RSS

Demokrasi, Islam dan Renunganku

12 Feb

SAYA BERUSAHA MENGUTIP DARI ORANG YANG LEBIH BERILMU DARIPADA SAYA

semoga ini mencukupi:

Demokrasi Dalam Pandangan Syariat

Saat ini umat Islam dihadapkan pada kenyataannya bahwa khilafah Islamiyah yang tadinya besar itu telah dipecah-pecah oleh penjajah menjadi negeri kecil-kecil dengan sistem pemerintahan yang sekuler. Namun mayoritas rakyatnya Islam dan banyak yang masih berpegang teguh pada Islam. Sedangkan para penguasa dan pemegang keputusan ada di tangan kelompok sekuler dan kafir, sehingga syariat Islam tidak bisa berjalan. Karena mereka menerapkan sistem hukum yang bukan Islam dengan format sekuler dengan mengatasnamakan demokrasi.

Meski prinsip demokrasi itu lahir di barat dan begitu juga dengan trias politikanya, namun tidak selalu semua unsur dalam demokrasi itu bertentangan dengan ajaran Islam. Bila kita jujur memilahnya, sebenarnya ada beberapa hal yang masih sesuai dengan Islam. Beberapa diantaranya yang dapat kami sebutkan antara lain adalah :

Prinsip syura (musyawarah) yang tetap ada dalam demokrasi meski bila deadlock diadakan voting. Voting atau pengambilan suara itu sendiri bukannya sama sekali tidak ada dalam syariat Islam. Begitu juga dengan sistem pemilihan wakil rakyat yang secara umum memang mirip dengan prinsip ahlus syuro. Memberi suara dalam pemilu sama dengan memberi kesaksian atas kelayakan calon. Termasuk adanya pembatasan masa jabatan penguasa. Sistem pertanggung-jawaban para penguasa itu di hadapan wakil-wakil rakyat. Adanya banyak partai sama kedudukannya dengan banyak mazhab dalam fiqih.

Namun memang ada juga yang jelas-jelas bertentangan dengan syariat Islam, yaitu bila pendapat mayoritas bertentangan dengan hukum Allah. Juga praktek-praktek penyelewengan para penguasa serta kerjasama mereka dalam kemungkaran bersama-sama dengan wakil rakyat. Dan yang paling penting, tidak adanya ikrar bahwa hukum tertinggi yang digunakan adalah hukum Allah SWT. Namun sebagaimana yang terjadi selama ini di dalam dunia perpolitikan, masing penguasa akan mengatasnamakan demokrasi atas pemerintahannya meski pelaksanaannya berbeda-beda atau malah bertentangan dengan doktrin dasar demokrasi itu sendiri.

Sebagai contoh, dahulu Soekarno menjalankan pemerintahannya dengan gayanya yang menurut lawan politiknya adalah tiran, namun dengan tenangnya dia mengatakan bahwa pemerintahannya itu demokratis dan menamakannya dengan demokrasi terpimpin.

Setelah itu ada Soeharto yang oleh lawan politiknya dikatakan sebagai rezim yang otoriter, namun dia tetap saja mengatakan bahwa pemerintahannya itu demokratis dan menamakannya demokrasi pancasila. Di belahan dunia lain kita mudah menemukan para tiran rejim lainnya yang nyata-nyata berlaku zalim dan membunuh banyak manusia tapi berteriak-teriak sebagai pahlawan demokrasi. Lalu sebenarnya istilah demokrasi itu apa ?

Istilah demokrasi pada hari ini tidak lain hanyalah sebuah komoditas yang sedang ngetrend digunakan oleh para penguasa dunia untuk mendapatkan kesan bahwa pemerintahannya itu baik dan legitimate. Padahal kalau mau jujur, pada kenyataannya hampir-hampir tidak ada negara yang benar-benar demokratis sesuai dengan doktrin dasar dari demokrasi itu sendiri.

Lalu apa salahnya ditengah ephoria demokrasi dari masyarakat dunia itu, umat Islam pun mengatakan bahwa pemerintahan mereka pun demokratis, tentu demokrasi yang dimaksud sesuai dengan maunya umat Islam itu sendiri.
Kasusnya sama saja dengan istilah reformasi di Indoensia. Hampir semua orang termasuk mereka yang dulunya bergelimang darah rakyat yang dibunuhnya, sama-sama berteriak reformasi. Bahkan dari sekian lusin partai di Indonesia ini, tidak ada satu pun yang tidak berteriak reformasi. Jadi reformasi itu tidak lain hanyalah istilah yang laku dipasaran meski -bisa jadi- tak ada satu pun yang menjalankan prinsipnya.

Maka tidak ada salahnya pula bila pada kasus-kasus tertentu, para ulama dan tokoh-tokoh Islam melakukan analisa tentang pemanfaatan dan pengunaan istilah demokrasi yang ada di negara masing-masing. Lalu mereka pun melakukan evaluasi dan pembahasan mendalam tentang kemungkinan memanfaatkan sistem yang ada ini sebagai peluang menyisipkan dan menjalankan syariat Islam.

Hal itu mengingat bahwa untuk langsung mengharapkan terwujudnya khilafah Islamiyah dengan menggunakan istilah-istilah baku dari syariat Islam mungkin masih banyak yang merasa risih. Begitu juga untuk mengatakan bahwa ini adalah negara Islam yang tujuannya untuk membentuk khilafah, bukanlah sesuatu yang dengan mudah terlaksana.

Jadi tidak mengapa kita sementara waktu meminjam istilah-isitlah yang telanjur lebih akrab di telinga masyarakat awam, asal di dalam pelaksanaannya tetap mengacu kepada aturan dan koridor syariat Islam. Bahkan sebagian dari ulama pun tidak ragu-ragu menggunakan istilah demokrasi, seperti Ustaz Abbas Al-`Aqqad yang menulisbuku Ad-Dimokratiyah fil Islam. Begitu juga dengan ustaz Khalid Muhammad Khalid yang malah terang-terangan mengatakan bahwa demokrasi itu tidak lain adalah Islam itu sendiri.

Semua ini tidak lain merupakan bagian dari langkah-langkah kongkrit menuju terbentuknya khilafah Islamiyah. Karena untuk tiba-tiba melahirkan khilafah, tentu bukan perkara mudah. Paling tidak, dibutuhkan sekian banyak proses mulai dari penyiapan konsep, penyadaran umat, pola pergerakan dan yang paling penting adalah munculnya orang-orang yang punya wawasan dan ekspert di bidang ketata-negaraan, sistem pemerintahan dan mengerti dunia perpolitikan.

Dengan menguasai sebuah parlemen di suatu negara yang mayoritas muslim, paling tidak masih ada peluang untuk menghanifkan wilayah kepemimpinan dan mengambil alihnya dari kelompok anti Islam. Dan kalau untuk itu diperlukan sebuah kendaraan dalam bentuk partai politk, juga tidak masalah, asal partai itu memang tujuannya untuk memperjuangkan hukum Islam dan berbasis masyarakat Islam. Partai harus ini menawarkan konsep hukum dan undang-undang Islam yang selama ini sangat didambakan oleh mayoritas pemeluk Islam. Dan di atas kertas, hampir dapat dipastikan bisa dimenangkan oleh umat Islam karena mereka mayoritas. Dan bila kursi itu bisa diraih, paling tidak, secara peraturan dan asas dasar sistem demokrasi, yang mayoritas adalah yang berhak menentukan hukum dan pemerintahan.

Umat Islam sebenarnya mayoritas dan seharusnya adalah kelompok yang paling berhak untuk berkuasa untuk menentukan hukum yang berlaku dan memilih eksekutif (pemerintahan). Namun sayangnya, kenyataan seperti itu tidak pernah disadari oleh umat Islam sendiri

Tanpa adanya unsur umat Islam dalam parlemen, yang terjadi justru di negeri mayoritas Islam, umat Islammnya tidak bisa hidup dengan baik. Karena selalu dipimpin oleh penguasa zalim anti Islam. Mereka selalu menjadi penguasa dan umat Islam selalu jadi mangsa. Kesalahannya antara lain karena persepsi sebagian muslimin bahwa partai politik dan pemilu itu bid`ah. Sehingga yang terjadi, umat Islam justru ikut memilih dan memberikan suara kepada partai-partai sekuler dan anti Islam.

Karena itu sebelum mengatakan mendirikan partai Islam dan masuk parlemen untuk memperjuangkan hukum Islam itu bid`ah, seharusnya dikeluarkan dulu fatwa yang membid`ahkan orang Islam bila memberikan suara kepada partai non Islam. Atau sekalian fatwa yang membid`ahkan orang Islam bila hidup di negeri non-Islam.

Partai Islam dan Parlemen adalah peluang Dakwah :
Karena itu peluang untuk memperjuangkan kursi di parlemen adalah peluang yang penting sebagai salah satu jalan untuk menjadikan hukum Islam diakui dan terlaksana secara resmi dan sah.

Tentu saja jalan ke parlemen bukan satu-satunya jalan untuk menegakkan Islam, karena politik yang berkembang saat ini memang penuh tipu daya. Lihatlah yang terjadi di AlJazair, ketika partai Islam FIS memenangkan pemilu, tiba-tiba tentara mengambil alih kekuasaan. Tentu hal ini menyakitkan, tetapi bukan berarti tidak perlu adanya partai politik Islam dan pentingnya menguasai parlemen. Yang perlu adalah melakukan kajian mendalam tentang taktik dan siasat di masa modern ini bagaimana agar kekuasaan itu bisa diisi dengan orang-orang yang shalih dan multazim dengan Islam. Agar hukum yang berlaku adalah hukum Islam.

Selain itu dakwah lewat parlemen harus diimbangi dengan dakwah lewat jalur lainnya, seperti pembinaan masyarakat, pengkaderan para teknokrat dan ahli di bidang masing-masing, membangun SDM serta menyiapkan kekuatan ekonomi. Semua itu adalah jalan dan peluang untuk tegaknya Islam, bukan sekedar berbid`ah ria.

Itu saja. Saya kutip dari syariah online.

fraksi-pks-dan-ormas-islam

(gambar: acara silaturahim pimpinan Ormas Islam guna membahas masalah-masalah keumatan- sumber islamedia.com)

Aku sepakat dengan pendapat Ketua Presidium Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia, Priyo Budi Santoso yang menyerukan kepada seluruh komponen bangsa untuk tetap mengikatkan diri pada sikap kekeluargaan, musyawarah, kegotong royongan serta nilai religius. Jangan sampai elemen bangsa terpecah karena adanya gesekan sosial.

Renunganku

Telah terencana jutaan tipu daya yang akan menyerang di luar sana.
Wujud musuh saat ini bukan hanya mereka yang bersenjata, tetapi bisa jadi diri kita sendiri.
Ketika diri dipenuhi oleh perkara permusuhan, ketika diri dipenuhi emosi dan keegoisan.

Ketika kita merasa menjadi golongan terbaik dan unggul dari golongan yang lain.
Bukankah antar umat muslim bersaudara? Bukankah setiap mukmin berhak menentukan jalan hidup mereka?

Kuharap perkara khilafiyah tak menjadikan persaudaraan kita luntur.
Kiranya kau sedia memahami bahwa pilihan adalah perkara kemantapan dan ketulusan amal.

Jalan ini bukan tidak panjang, jalan ini bukan tidak berkelok, namun penuh liku, duri dan batu.
Layaknya sebuah pencarian, kau akan membutuhkan kompas di pencarian itu, kompas iman tak akan menyudutkan saudaranya dalam kehimpitan. Biarkan saja ia melangkah. Mengabdi sesuai yang ia yakini.

Jika kau meyakini kita bersaudara, kiranya kau mau mengerti hal ini, kami bukan tak mau mendengar, bukan jua menjauh atau bahkan menghilangkan jejakmu dalam pencarian jalan ini. Tentu tidak saudaraku..
Kiranya kau mau memahami bahwa setiap dari kita butuh perjuangan, ketenangan, butuh konsistensi dan kesabaran tika telah bertetap dalam sebuah jalan yang ia pilih.

Benar kaki ini pun pernah mencicipi ranah kalian. Namun kembali lagi, Allah lah sejatinya penetap hati. Hati kami bertahan di sini, dalam jama’ah ini dan ingin terus berjuang dan mengabdi di sini. Inilah jalan kami yang menurut istikharah kami paling ideal untuk kami berdakwah.

Saudara kami yang disayang Allah. Tujuan akhir kita sama bukan?

‘Uztadziyatul Alam’,

hanya jalurnya saja yang berbeda,
kami mencoba berikhtiar dari sentuhan grass root sembari membenahi parlemen.
Apa jadinya jika kita tak mau berpolitik? politik memang dunia yang dekat dengan kekotoran, tetapi jika dari kita tetap berdiam, maka politik di negeri ini akan semakin kotor, Indonesia akan semakin dikuasai oleh para penguasa sekuler. Saudaraku, kau pasti tahu, kita pernah mempelajari bahwa bangsa Indonesia terlahir dari tangan-tangan para pahlawan, dari budaya yang sangat erat di dalamnya.

Kami tahu, kalian pasti lebih tahu. Kita saat ini tengah berada dalam kekalutan perang pemikiran (ghowzul fikr) yang saling berlomba mencari mangsa, mereka bahkan menyerang ke berbagai lini tanpa tersisa, berbagai ranah dan ideologi. Sudah bersyukur ritual budaya seperti penyembelihan yang menjadikan kepala manusia sebagai korban telah bergeser. Sudah bersyukur musik-musik hedonisme yang mendewakan satanisme sudah diwarnai dengan nasyid haroqi atau minimal musik islami. Bersyukur film-film seperti 2012, almagedo, pacivic crime, avenger aliens yang mengandung misi tersirat semacam brain washing itu masih ditandingi dengan film-film sejenis Hafalan Sholat Delisa hingga film The Messenger.

Saudara kami yang disayang Allah.
Kiranya kau menghargai jalan kami.. kiranya kau memahami ikhtiar kami, di mana usaha dalam menyusun sebuah batu bata yang kokoh dari membentuk pribadi muslim, baitul muslim, mujtami’ muslim, hukumah islamiyah, daulah islamiyah, khilafah islamiyah,hingga uztadziatul-Alam adalah sebuah proses yang teramat panjang dan penuh perjuangan merupakan petunjuk dari Allah Ta’ala tentunya kau akan sangat mengerti.

Berjalan saja bersama pilihan kita masing-masing. Berfastabiqul khoirot saja dengan cara kita masing-masing. Selama itu masih dalam ahlul sunnah wal jama’ah kiranya tak perlu ada percecokan yang berkepanjangan.

Kami berjuang, kau berjuang.. berjuanglah dengan etika yang baik. Kami tak akan menyerangmu, namun kami akan berjuang bersama jama’ah kami, bersama Allah yang membimbingnya. Insyaa Allah.

Pancangkan azzam kita, kuatkan tekad kita. Mantapkan hati kita. Mari berlomba dalam membangun negeri untuk kebaikan umat, untuk melawan kemiskinan dan kebobrokan. Karena kami pernah belajar dari guru kami, ustadz Rahmat Abdullah: “Di antara sekian jenis kemiskinan yang paling memprihatinkan adalah kemiskinan azzam dan tekad”. Allah Ghoyatuna!

Saudaraku yang dirindu surga, Di surga nanti Insyaa Allah akan  kita rasakan manisnya persaudaraan, di mana setiap penghuninya tidak ada yang membeda-bedakan berdasarkan ras, suku, golongan, ataupun status sosial, yaitu bagi mereka yang mau menghadirkan kualitas hidup surgawinya salah satunya dengan terus berfastabiqul khoirat menurut keyakinaan, niat yang benar dan ittiba’ pada Rasulnya.. Insyaa Allah di sana akan kita temui saudara kita dari HTI, salafy, JT dan sebagainya. Kita masih satu aqidah bukan.. ? 🙂 Kita tidak akan saling mengkafirkn bukan?

Ya, karena Allah lah tujuan kita..

Aku rindu di mana umat bersatu, di mana setiap harakah Islam bersatu bersama untuk memikirkan kejayaan islam dan memayungi seluruh masyarakat.. ya, aku masih punya mimpi di sana saudariku..

bersatu umat islam a harokah

Bumi ALLAH,

Yang masih belajar dalam lingkaran tarbiyyah
Asni Ramdani

Saudara kita terus bergerak di sana, semoga menjadi renungan kita bersama..

mejadi lecutan untuk ikut bergerak bersama 🙂

Allahu a’lam

Astaghfirullah hal’adzim

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 12 Februari 2014 in Tarbiyah

 

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: