit pun masih gelap, namun justru diwaktu-waktu seperti itulah Allah menanti hamba-hambaNya yang ikhlas bermunajat kepada-Nya. Dilanjutkan sampai waktu shubuh tiba kemudian setelah itu kami dibagi lagi menjadi beberapa tim  plus pemandu untuk jalan-jalan pagi sambil berfiksi ria di tiap sudut jalan, I call it, ”the moment that full of fiction”, hehe.. memang sih benar-benar seperti touring dalam dunia dongeng, tetapi justru menjadi lebih seru, terlebih saat pembagian kado silang  ^_^ V

Setelah sarapan pagi, kami langsung memasuki kelas materi, hari kedua ini lebih banyak mengkaji tentang motivasi kepenulisan dari segi da’awi dan penguatan ruhiyah. Pada materi pertama di hari kedua dibersmai oleh Pak Taufiq. Saya masih ingat ada kutipan penting yang boleh jadi bisa digunakan sebagai semboyan bagi setiap penulis, yaitu ‘’Penulis akan mendapatkan apa yang ia niatkan’’, sehingga yang perlu ditekankan disini adalah niatnya terlebih dahulu, jangan sampai kita menulis tanpa arahan yang jelas, sehingga kita tidak tahu goal apa yang akan kita capai. Jangan pula menulis kalau hanya ingin menjadi terkenal, berorientasi honor/royalti, apalagi menjadi sombong dan merendahkan orang lain, nadzubillah.. Pemateri juga menjelaskan bahwa dalam menulis penting untuk diingat bahwa tulisan itu harus mencerahkan bukan menyesatkan, tidak mengandung unsur liberalisasi, sekulerisasi dan plularisasi, serta tidak mengandung unsur ghowzul fikr. Saya pribadi semakin menyadari bahwa dalam Forum Lingkar Pena kita disiapkan menjadi seorang da’i/da’iyah yang gemar menulis bukan penulis yang pura-pura berdakwah. Adapun kebutuhan seorang juru dakwah ada 4 yang paling utama, yaitu Pemahaman aqidah yang lurus, Ibadah yang benar, akhlaq yang baik dan tsaqofah Islam yang luas (wah, ini ambil dari 10 muwashofat ya..? hehe) Alhamdulillah, kini semakin jelas, bahwa saya tidak salah melangkahkan kaki ke dalam Forum Lingkar Pena, semoga barakah harapku.

“Karya tulis tidak harus selalu dalam bentuk buku atau tulisan pada media massa, bisa saja kita menulis berupa tulisan singkat di website islamiyyah yang lurus, bisa juga berupa puisi untuk semangat dakwah dan mengupdate status yang mengajak pada kebaikan melalui jejaring sosial’’ ungkap Pak Taufiq. Materi kedua dibawakan oleh Ustad Yusuf Maulana dengan tema yang cukup berbobot yaitu ‘’Belajar Menjadi Penulis Bekarakter’’. Karakter merupakan ciri khas utama bagi seorang penulis, maybe not be first but be different!’ Jadilah yang berbeda dengan karakter tulisanmu sendiri. Karakter itu masalah komitmen dan visi, coba bayangkan betapa banyak tulisan yang hadir di tengah kita, tetapi seberapa banyak yang menyentuh jiwa? Ustadz Yusuf menjelaskan agar penulis itu mempunyai sikap Percaya Diri dengan karyanya, kita hanya perlu fokus pada karya, tetapi tidak dengan mengorbankan idealisme, dengan begitu tulisan itu akan mengalir hingga menghasilkan sebuah karya yang menyatu pada jiwa penulisnya. Penting pula untuk diwaspadai jangan sampai kita menjadi penulis yang tidak sehat, hanya karena tulisannya sudah dirasa baik, bagus dan berkarakter tetapi jadi lemah dalam sikap dan sifat.

Usai materi dari Ustad Yusuf Maulana, dilanjutkan penampilan haflah bagi tiap kelompok yang telah ditentukan pada saat TM Pra PDKT, kelompok saya saat itu mendapat tema Opera van FLP, dari temanya saja sudah terbaca bahwa haflah jenis ini harus mengandung nilai humor, namun karena anggota kami ada beberapa yang berhalangan hadir, sehingga perlu persiapan dadakan untuk penampilan haflah tersebut. Seusai penampilan rasanya sangat lega, hehe… Setelah semua tim peserta menampilakan haflah sesuai temanya masing-masing, kemudian kami menyaksikan hiburan drama dari Tim Teater Forum Lingkar Pena. Drama yang mereka tampilkan menceritakan sebuah negeri pena, dimana kebutuhan hidup dihasilkan dengan menulis, drama yang penuh imajinasi ini berjalan dengan baik dan menampilkan banyak hikmah yang dapat dipetik.

Memasuki materi terakhir adalah penjelasan tentang ke-FLP-an, materi ini dibawakan oleh Pengurus harian FLP wilayah yaitu Pak Solli, Pak Taufiq, Pak Lido de Rio, Mbak Haruna Aqiela dan Mbak Rima. Sesi ini banyak mengupas tentang apa itu FLP, struktur dan pengurusnya, agenda, devisi hingga progam kerjanya, dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab. Akhirnya, seluruh materi demi materi telah selesai kami lalui, bersyukur rasanya dapat mendapatkan banyak wawasan dan saudara baru selama dua hari itu.

2

Puncak acara  ditutup dengan beberapa pengumuman perlombaan serta penetapan ketua angkatan. Alhamdulillah, 2 hari 1 malam terlalui sudah, banyak yang didapat dan tersampaikan, banyak ilmu  dan wawasan yang terserap.
semoga tak hanya tersimpan rapi dalam episod kecil hidup ini, namun dapat kami kembangkan di jalan yang Allah Ridhoi. aamiin

00

8881_10200299803241253_1505859160_nNB : foto-foto diambil dari grup FLP Yogyakarta dan http://www.facebook.com/PondokPesantrenDarulUlum

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 6 Juni 2013 in D in FLP

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: