RSS

Milad dalam kabung dan rasa syukur

08 Mar

tumblr_mpqhjx3ERE1rsz7rso1_1280
Maha Sempurna Allah yang menyeduhkan rahmat agarku bersyukur, menghadirkan malam untukku bertafakur, mengembalikan siang dalam kasih sayang. Ya Allah iringi aku dalam bersujud dan mencari keberkahan.

Jumat, 7 maret 2014 – Alhamdulillah, bersyukur rasanya Allah masih memberiku kehidupan dalam limpahan rahmah dan karunia-Nya. Tak terasa 22 tahun sudah usiaku. Seperti teori yang terkaji dalam ilmu psikologi perkembangan, 21 tahun adalah tingkatan remaja akhir dan di usia ke-22 merupakan masa menginjaknya kedewasaan seseorang. Namun sebenarnya bukan itu yang ingin kutekankan, melainkan sebuah pertanyaan: apakah di bilangan usia ini aku pantas dikatakan dewasa di hadapan Allah? Dewasa dalam mengambil sikap dan menerjemahkan setiap nasihat kehidupan.

Ada yang berbeda dengan milad kali ini, Allah menghadiahiku akan peringatan hakikat nyata kehidupan seseorang di dunia. Dini hari kemarin, di mana kuberharap air mataku terjatuh dalam hening malam dan kebahagiaan, rupanya Allah berkehendak lain. Air mata menjadi sebuah derai renungan yang teramat dalam, sedikit bergetar kala ku membaca kabar duka kematian. Kematian seorang ibu. Memang sebenarnya aku tak terlalu mengenalnya, namun setiap mendengar kabar kematian seakan mengingatkanku akan betapa fananya dunia ini.

Kematian adalah satu-satunya jalan menuju keabadian hidup di akhirat. Sebuah kejadian di mana ruh dan jasad berpisah, lalu setiap jiwa akan mendapatkan balasan akan amal-amalnya. Takut rasanya, takut pada Allah Yang Maha Agung – takut akan dosa-dosa yang telah menggunung, namun di balik ketakutan itu ada rindu yang begitu dahsyat, rindu untuk berjumpa dengan sederet para mukmin yang telah mendahului kita, rindu untuk berjumpa pada Rabb-nya (Semoga Allah memantaskan kita untuk itu, karena sungguh hanya bersebab kasih sayang-Nya lah kita bisa memperoleh tiap syafaat)

Selain kematian, hari itu aku belajar akan sebuah makna kesetiaan. Damai rasanya saat mendengar kata ‘setia’. Bukan tentang seseorang yang memberi kesetiaan karena kesetiaan sejati hanya milik Allah. Namun tentang bagaimana kebaikan Allah akan makna setia itu dihadirkan dalam hati hamba-hambanya. Aku memang belum lama mengenal, bahkan mungkin aku bukan siapa-siapa baginya. Beliau adalah seorang ibu yang kuceritakan baru saja meninggal dini hari tadi. Belum terlalu lama, tepatnya 5 mingguan silam. Beliau juga baru saja ditinggal mati suaminya. Ibu itu adalah sosok yang cukup tabah, begitu kata sebagian kawanku, dan memang benar suatu ketika saat aku diberi kesempatan untuk berkunjung ke rumah beliau, meski hanya sejenak beliau sempat menyampaikan cerita-ceritanya padaku.

Saat itu menjelang sholat maghrib ada beberapa perkataan yang masih aku ingat, yang intinya begini: “Tenan Mbak, ditinggal bojo ki rasane sedih, wingi pas isih bareng seneng rame masalah obat,” – Sungguh mbak, ditinggal suami itu rasanya sedih sekali, kemarin saat masih bersama senang ramai (ramai candanya suami istri ) perihal obat. Aku terus mendengarkan cerita beliau dan dapat kusimpulkan bahwa beliau begitu rindu dan hormat pada pendampingnya yang sudah lebih dulu menghadap Allah, meski begitu beliau cukup tabah.

Ibu itu menurutku adalah ibu yang luar biasa, karena dari rahimnya telah lahir putra-putri yang pintar dan shalih. Salah satu putra beliau adalah senior di komunitasku, dan aku cukup banyak memetik pelajaran dari apa-apa yang beliau sampaikan. Hari Kamis, satu hari sebelum miladku, sorenya aku dan teman-teman berkunjung ke rumah senior tersebut, karena beliau akan kembali melanjutkan studinya dan berjumpa pada keluarga beliau. Saat akan berpamitan ada rasa ingin untuk kuberjumpa lagi pada Ibu beliau, ingin pamit, namun merasa rikuh – nggak enak, karena kondisi yang kurang mendukung saat itu. Saat perjalanan pulang ingatanku sedikit terlintas akan ibu tersebut, akan cerita-cerita hikmahnya yang tentu menjadi pelajaran ketika ku telah berkeluarga nanti.

Kebetulan hari – hari ini aku tengah banyak merenung, membaca akan hakikat kehidupan, cinta dan kematian, dan di saat yang sama Allah menghadirkan sebuah implikasi nyata dari hal-hal yang tengah kubaca dan renungi tersebut. Melalui ibu itu saya memetik pembelajaran, untuknya kumembuatkan sepotong sajak.- semoga tak berlebihan.

Surga merindu orang-orang yang saling berkasih sayang karena Allah,
menyatukan mereka yang sempat terpisah, menghilangkan rasa sakit
karena rindu yang belum menemu penawarnya.. 

Surga menanti orang-orang yang saling mencinta karena Allah, 
Yang menjadikan sabar sebagai penyelamat, yang menjadikan ikhlas sbg penguat..

Alam selalu berbisik pada hening,
mengajaknya bertasbih pada Sang Kekasih
Menyulam rindu dalam syahdu,
Malam ini, Jumat penuh berkah Allah telah menyembuhkan rasa rindu itu Ibu..

Ibu Shalihah yang tabah dan setia pada Imamnya.
Ibu Shalihah yang pandai mendidik putra-putrinya,
Semoga Khusnul khotimah dan Allah menghimpunnya dalam Jannah. 

Aamiin.

Jumat yang bersamaan dengan tanggal lahirku itu menjadi hari terakhir hembusan nafas sang ibu. Aku tak ingin menjadikan hari miladku saat itu spesial, karena hari itu adalah saatku berkabung, lagi pula sebenarnya setiap hari adalah spesial karunia Allah. Pagi itu aku dan teman-teman sempat melayat dan mendoakan beliau, lantas kulanjutkan aktivitasku. Kembali kuambil pelajaran saat bertemu dengan wajah-wajah binaan adik-adik SMP. Mereka adalah adik-adik yang ceria dan pintar, bahkan argumentasi dan pertanyaan-pertanyaannya seringkali kritis dan membuatku ingin terus belajar. Saat itu kami mengupas tentang kasih sayang dan birrul walidain di dalamnya. Ada sebuah pertanyaan yang masih kuingat dari salah seorang adik: “Mbak Asni, yang dimaksud mencintai karena Allah itu bagaimana?” Aku diam sejenak, lalu coba kujawab yang intinya seperti ini:

“Mencintai karena Allah itu ketika kita mengekspresikan rasa tersebut dengan mengarahkan yang kita cintai untuk lebih mencintai Allah dek, seperti cinta ibu dan ayah kita yang menginginkan kita jadi anak-anak shalih dan shalihah.”

Mereka lantas balik bertanya: “Mbak kalau aku cinta sama temen laki-laki gimana?”

Pertanyaan klasik remaja, terlebih bagi anak SMP aksel seperti mereka, pertanyaan to the point seperti itu cukup maklum bagiku. Aku sedikit tersenyum, mencoba menatap mata adik tadi yang terlihat tersipu malu.

“Cinta itu fitrah, tapi bisa jadi fitnah dek kalau kita tak pandai menempatkannya”, adik itu tampak bingung lalu coba kujelaskan bahwa tak setiap yang kita rasa harus diungkapkan. Aku mencoba menyampaikan dengan bahasa mereka bahwa cinta tertinggi adalah tingkat keyakinan kita pada Allah. Bertawakal adalah bagian dari ekspresi cinta, aku mengajak mereka agar dapat menyerahkan rasa tersebut pada Allah dan mentransformasikannya menjadi sebuah semangat dalam beribadah dan belajar.

Pulang forum, Allah lagi-lagi mendidikku akan makna kebahagiaan dalam bingkai kesederhanaan. Senang rasanya saat membuka pintu rumah, keluargaku lengkap menyambutku, hidangan makanan tersaji lengkap, lagi-lagi kumaknai bukan menu makannya yang membuatku senang, tapi kala kami dapat berkumpul dan berkisah bersama. Makan bersama dari menu masakan yang langsung dibuat oleh kakakku. Ibu pun lebih ceria dari hari-hari biasanya. Apa karena ini miladku? atau karena adanya kado? emm, sebenernya berkumpul dan berkisah bersama mereka sudah lebih berarti daripada kado apapun.

Setelah itu, aku ke markas jalan gambiran, kenapa disebut markas? karena di sana kami biasa bekerja dan belajar bersama. Ah, yang ini aku tak tahu harus bercerita apa, yang pasti bekerja dan mengerjakan amanah adalah bagian dari cerita itu sendiri.

Memaknai milad sebagai renungan, evaluasi, rasa syukur dengan terus bekerja adalah bagian kisah episod di tahun 2014 ini. Sejujurnya masih banyak yang belum kuraih dan kuberikan untuk agama, negeri dan umat. Masih banyak yang harus kuevaluasi selama 22 tahun ini, masih ada mimpi yang terhujam kuat yang hanya bisa kupendarkan dengan doa, ikhtiar dan tawakal.

Bagaimanapun hari milad semoga menjadi barokah dan renungan akan rasa syukurku, melalui peringatan dari Allah, melalui untaian doa dan bentuk hadiah dari teman maupun saudara.

Allah, lembayung kasih-Mu masih kuharap.
Iringi aku dalam setiap langkah
Allah, damai-Mu masih kupinta
Dalam untaian ayat yang kubaca

Sabda-Mu yang amat sempurna
bawaku dalam ketentraman
Yang kucari hanya itu Tuhan
Engkau Ridha dan aku ridha

Dalam setiap jejak kehidupan,
Langkah-langkahku ke depan
Kuyakin kau akan senantiasa limpahkan karunia
Semoga tak lantas buatku jemawa

Karena diri ini amatlah lemah,
Patutnya merenungi akan tiap salah
Allah, bilaku mulai menjauh dari-Mu
Bantu aku untuk kembali
Meniti Jalan yang Kau Ridhai

Biarkan hanya Engkau tempatku berteduh
Mengadu segala gaduh 
Mensyukuri yang telah terseduh

bef6952c29483cdedeadf279b58407bb

Sabtu, 8 Maret 2014.
Atsabita Ramadhan.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 8 Maret 2014 in A Macam kisah dan motivasi

 

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: