RSS

Bashiroh Seorang Kakanda terhadap Adik Tercinta

18 Jan

381275_1678034568395_822889571_n
Di antara orang yang sangat merasakah sentuhan Ustadz Rahmat adalah adiknya sendiri, Ahmad Nawawy. Ia yang lahir tiga tahun setelah Ustadz Rahmat benar-benar mempunyai harapan dan tanggung jawab teramat dalam terhadap sang kakak yang selalu ia panggil Bang Mamak. Setelah ayah mereka tiada, Ustadz Rahmatlah yang menggantikan perannya sebagai ayah, sekaligus sebagai abang.

Kala itu, Nawawy kecil sudah terseret ke dalam kebiasaan pergaulan yang tidak baik terbiasa minum minuman keras. Ia bahkan keluar SD sebelum sempat menamatkannya.

“Saya ini bandel sejak kecil. Saya terjerumus ke miras sejak tahun 1973, berapa tahun setelah keluar dari SD di kelas empat. Terjerumusnya itu karena lingkungan, ingin nyoba-nyoba. Waktu itu anggur kolesom. Setelah itu minum arak. Jarang yang kuat, bahkan teman-teman itu suka dengan arak karena kadar alkoholnya 32 %, kalau anggur kolesom itu hanya 12 %,” cerita Nawawy.

Dalam kekalutan dan kepiluan yang ia hadapi terhadap keadaan adiknya, dalam lingkup lingkungan dan kesadaran yang mewajibkannya untuk terus menyampaikan pesan nabi, dalam kurun waktu perjuangan yang tak singkat itu, ustadz Rahmat tidak pernah henti-hentinya berusaha, mengajak, menasihati dengan berbagai upaya, curahan penuh kasih seorang kakak yang bersahaja dan bersahabat, ia tidak pernah bosan. Ia ingin agar adiknya yang sangat dicintainya, benar-benar keluar dari semua jalan yang sangat dibencinya itu.

Ustadz Rahmat biasanya mengajak Nawawy yang tengah mabuk untuk pergi dan berjalan-jalan. Nawawy sendiri tidak pernah bisa menolak. Ia mengakui bahwa kala itu tak ada seorang pun yang bisa menghalangi polah dan ulah buruknya itu. Bahkan encingnya pun dilawan. “Saya selalu bilang, uang yang saya pakai kan uang saya, yang minum juga saya,” timpal Nawawy. Tapi kalau sudah didatangi kakandanya yakni Ustadz Rahmat sang adik merasa seperti dihipnotis, seketika ia berhenti dari ulahnya dan naik ke atas motor tuanya.Ustadz Rahmat juga gemar membawanya jalan-jalan, terkadang ke Taman Ismail Marzuki (TIM), ya itulah tempat pelarian yang Ustadz Rahmat sarankan kepada adiknya. “Di sini ada drama, ada bela diri ada banyak lagi yang positif,” nasihat Ustadz Rahmat selaku kakanda.

Kadang Nawawy juga dibawa ke Cikoko, ke tempat sebuah padepokan silat. Tidak berhenti sampai di situ, untuk menghindarkan pergaulan Nawawy dengan lingkungan, ustadz Rahmat memasukkannya ke kursus Pusgrafin (Pusat Grafika Indonesia). “Waktu itu namanya PGI, saya kursus beberapa bulan,” kenang Nawawy.

Pernah suatu hari Nawawy menampar anak tetangga. Kakak ipar anak itu marah. Karena lebih besar dan tidak bisa melawan, akhirnya Nawawy mengambil pisau dan menunggu di depan rumahnya. “Setelah ustadz datang, ia menarik saya pulang. Saya pun menurut begitu saja.”Nawawy juga mengisahkan kejadian lain, “Saya pernah gebukin tiga orang di RT4/4. Tak lama saya diajak pulang ustadz. Katanya, ‘Luka tamparan kamu itu besok juga hilang tapi hatinya tidak bisa. Meskipun kamu minta maaf mungkin di depan dimaafin karena takut, tapi hati sangat membekas lukanya. Itu minta amal kamu di akhirat, itupun kalau amalnya banyak. Ini kata-kata yang sangat membekas hingga saat ini.

“Semua drama-drama hidup itu masih harus dijalani dengan segala upaya untuk bisa mencari nafkah. Di antaranya, melalui usaha sablon. Sebelumya, ayah mereka mewariskan usaha mesin cetak Hand-Press. Tetapi kemudian, mereka ingin menjalankan usaha sablon. Waktu itu masih langka. “Buku tentang sablon itu diterjemahkan ustaz Rahmat. Bukunya berbahasa Inggris. Belum ada terjemahannya. Karena kita ingin bisa nyablon maka dibelilah buku itu di Senen, Gunung Agung. Dan biasanya kita setelah buku ini diterjemahkan.”Usaha itu mereka namakan ARACO (Abdullah, Rahmah/Rahmat/Rahmi Company).

Ustadz Rahmatlah yang biasa mencari order. Kesibukan baru mulai mengisi hari-hari Nawawy. Tapi pergulatan batin belum usai. Candrarasa cinta Ustadz Rahmat kepada adiknya tak pernah pupus dan terhapus, meski  perih dan getir ia tetap mencintainya sepenuh hati, lebih dari sekadar rasa cinta seorang kakak yang mencoba menyeduhkan perhatian, tetapi cinta seorang hamba Allah yang mempunyai keyakinan, bahwa ia harus berbagi manisnya jalan yang sama dengan saudara kandungnya: jalan orang-orang beriman. Oleh karenanya berbagai upaya ia lakukan. Termasuk menuliskan surat khusus, melalui pos, yang ia kirim dari Tebet, saat ia tinggal di daerah sana untuk sebuah keperluan.

Jakarta, 19 Rabi’ul Awwal 1399 H

16 Februari 1979 M

Ke hadapan
Saudaraku A. Nawawy
Di Jakarta

 
(dengan saduran kalimat secukupnya, tanpa mengubah alur kisah)
 
Jogja, 18 Januari 2014
Atsabita Ramadhan
Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 18 Januari 2014 in Tarbiyah

 

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: