RSS

Cahaya Rindu pada Ibu

07 Feb

happy-muslim-family-cartoon-3-gambar-kartun-muslim-ibu-dan-anak

Bersinar kau bagai cahaya
Yang selalu beri ku penerangan
Selembut cinta kasihmu kan
Selalu ku rasa dalam suka dan duka

Kaulah ibuku cinta kasihku
Terima kasihku takkan pernah terhenti
Kau bagai matahari yang selalu bersinar
Sinari hidupku dengan kehangatanmu

Bagaikan embun kesejukan hati ini
Dengan kasih sayangmu
Betapa kau sangat berarti
Dan bagiku kau takkan pernah terganti

Kaulah ibuku cinta kasihku
Terima kasihku takkan pernah terhenti
Kau bagai matahari yang selalu bersinar
Sinari hidupku dengan kehangatanmu

Kaulah ibuku cinta kasihku
Pengorbananmu sungguh sangat berarti
Kaulah ibuku cinta kasihku
Terima kasihku takkan pernah terhenti
Kau bagai matahari yang selalu bersinar
Sinari hidupku dengan kehangatanmu

(“Ibu” oleh Haddad Alwy dan Farhan)

Sepenggal lirik di atas tampaknya teramat syahdu bila didengar oleh seorang anak yang tengah membendung rindu pada ibunya. Rasa rindu yang diselimuti kekaguman akan sosok malaikat dunia ini. Perjuangan, pengorbanan dan ketulusan cintanya memang tiada banding. Teman-teman pasti pernah mengalami kenangan-kenangan yang tak terlupakan bersama ibu kaliankan? Entah kenangan saat berpeluh bersama, memasak bersama, tertawa bersama atau berpetualang bersama, yang pasti kenangan bersamanya adalah kenangan manis yang tak mudah lekang begitu saja.

Pernahkah teman-teman terbangun dari tidur di tengah malam karena memimpikan ibu kita sedang sakit atau tertimpa suatu hal yang buruk? Kalau pernah, barangkali secepat kilat kita akan bangkit dari baringan, lantas mengucap istighfar dan menghampiri ibu kita dan sejurus kemudian segera memeluk tubuhnya. Seorang ibu memang memiliki ikatan yang teramat kuat dengan anaknya, sejak kita berada dalam rahim pun kasih sayangnya sudah dapat kita rasakan melalui  nutrisi yang dikonsumsi oleh ibu kita dan sari patinya tersalurkan ke tubuh kita yang masih berbentuk janin. Pun hal yang sama juga pasti pernah dialami oleh seorang ibu yang baru saja memimpikan anaknya. Di suatu pagi dini hari ibu pernah meneleponku dan tiba-tiba menanyakan keadaanku dengan penuh kekhawatiran. Padahal saat itu aku baru ditinggal pergi sebentar, ya baru satu hari saja, eh rupanya ibu sudah khawatir begitu, usut punya usut rupanya ibu baru saja memimpikan kalau terjadi sesuatu padaku.

Hati-hati juga akan nasihat dan kata-kata ibu kita, karena ucapannya bisa menjadi doa. Saat kita masih kecil tentu kita pernah mengalami masa-masa bandel, ngeyel dan rewel, kalau sudah begitu ibu akan berusaha mengarahkan kita agar tidak nakal dan menuruti nasihat-nasihatnya. Namun namanya anak tetap saja jiwa keingintahuan dan hiperaktifnya sulit dikendalikan. Bisa jadi suatu ketika kita nekat pergi jalan-jalan atau main ke rumah teman tanpa izin padahal sebelumnya ibu sudah memperingatkan untuk segera pulang dan tidak boleh main terlalu lama dikarenakan seorang anak harus banyak istirahat. Pada ujungnya benar deh, di jalan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan mulai dari ban yang gembes atau sepedanya nabrak tiang atau malah dikejar anjing.. banyak lah ya..

Teman-temanku yang baik, seorang Ibu sudah sepantasnya kita bahagiakan, kita banggakan dengan mendoakannya, dengan membantu meringankan pekerjaan hariannya. Ibu adalah pelita bagi anak-anaknya, di mana saja seorang anak berada sesungguhnya hati seorang ibu selalu mengingatinya, seperti embun pagi yang merindu akan hadirnya matahari, seperti mentari yang menghangatkan bumi, seperti langit yang menanti warna indah pelangi. Ibu adalah cinta pertama bagi anaknya, cinta pertama setelah kecintaan mutlak pada Tuhan dan junjungannya. Ya, sama halnya bagi seorang ibu, cintanyalah yang pertama menyapa kita. Tiada jeda, tiada jarak, tiada hamparan sesal meski kala melahirkan kita tentu penuh rasa sakit.

Ibu bagai malaikat dunia yang memberi kelembutan dan sayap harapan ketika kita tengah terpuruk, membenarkan segala asa, memberi semangat pada jiwa dan membeningkan segala prasangka. Lantunan doanya terseduh mesra penuh harap pada Tuhan, agar Tuhan senantiasa memberikan Cinta-Nya bagi kita, telapak kakinya adalah Surga, keridhaannya adalah kunci terbukannya pintu keridhaan Tuhan, seorang ayah bahkan tak akan pernah mampu menggantikan peran sosok ibu, betapapun perjuangan seorang ayah penuh peluh dan tetesan keringat.

Ibu kita seperti cahaya bagi kita, cahaya yang senantiasa memberi kasih sayang melebihi siapa pun di dunia ini. Cahaya yang membuat Nabi kita meyebut namanya tiga kali tersebab perintah dari Tuhan. Pantaslah kita membalas kasih sayang seorang ibu dengan sebenar-sebenar ketulusan, sebenar-benar keikhlasan hingga segala rasa rindu tersampaikan padanya. Doa jangan berhenti untuk selalu dipanjatkan, karena Tuhan menyayangi hamba-Nya yang senang mendoakan orangtuanya, untuk ibu khususnya.

Sampaikan salam rindu untuk ibu bahwa anak-anakmu kagum pada ketulusan dan pengorbananmu…

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 7 Februari 2014 in E Keluarga dan Parenting

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: