RSS

Kepingan Hidup Para Nahkoda

01 Mei

461093_korabl_parusnik_more_1920x1280_www.GdeFon.ru_-750x500

Maha Suci Allah yang masih memberi kita usia untuk memahami hal-hal yang sulit untuk kita pahami. Maha Sempurna Allah yang senantiasa menghadirkan kemudahan setelah kesulitan, memberikan guru untuk belajar dan teman-teman untuk berbagi.

Akhir-akhir ini, aku banyak merenung akan arti sebuah nilai dalam perjalanan hidup. Bila ingat kembali pengalamanku mengenal dakwah, rasanya tak pernah kubayangkan akan berkecimpung dengan dunia politik sedalam ini, mengenal para qiyadah lebih dalam dan menjadi bagian pelayan kendaraan sebuah jalan dakwah.

“Bersyukur,” satu kata yang paling pantas untuk mewakili fantastisnya skenario Allah dalam membawaku mengenal tarbiyah. Dulu aku memang sempat ragu akan kelurusan jalan juang ini. Mengapa? karena mindsetku yang terbentuk saat itu “Islam ya Islam, agama yang bersih, sedangkan politik pada umumnya sebaliknya, dekat dengan hal yang kotor, kekuasaan dan tipu daya, dan kurang layak rasanya kalau agama dipakai sebagai sarana berpartai”. Sebagai seorang siswa dengan seragam putih abu-abunya, waktu aku tahu kalau dakwah ini berhubungan dengan partai, pastilah muncul kegejolakan yang menimbulkan banyak pertanyaan “mengapa” pada benakku. Terlebih aku bukan dari keluarga yang beranut kuat pada sebuah partai dan aku terbiasa loyal dengan berbagai golongan dan lapisan masyarakat yang beragam. Tentu partai berlambang padi dan bulan sabit ini menjadi tantangan tersendiri. Ya, meski begitu, nampaknya takdir Allah telah membawaku untuk terus berpijak di jalan ini dengan kesetiaan menjalani aktivitas tarbiyah, secara otomatis aku pun berkecimpung dengan mereka. Aku cukup mengenal apa-apa yang dikerjakan di kantor partai tersebut, selama ini yang kurasa kami tidak pernah merasa dirugikan, justru aktivitas dakwah ini yang sering mendapat fasilitas dari partai tersebut, dan tak perlu dipungkiri banyak kulihat orang-orang shalih di dalamnya, kekeluargaan dan pergaulannya pun amat terjaga.

Alhamdulillah, momentum pemilu tahun ini sungguh menjawab semua rasa penasaranku dahulu. Salah besar bila dakwah berujung pada partai, tapi partailah yang saat ini menjadi kendaraan berenergi besar untuk memajukan dakwah. Bila banyak orang di luar sana mencibir akan kasus konspirasi besar yang sedang melanda mantan presiden partai ini. Aku justru banyak belajar dari kesabaran dan tingginya tingkat ketawakalan beliau. Aku tidak mengatakan bahwa partai ini adalah partai yang terbaik, begitu juga jama’ah ini, karena kita layaknya kumpulan manusia, tentulah banyak goresan khilaf yang terukir. Meski begitu, aku sering tersentuh dengan kisah perjalanan para kader dalam berjuang untuk umat dan keluarganya.

Semoga kisah ini mampu menjadi renungan kita semua. Ini cerita seorang kader mantan anggota legislative DPRD di sebuah daerah di DIY, beliau menyampaikan bahwa penghasilannya setiap bulan sekitar 8jutaan plus tunjangan, sedang setiap tahun proposal-proposal permohonan dana yang masuk untuk agenda-agenda dakwah hampir 500 juta-an. Jadi penghasilannya ya dipakai untuk itu, sisanya sama beli bensin. Dalam akhir kalimatnya pun beliau menambahkan,”Ya kalau istri nggak kerja, nggak tau hidup dari mana..”. Coba bayangin gimana perasaan kalian? Udah mikir keras buat kesejahteraan rakyat, masih harus banting tulang untuk menghidupi keluarganya.

Kedua, ini hanya potongan cerita dari kebiasaan Ustadz Anis Matta, sebagai seorang pemimpin partai, beliau tentu sangat lelah, pernah suatu ketika saat perjalanan kampanye akbar menuju kota Solo, seharusnya itu waktunya beliau istirahat, namun justru beliau hanya duduk sembari memuraja’ah hafalannya. Ujar beliau, “Ya, beginilah istirahat saya..” Subhanallah.. sosok qiyadah yang amat dekat dengan Rabbnya, hingga kelelahan pun tak dirasa.

Lalu Ustadzah Yoyoh Yusroh, ummahat dengan ketiga belas putranya, saat itu beliau menjabat sebagai salah satu dari ke-empat orang pimpinan Komisi VIII DPR yang membidangi masalah agama, sosial dan pemberdayaan perempuan. Beliau pernah menyampaikan: “Hal yang terpenting untuk menegakkan amar ma ruf ini adalah dengan memberikan contoh secara nyata serta melakukan pendekatan secara persuaif sehingga tidak menimbulkan rasa antipati dari orang lain,”paparnya. Di samping berdakwah, mengenai money politikpun dirinya tidak bergeming sama sekali, bahkan sangat tegas dan berhati-hati. Di sela kesibukannya itu beliau masih saja menjaga tilawahnya minimal 3 juz perhari. MasyaaAllah, bahkan nampaknya kita yang masih punya kelonggaran waktu lebih banyak dari beliau, sangat sulit mengatamkan 3 juz perharinya.

Itu baru secuil cerita yang mungkin bisa kita petik, masih banyak teladan-teladan yang lainnya, seperti kisah teladan anggota DPR-RI dengan 10 putra-putrinya yang menjadi bintang Qur’an, atau perjuangan para caleg yang sampai mengeluarkan segala investasinya hingga hutang kesana-kemari demi kepentingan dakwah, bahkan bisa jadi penghasilannya habis untuk melunasi dan menanggung kegiatan-kegiatan dakwah ke depan. Padahal mereka juga punya keluarga, lalu siapa yang memenuhi kebutuhan hidup mereka? Pernahkah pikiran kita menalar sampai sejauh itu?
Ya, jawabannya hanya satu: Allah.

Jika ditanya tentang kisah-kisah perjuangan para pemimpin dan kader dalam partai ini, jujur aja semalam suntuk pun tak akan cukup untuk kutuliskan, yang aku tahu dakwah ini mengajak kita tidak hanya untuk mengorbankan waktu kita, tenaga, pikiran, materi, tapi juga keluarga, perhatian dan bahkan tempaan-tempaan yang seringkali membuat kita merasa tak kuat untuk terus bertahan.

Teringat pesan seorang ustadz kepada kami sebelum beliau berangkat ke Senayan beberapa hari yang lalu, beliau banyak bercerita bahwasanya jama’ah ini dulunya sangat kecil, namun saat ini Alhamdulillah kadernya sudah semakin pesat. Beliau juga menyampaikan bahwa dakwah ini masih membutuhkan kontribusi, dan Insyaa Allah kita bisa hidup dari kontribusi itu. Saat mendengar cerita bagaimana sekolah-sekolah berbasic tarbiyah, mulai didirikan hingga kini mulai menjamur, dan berbagai lapangan kerja yang terus bertambah tentu semuanya nggak instan. Di samping itu yang kutahu banyak para kader yang dituntun untuk terus mengejar pendidikannya, memperbaiki skillnya tanpa melupakan kodrat mereka sebagai makhluk ciptaan Allah. Bukankah itu salah satu bentuk nyata dari perwujudan perbaikan keadaan masyarakat untuk negeri Indonesia? Jelas bukan, bahwa dakwah ini tidak semata mementingkan kepentingan sepihak, namun upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengusahakan terbentuknya kumpulan umat yang lebih baik.

Begitulah sedikit cuplikan akan manis asam perjalanan para nahkoda dakwah dalam beramar ma’ruf nahi mungkar, semuanya butuh perjuangan yang tidak mudah, dan kunci hidup mereka hanya satu: niat karena Allah, karena niat dekat dengan iman, setelah itu ikhtiar, doa dan tawakkal. Bila ustadz Syatori pernah berkata: “Hidup adalah perjalanan meninggalkan dunia menuju akhirat.” Semoga Allah senantiasa menjaga para nahkoda dakwah ini dalam menjalani hidupnya untuk mencapai cita-cita mulia di akhirat nanti.

aamiin.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 1 Mei 2014 in Tarbiyah

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: