RSS

Arsip Kategori: A Macam kisah dan motivasi

Selamat Hari Ayah Nasional

artikel28-1

Ayah, satu sosok pahlawan yang mengajarkanku pengorbanan dan kesabaran.
Kepala Sekolah dan juga Guru terbaik yang pernah kumiliki selama aku duduk di bangku sekolah kehidupan.

Ayah,..
Terimakasih karena tak pernah lelah menjadi penopang hidup kami, yang senantiasa menanamkan karakter kebaikan.
Terimakasih karena telah membawaku hidup dalam nafas Islam yang mulia.

Selamat hari Ayah Nasional
Bila kelak aku telah pergi, tetaplah menjadi ayah terbaik bagi anak-anakmu.
Dan aku akan  berusaha menjadi puteri terbaikmu..

Aku berjanji untuk hidup dan mati dalam keadaan Islam, ayah..

teriring salam hangat dan doa.
SweetHome,12 November 2015

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 12 November 2015 in A Macam kisah dan motivasi

 

Tag:

Telah Tertulis di Lauh Mahfudz

Bisa jadi muncul pertanyaan, siapa nantinya yang akan memiliki hati ini. Ketika Allah telah menarik semua perasaan yang ada sebelumnya. Hingga tiada lagi sebuah kecenderungan. Di situlah Allah memberikan jawaban bahwa hanya Pada-Nya setiap urusan disandarkan, bahwa Allah ingin agar kita menjadi manusia yang lebih baik lagi.

Tak jarang di tengah perjalanannya akan hadir ujian akan cinta itu sendiri. Di mana kita harus memilih atau menolak.

Risau itu pasti ada.
Kerisauan itu pada akhirnya nanti akan terjawab, karena Takdir-Nya akan jodoh pun telah tertulis di lauh mahfudz

Mungkin saat ini Tuhan ingin melihat kita untuk sama-sama mencari,
mencari pemilik hati itu dalam sujud panjang atau doa-doa di setiap malamnya.

tumblr_lyltplRJyD1qdxa23o1_1280

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada 19 Mei 2015 in A Macam kisah dan motivasi

 

Tag: , ,

Bagiku Kau Bintang

Dengan cinta,
untuk keempat adik yang menginspirasi: Nova, Ririn, Anggun, Novi
Nantilah surprise dari Allah dalam kesabaran dan kerinduan memaknai Firman-Nya,
semoga hasilnya membahagiakan 🙂

Hari ini menjadi hari yang menyenangkan, meski sudah beberapa hari ini aku banyak istirahat di rumah karena sakit. Keluar kalau ke kampus atau agenda penting aja. Sebenarnya bosen juga, untung pagi ini badan udah lumayan bersahabat, dan aku memilih untuk menyapa hari-hariku lagi. Dimulai dengan jalan pagi muterin sekitar komplek karangmalang dan kampus UGM buat nyapa mentari pagi, sekalian nyari keringat biar makin sehat. Siangnya ada janji nemenin adik-adik SMA buat belajar dan diskusi bareng, ah yang ini tentu sayang kalau ditinggal. Kebetulan aku cukup perhatian dengan dunia remaja dan anak-anak. Apalagi mereka pelajar kelas tiga pasti butuh refreshing setelah UN beberapa hari yang lalu.

Sebelum ke TKP aku inget ada pesan dari temen satu club di FLP yang ngajakin makan gratis di warung makannya, kebetulan dia lagi milad dan ngasih gratisan mie ayam buat beberapa hari ini, yaudah sekalian nunggu jam aku main aja ke sana, jadi ni warung makan emang rada unik, selain menu mie ayamnya yang pedes dan bermacam-macam pilihan, pembeli yang dateng pun disajikan beberapa buku menarik untuk dibaca. Berasa warung makan rasa perpustakaan kali. Temenku ini emang cukup kreatif, dia mahasiswa angkatan 2011 tapi nyambi bisnis dan udah bisa ngasih penghasilan buat karyawannya.

Setelah perut terisi, motorku segera meluncur ke TKP,  suatu tempat nyaman di tengah keramaian kota Jogja. Melihat ruangan masih tampak sepi, sembari nunggu aku baca aja mushafku, sesekali buka gadget dan ternyata ada beberapa pesan masuk yang intinya memberitahukan kalau mereka sedang otw. Nggak berapa lama satu adik pun dateng, Ririn namanya. Dia baru dateng langsung curhat masalah UN kimia dan keinginannya buat ngejar beasiswa agar nggak ngerepotin ortunya. Wah, gadis yang berhati mulia 😀 aku mencoba mendengarkan, kita bahas satu per satu. Tak lama Novi dan Nova dateng. Sudah tiga anak nih, emm. sayang beberapa izin. Ya sudah, akhirnya diskusi tentang perkembangan ROHIS pun dimulai, dilanjutkan membahas sedikit tentang pilihan jurusan mereka ke depan. Di tengah diskusi yang menarik, tetiba ada satu adik kelas lagi yang datang, Anggun namanya. Kasihan, gadis manis itu kehujanan. Yah, hujan-hujan gini pasti mereka laper. Aku pun segera mempersilakan mereka untuk makan snack yang sempat kubeli tadi di jalan. Tentu diskusi makin asik dong kalau ada logistiknya.

“Oya Dek, buku SBM yang kamu cari udah ketemu belum” tanyaku ke Anggun.

“Belum e Mbak, ini ntar habis Ashar baru mau liat-liat ke gramedia” kata gadis berjilbab coklat itu.

“Oh yaudah, ntar mbak temenin.. sekalian pengen liat-liat buku.”

Mendengar jawaban itu, ternyata adik-adik yang lain pada pengen ikutan. Wah pasti bakal seru, lagian udah jarang aku jalan bareng adik kelas. Kebetulan kami memang sama-sama suka baca buku, selain itu mereka cukup update info-info berita dan film. Jadi diskusi selalu hidup. Di luar urusan akademik, Ririn dan Anggun lumayan suka nulis, sedang Novi dan Nova suka desain grafis, wah bakat terpendam nih pikirku. Semoga dari hobby bisa jadi rezeki. Satu setengah jam berlalu, aku melihat mereka udah cukup capek, wah.. sayang, padahal habis ini masih ada agenda ke toko buku, nggak seru juga kalau pada loyo. Iseng aja aku tawarin mereka makan gratis mie ayam barbar. Nggak nyangka pada semangat banget.

“Yaa namanya juga pelajar mbak, kita suka lah yang gratis-gratisan gitu..” ujar Anggun sambil nyengir.

Sebelum ke warung makan, kita mampir sebentar ke rumah Nova untuk ambil helm dan pinjam pakaian buat Anggun yang tadi basah kuyup kehujanan. Setelah urusan beres, kita pun segera otw ke tempat mie ayam barbar. Sayang, Novi nggak bisa ikutan karena ada jadwal les, jadi cuma aku bersama 3 sahabat kecilku itu. Hihi.. “sahabat kecil” mirip apa aja ya.. hehe, mereka memang lebih muda, tapi aku berusaha menjadi sahabat buat mereka, agar mereka nyaman dan bisa lebih leluasa saat bertukar cerita. Ada hikmah, saat di warung makan, kami melihat 2 pemandangan yang sangat berbeda, pelakonnya sama-sama anak-anak muda. Pertama, ada 2 orang lelaki sedang eyel-eyelan (perang mulut) di sekitar warung. Kedua, beberapa lelaki tengah cekatan dengan tugasnya masing-masing untuk melayani pembeli, ada juga yang masih di masjid untuk beribadah. Pemandangan itu dilakoni oleh pemuda yang nampaknya usianya tak jauh berbeda, namun, meski di lingkungan yang sama kita tentu bisa mengambil hikmah dari 2 pemandangan tersebut, mana yang kiranya lebih bernilai.

???????????????????????????????

Alhamdulillah, seneng rasanya ngeliat adik-adik pada kenyang dan ceria, setelah makan kita segera ke gramedia. Anggun dan Ririn jalan bareng terus udah lengket gitu kayak perangko, Nova milih ndampingin kakak kelasnya rupanya. Sampai gramedia, ijo deh ni mata, rasanya semua pengen dibeli, haha. namanya juga pecinta buku, padahal entah kalau udah dibeli bakal langsung dikatamin atau disimpen dulu beberapa saat, terpajang manis di rak. Hihi #plaak. gue banget.

Kita berpencar, adik-adik pada nyari buku-buku latihan soal, aku datengin buku yang bertema lain. Mataku tertarik sama bukunya mbak Asma dan Pak Anies Baswedan, tapi kalau beli semua kayaknya terlalu boros, inget beberapa pekan yang lalu baru beli buku yang lain juga. Finally, aku ambil bukunya mbak Asma, judulnya: The Jilbab Traveler. Pas berjalan ke kasir, si Nova keburu ngajakin ke togams. Ya udah sih, sama-sama toko buku pikirku. Nggak lama, kita segera turun dan jalan bentar ke togamas.

Nggak jauh beda seperti di toko sebelumnya, kita sama-sama berpencar sibuk dengan pilihannya masing-masing. Ngeliat ada bukunya Mbak Asma dengan harga yang agak miring, segera deh aku ambil satu. Setelah buku dalam genggaman, Nova menarik tanganku membawa ke stand di mana Ririn dan Anggun melihat-lihat buku pilihannya. Wah.. romantis euy.. Pas banget momentnya. Ini kali pertama, aku jarang bareng mereka ke togamas. Mana sore gini, langit agak-agak mendung, dingin pula. Dan aku sih cuma berbatin, seneng deh bisa jalan bareng adik-adik. Tetiba soundtrack musiknya pas muter lagu Sheila on 7 titlenya: Temani Aku.

C360_2014-05-03-16-38-34-577

Layaknya gelap malam
Yang indah karna bintang

Layaknya sang penyair
Yang elok karna puisi

Temani aku selamanya..

Bagiku kau bintang
Selayaknya puisi
Tetaplah di sini peri kecilku..


Mendengar sepenggal lirik “Temani Aku” karya Sheila On 7 itu seperti membawaku kembali pada masa SMP dulu, beberapa lagu group Band asal Jogja ini memang banyak disenangi kalangan remaja saat itu. Apalagi kali ini mendengarnya bareng orang-orang yang aku sayang, hmm.. samar-samar terdengar mereka ikut melantunkan lagu itu. “Bagiku kau bintang..layaknya puisi.. tetaplah di sini peri kecilku..”. Tanpa sadar, aku pun ikut melantunkan pelan, bahagia bener dah.. kayak masalah dan rasa sakit tiba-tiba ilang plong. Bersyukur bisa menemani mereka di akhir-akhir masa SMA-nya ini. Setelah cukup mencari buku, kami berempat segera pulang, saat berjalan menuju parkiran salah satu dari mereka bilang, “Mbak pekan depan kita kumpul lagi yuk, tapi di perpustakaan kota gimana?”

“Alhamdulillaah” batinku, baru jalan sebentar udah ngerencanain bikin jadwal lagi.

“Ya udah dek, ayok aja.. besok habis mabit ya” jawabku sambil tersenyum. Sore ini kututup hari dengan salam hangat bersama ketiga sahabat kecilku. Wajah mereka yang ceria membuatku ikut bahagia. Sederhana nampaknya, hanya diskusi, bercanda, makan bareng dan ke toko buku bersama. Nggak menghabiskan banyak waktu dan biaya transport, tapi sudah meninggalkan episode manis dalam memori kita.

Tetap cemerlang Dik, seperti bintang dan bait puisi yang mengiringimu dalam doa malam ini.

asik

 Selamat menanti pengumuman hasil SNMPTN 🙂

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 3 Mei 2014 in A Macam kisah dan motivasi

 

Tag:

Milad dalam kabung dan rasa syukur

tumblr_mpqhjx3ERE1rsz7rso1_1280
Maha Sempurna Allah yang menyeduhkan rahmat agarku bersyukur, menghadirkan malam untukku bertafakur, mengembalikan siang dalam kasih sayang. Ya Allah iringi aku dalam bersujud dan mencari keberkahan.

Jumat, 7 maret 2014 – Alhamdulillah, bersyukur rasanya Allah masih memberiku kehidupan dalam limpahan rahmah dan karunia-Nya. Tak terasa 22 tahun sudah usiaku. Seperti teori yang terkaji dalam ilmu psikologi perkembangan, 21 tahun adalah tingkatan remaja akhir dan di usia ke-22 merupakan masa menginjaknya kedewasaan seseorang. Namun sebenarnya bukan itu yang ingin kutekankan, melainkan sebuah pertanyaan: apakah di bilangan usia ini aku pantas dikatakan dewasa di hadapan Allah? Dewasa dalam mengambil sikap dan menerjemahkan setiap nasihat kehidupan.

Ada yang berbeda dengan milad kali ini, Allah menghadiahiku akan peringatan hakikat nyata kehidupan seseorang di dunia. Dini hari kemarin, di mana kuberharap air mataku terjatuh dalam hening malam dan kebahagiaan, rupanya Allah berkehendak lain. Air mata menjadi sebuah derai renungan yang teramat dalam, sedikit bergetar kala ku membaca kabar duka kematian. Kematian seorang ibu. Memang sebenarnya aku tak terlalu mengenalnya, namun setiap mendengar kabar kematian seakan mengingatkanku akan betapa fananya dunia ini.

Kematian adalah satu-satunya jalan menuju keabadian hidup di akhirat. Sebuah kejadian di mana ruh dan jasad berpisah, lalu setiap jiwa akan mendapatkan balasan akan amal-amalnya. Takut rasanya, takut pada Allah Yang Maha Agung – takut akan dosa-dosa yang telah menggunung, namun di balik ketakutan itu ada rindu yang begitu dahsyat, rindu untuk berjumpa dengan sederet para mukmin yang telah mendahului kita, rindu untuk berjumpa pada Rabb-nya (Semoga Allah memantaskan kita untuk itu, karena sungguh hanya bersebab kasih sayang-Nya lah kita bisa memperoleh tiap syafaat)

Selain kematian, hari itu aku belajar akan sebuah makna kesetiaan. Damai rasanya saat mendengar kata ‘setia’. Bukan tentang seseorang yang memberi kesetiaan karena kesetiaan sejati hanya milik Allah. Namun tentang bagaimana kebaikan Allah akan makna setia itu dihadirkan dalam hati hamba-hambanya. Aku memang belum lama mengenal, bahkan mungkin aku bukan siapa-siapa baginya. Beliau adalah seorang ibu yang kuceritakan baru saja meninggal dini hari tadi. Belum terlalu lama, tepatnya 5 mingguan silam. Beliau juga baru saja ditinggal mati suaminya. Ibu itu adalah sosok yang cukup tabah, begitu kata sebagian kawanku, dan memang benar suatu ketika saat aku diberi kesempatan untuk berkunjung ke rumah beliau, meski hanya sejenak beliau sempat menyampaikan cerita-ceritanya padaku.

Saat itu menjelang sholat maghrib ada beberapa perkataan yang masih aku ingat, yang intinya begini: “Tenan Mbak, ditinggal bojo ki rasane sedih, wingi pas isih bareng seneng rame masalah obat,” – Sungguh mbak, ditinggal suami itu rasanya sedih sekali, kemarin saat masih bersama senang ramai (ramai candanya suami istri ) perihal obat. Aku terus mendengarkan cerita beliau dan dapat kusimpulkan bahwa beliau begitu rindu dan hormat pada pendampingnya yang sudah lebih dulu menghadap Allah, meski begitu beliau cukup tabah.

Ibu itu menurutku adalah ibu yang luar biasa, karena dari rahimnya telah lahir putra-putri yang pintar dan shalih. Salah satu putra beliau adalah senior di komunitasku, dan aku cukup banyak memetik pelajaran dari apa-apa yang beliau sampaikan. Hari Kamis, satu hari sebelum miladku, sorenya aku dan teman-teman berkunjung ke rumah senior tersebut, karena beliau akan kembali melanjutkan studinya dan berjumpa pada keluarga beliau. Saat akan berpamitan ada rasa ingin untuk kuberjumpa lagi pada Ibu beliau, ingin pamit, namun merasa rikuh – nggak enak, karena kondisi yang kurang mendukung saat itu. Saat perjalanan pulang ingatanku sedikit terlintas akan ibu tersebut, akan cerita-cerita hikmahnya yang tentu menjadi pelajaran ketika ku telah berkeluarga nanti.

Kebetulan hari – hari ini aku tengah banyak merenung, membaca akan hakikat kehidupan, cinta dan kematian, dan di saat yang sama Allah menghadirkan sebuah implikasi nyata dari hal-hal yang tengah kubaca dan renungi tersebut. Melalui ibu itu saya memetik pembelajaran, untuknya kumembuatkan sepotong sajak.- semoga tak berlebihan.

Surga merindu orang-orang yang saling berkasih sayang karena Allah,
menyatukan mereka yang sempat terpisah, menghilangkan rasa sakit
karena rindu yang belum menemu penawarnya.. 

Surga menanti orang-orang yang saling mencinta karena Allah, 
Yang menjadikan sabar sebagai penyelamat, yang menjadikan ikhlas sbg penguat..

Alam selalu berbisik pada hening,
mengajaknya bertasbih pada Sang Kekasih
Menyulam rindu dalam syahdu,
Malam ini, Jumat penuh berkah Allah telah menyembuhkan rasa rindu itu Ibu..

Ibu Shalihah yang tabah dan setia pada Imamnya.
Ibu Shalihah yang pandai mendidik putra-putrinya,
Semoga Khusnul khotimah dan Allah menghimpunnya dalam Jannah. 

Aamiin.

Jumat yang bersamaan dengan tanggal lahirku itu menjadi hari terakhir hembusan nafas sang ibu. Aku tak ingin menjadikan hari miladku saat itu spesial, karena hari itu adalah saatku berkabung, lagi pula sebenarnya setiap hari adalah spesial karunia Allah. Pagi itu aku dan teman-teman sempat melayat dan mendoakan beliau, lantas kulanjutkan aktivitasku. Kembali kuambil pelajaran saat bertemu dengan wajah-wajah binaan adik-adik SMP. Mereka adalah adik-adik yang ceria dan pintar, bahkan argumentasi dan pertanyaan-pertanyaannya seringkali kritis dan membuatku ingin terus belajar. Saat itu kami mengupas tentang kasih sayang dan birrul walidain di dalamnya. Ada sebuah pertanyaan yang masih kuingat dari salah seorang adik: “Mbak Asni, yang dimaksud mencintai karena Allah itu bagaimana?” Aku diam sejenak, lalu coba kujawab yang intinya seperti ini:

“Mencintai karena Allah itu ketika kita mengekspresikan rasa tersebut dengan mengarahkan yang kita cintai untuk lebih mencintai Allah dek, seperti cinta ibu dan ayah kita yang menginginkan kita jadi anak-anak shalih dan shalihah.”

Mereka lantas balik bertanya: “Mbak kalau aku cinta sama temen laki-laki gimana?”

Pertanyaan klasik remaja, terlebih bagi anak SMP aksel seperti mereka, pertanyaan to the point seperti itu cukup maklum bagiku. Aku sedikit tersenyum, mencoba menatap mata adik tadi yang terlihat tersipu malu.

“Cinta itu fitrah, tapi bisa jadi fitnah dek kalau kita tak pandai menempatkannya”, adik itu tampak bingung lalu coba kujelaskan bahwa tak setiap yang kita rasa harus diungkapkan. Aku mencoba menyampaikan dengan bahasa mereka bahwa cinta tertinggi adalah tingkat keyakinan kita pada Allah. Bertawakal adalah bagian dari ekspresi cinta, aku mengajak mereka agar dapat menyerahkan rasa tersebut pada Allah dan mentransformasikannya menjadi sebuah semangat dalam beribadah dan belajar.

Pulang forum, Allah lagi-lagi mendidikku akan makna kebahagiaan dalam bingkai kesederhanaan. Senang rasanya saat membuka pintu rumah, keluargaku lengkap menyambutku, hidangan makanan tersaji lengkap, lagi-lagi kumaknai bukan menu makannya yang membuatku senang, tapi kala kami dapat berkumpul dan berkisah bersama. Makan bersama dari menu masakan yang langsung dibuat oleh kakakku. Ibu pun lebih ceria dari hari-hari biasanya. Apa karena ini miladku? atau karena adanya kado? emm, sebenernya berkumpul dan berkisah bersama mereka sudah lebih berarti daripada kado apapun.

Setelah itu, aku ke markas jalan gambiran, kenapa disebut markas? karena di sana kami biasa bekerja dan belajar bersama. Ah, yang ini aku tak tahu harus bercerita apa, yang pasti bekerja dan mengerjakan amanah adalah bagian dari cerita itu sendiri.

Memaknai milad sebagai renungan, evaluasi, rasa syukur dengan terus bekerja adalah bagian kisah episod di tahun 2014 ini. Sejujurnya masih banyak yang belum kuraih dan kuberikan untuk agama, negeri dan umat. Masih banyak yang harus kuevaluasi selama 22 tahun ini, masih ada mimpi yang terhujam kuat yang hanya bisa kupendarkan dengan doa, ikhtiar dan tawakal.

Bagaimanapun hari milad semoga menjadi barokah dan renungan akan rasa syukurku, melalui peringatan dari Allah, melalui untaian doa dan bentuk hadiah dari teman maupun saudara.

Allah, lembayung kasih-Mu masih kuharap.
Iringi aku dalam setiap langkah
Allah, damai-Mu masih kupinta
Dalam untaian ayat yang kubaca

Sabda-Mu yang amat sempurna
bawaku dalam ketentraman
Yang kucari hanya itu Tuhan
Engkau Ridha dan aku ridha

Dalam setiap jejak kehidupan,
Langkah-langkahku ke depan
Kuyakin kau akan senantiasa limpahkan karunia
Semoga tak lantas buatku jemawa

Karena diri ini amatlah lemah,
Patutnya merenungi akan tiap salah
Allah, bilaku mulai menjauh dari-Mu
Bantu aku untuk kembali
Meniti Jalan yang Kau Ridhai

Biarkan hanya Engkau tempatku berteduh
Mengadu segala gaduh 
Mensyukuri yang telah terseduh

bef6952c29483cdedeadf279b58407bb

Sabtu, 8 Maret 2014.
Atsabita Ramadhan.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 8 Maret 2014 in A Macam kisah dan motivasi

 

Tag: , ,

Lima Amalan Ringan Pengantar ke Surga

The-best-nature-photography-collection

Fimadani.com – Tidak ada satu pun yang tahu kapan dan bagaimana kematian datang menjemput, yang pasti akan ada dua tempat yang telah disediakan setelah kematian itu datang: surga dan neraka. Memasuki surga adalah dambaan setiap insan, siapapun bisa memasukinya. Tidak membedakan kaya-miskin, pejabat-rakyat, muda-tua, sehat-sakit, asal ia mau mengikuti anjuran Allah, maka jalan ke surga selalu terbuka. Surga bukanlah tempat yang diberikan cuma-cuma, tempat tersebut merupakan karunia dari bentuk kasih sayang Allah setelah kita berusaha mengamalkan perintah-Nya.

Sayangnya tidak setiap kita tersadar bahwa amalan kebaikan yang tampak pun rupanya berkadar tinggi di sisi Allah. Seperti amalan ringan sehari-hari yang bisa jadi beberapa menganggapnya biasa-biasa saja. Bukankah dunia ini adalah ladang pencarian amal? Tak memandang seberapa dan amalan apa yang dilakukan, karena yang paling utama adalah keikhlasan, dan tiada yang lebih berhak menilainya selain Allah semata.

Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam pernah bersabda: “Janganlah kamu meremehkan sedikit pun dari amal kebaikan, meski hanya sekadar bertemu saudaramu dengan wajah yang berseri-seri.” (Hadis riwayat Muslim).

Siapa sih yang tidak ingin masuk surga? Kalau terlontar pertanyaan seperti itu, dapat dipastikan semua mukmin pasti menginginkannya. Di surga jelas tidak ada rasa sakit, tidak ada kata-kata yang menjengkelkan, tidak ada percecokan dan peperangan yang membuat sedih hati. Di surga hanya akan ada himpunan kebaikan, di mana para syuhada dan perindu nabi bercengkrama bersama. Luar biasa indah bukan?

Sebagai seorang muslim yang mengharap dapat kembali di tempat terbaik tersebut, kita tentu akan berupaya untuk meraihnya. Beberapa upaya yang dapat mengantar kita ke dalam surga Allah adalah dengan menghidupkan amalan-amalan ringan yang tinggi nilainya di hadapan-Nya. Amalan-amalan tersebut di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Mengatakan Kebaikan
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS Al Ahzaab [32]: 70-71)

Ayat yang diawali dengan panggilan cinta “Yaa ayyuhalladziina aamanu.. (Hai orang-orang yang beriman)” seperti di atas menyampaikan inti pemahaman kepada kita bahwa al-qaul as-sadid atau ‘perkataan yang benar’ itu merupakan praktik nyata dari keimanan seseorang. Perkataan yang senantiasa diperbaiki tersebab rasa takut pada Allah dan berharap akan manisnya iman yang semakin terhujam di dalam hati manusia menjadi salah satu amalan untuk membuka pintu surga, karenanya dalam ayat tersebut orang-orang mukmin diajak untuk senantiasa memperbaiki perkataannya dengan berkata yang baik (benar).

2. Memberi tangguh kepada orang lain
Maksud tangguh di sini adalah memberi keluangan waktu sampai saudaranya yang berhutang sanggup membayar hutangnya atau si pemberi pinjaman membebaskan hutang peminjam tersebab si peminjam memang tak sanggup mengembalikan. Dalam selang waktu untuk menangguhkan hutang saudaranya tersebut, maka Allah akan senantiasa mengalirkan pahala bagi si pemberi pinjaman. Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam bersabda yang maksudnya: ”Sesiapa yang memberi tangguh kepada orang yang tidak mampu membayar hutangnya atau mengurangkan bayaran jumlah hutangnya, niscaya Allah menaunginya di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada sebarang naungan padanya selain daripada naungan Allah.”( HR. Riwayat Muslim dan Imam Ahmad)

3. Memasukkan kegembiraan dalam hati seorang muslim
Berikanlah kegembiraan atau kebahagiakan kepada sesama muslim, karena Allah tidak ridha memberikan balasan untuknya kecuali surga. Masyaa Allah.. Siapa yang tidak bahagia apabila mengetahui dirinya akan mendapat balasan surga?  Membahagiakan saudara ke sesama muslim bukanlah hal yang berat, kita dapat menghulurkan sedekah yang paling mudah dan murah, tetapi sangat besar nilainya ketika berjumpa: sekuntum senyuman manis. Tiada yang lebih manis dari senyum yang mengharap Ridha Illahi. Selain itu Bagi sesiapa yang berkemampuan lebih dalam hal materi tentu memberikan bantuan berupa materi akan jauh lebih berarti bagi saudara membutuhkannya.

Dalam sebuah Hadist Riwayat At-Tabrani disampaikan: “Sesungguhnya amalan yang paling disukai Allah selepas amalan-amalan yang fardhu ialah menggembirakan seorang muslim, engkau berikan pakaian untuk menutup auratnya, atau engkau mengenyangkannya ketika dia kelaparan, atau engkau tunaikan hajatnya.”

Bentuk selanjutnya adalah dengan menghubungkan saudaranya kepada seorang penguasa sehingga hajatnya terpenuhi, memberi ucapan selamat kepada saudaranya yang tengah berbahagia serta memperlihatkan perhatian kepada sesama muslim dengan meminta saran dan doanya. Sederet amalan tadi nampaknya memang tak begitu berat, akan tetapi bila salah satu di antaranya dapat kita kerjakan Insyaa Allah akan menjadi amalan yang tinggi di hadapan Allah Subhanahu wata’ala.

4. Berterima kasih kepada orang lain
Berterima kasih kepada orang lain adalah perangai yang terpuji, bentuk ucapan tersebut bukan semata ucapan yang keluar dari lisan saja. Sempurnanya ketika kita membalas kebaikan mereka dengan memberikan sesuatu yang sebanding atau lebih baik, namun bila tidak mampu cukuplah terus menerus mendoakannya hingga kita telah merasa yakin bahwa kita telah membalas kebaikan saudara sesama muslim.

Selain itu anjuran agama juga menyampaikan untuk memberikan pujian kebaikan kepada saudara kita yang telah berbuat baik, salah satunya dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan menceritakannya kepada orang lain. Hal ini memang membutuhkan sebuah pengontrolan hati, agar senantiasa diluruskan niatnya, sehingga sang pemberi tidak terjerumus dalam riya. Mungkin ada benarnya anjuran ini: pujilah secukupnya dan jadikan motivasi bagi kita untuk ikut terus berbuat kebaikan seperti mereka.

Dalam QS. Al-Qasas : 25, Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya“Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan dengan malu, ia berkata: “Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami.” Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syu’aib) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya), Syu’aib berkata: “Janganlah kamu takut. Kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim itu.” (QS. 28 : 25)

Selain itu apabila kita sudah menerima pemberian dari saudara kita, usahakan agar jangan mengajukan pertanyaan-pertanyaan aneh yang dapat menyinggung si pemberi. Tidak meremehkan atau menghina pemberiannya, terlebih mengeluarkan kata-kata yang memaksa si pemberi agar harus mengeluarkan tambahan pemberian kepada kita.

5. Memberi maaf kepada yang bersalah
Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam mengajarkan kepada kita untuk senantiasa bersifat pemaaf. Ketika beliau melewati berjalan dan diganggu oleh seseorang yang tidak menyukainya, beliau selalu memaafkan. Sampai akhirnya ketika orang yang suka mengganggu itu sakit maka Rasulullah adalah orang pertama yang datang menjenguknya. Dalam sebuah potongan sejarah beliau juga pernah mendapat perlakuan yang buruk dari masyarakat Thaif, sampai-sampai malaikat datang dan menanyakan apakah perlu masyarakat yang berlaku buruk tersebut dihukum, Nabi meminta untuk memaafkan mereka karena mungkin mereka belum tahu. Masyaa Allah, begitu luar biasa perangai Sang Rasul Allah. Allahumma sholli ‘ala sayyidina muhammad wa ‘ala aali sayyidina muhammad.

Memberi maaf memang bukan hal yang mudah bila dikaitkan sampai pada keikhlasan, meski begitu kebiasaan ini patutlah kita biasakan, karena perihal keikhlasan hanya Allah saja yang berhak menilai. Memberi maaf juga bukan menunjukkan seseorang itu lemah atau tidak mampu membalas. Suka memaafkan justru menunjukkan sifat kemuliaan seseorang karena ia bercermin langsung dari sifat Allah yang Maha Pemaaf dan Maha Pengampun, karena seberapa besar pun kesalahan yang pernah dilakukan hamba-Nya Allah senantiasa membukakan pintu maaf yang lebar bagi kita. Lebih dalamnya, sikap ini menunjukkan seseorang telah berhasil memilih jalan yang dekat dengan keridhoan Allah, meski boleh jadi mereka bisa menuntut balas atas kesalahan orang kepadanya.

Sebagai seorang muslim yang senantiasa berharap surga-Nya semoga kita mampu mengamalkan beberapa amalan ringan di atas, sehingga saat kematian datang menjemput, kita pantas meraih kasih sayang Allah Azza wa jalla berupa surga yang dirindu setiap umat manusia.

Allahu a’lam bisshawab.

Astaghfirullahal ‘adzim.

maraji’ (sumber) : Buku Amalan-Amalan Ringan Pembuka Pintu Surga

http://www.fimadani.com/lima-amalan-ringan-pengantar-ke-surga/

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 4 Februari 2014 in A Macam kisah dan motivasi

 

Ampun Yaa Allah

rumput

Semesta alam bersujud taat pada-Mu

Segunung dosa jiwa memohon ampun pada-Mu

Sehangat nafas merindu belaian-Mu

Kalbu yang telah lama tenggelam dalam fana ini merasa tak pantas

Bahkan sekadar memohon harap

Rindu..

Kalbu seperti terbang dalam singgasana cinta

Cinta yang berperi pada satu titik kepasrahan

Rindu..

Pernah ku membaca:

Jagalah Allah niscaya Allah kan menjagamu. Jagalah Allah niscaya kau akan menemui-Nya berada di hadapanmu. Bila kau meminta maka mintalah pada Allah dan bila kau meminta pertolongan maka mintalah kepada Allah. Ketahuilah sesungguhnya seandainya seluruh manusia bersatu untuk memberimu manfaat, niscaya mereka tidak akan memberi manfaat apa pun kepadamu selain yang telah ditakdirkan Allah untukmu. Dan seandainya mereka bersatu untuk membahayakanmu, niscaya mereka tidak akan membahayakanmu sama sekali kecuali yang telah ditakdirkan Allah atasmu. Pena-pena (penulis takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran (tempat menulis takdir) telah kering.” (HR. At-Tirmizi no. 2516)

Robbi..

Ingin kutilik kembali niatku.. untuk apa aku berada di sana

Kala aku telah mengikhlaskan sedikit kemampuanku untuk mengiprahkan semua di jalan-Mu

Kala aku memilih dan Engkau memberi kesempatan padaku

Sungguh itu anugerah, meski awalnya aku pun hanya mencoba

Dan kini anugerah itu semakin meradang menjadi sebuah candrarasa

Aku tak pernah meminta sebelumnya, bahkan terbesit saja tidak

Dan hamba menunduk malu ya Allah.. malu pada diri sendiri, malu pada kebaikan

malu pada kepasrahan.. malu pada sebuah ketundukan..

malu pada penghambaan yang begitu bersahaja

Engkaukah yang menghadirkan ini semua Ya Allah?

Atau hanya semangatku yang mulai bangkit setelah berbulan-bulan terpenjara dalam tangis

Ah, rasanya tangis ini tak sanggup terbendung kala ingati semua

saat alasan berbuah kesedihan, saat senyum dan tawa jarang kutemui,

kecuali dari mereka yang ikhlas menghadirkan untukku

Ya Allah..

Aku memang tengah impulsif

Aku memang tengah frustasi kala itu, aku memang salah ya Allah

Aku belum mampu tegas, aku belum sanggup sempurna mewarnai

Ampun Yaa Allah

Hamba khilaf, hamba lemah..

Hamba membutuhkan perlindungan-Mu, hamba membutuhkan perhatian-Mu

Ampun Yaa Allah

Semua kuserahkan pada-Mu, karena setiap dari harap adalah anugerahmu,

karena setiap yang kuingin aku tak pernah tahu kebenarannya,

Aku berserah, aku hanya ingin mengabdikan sisa usiaku di jalan-Mu yaa Allah..

Bersama jama’ah ini, menyambut panggilan-Mu..

Bersama jama’ah ini, mencoba menghapus titik-titik hitam di hatiku..

Bersama jama’ah ini, mencoba kuatkan azam dan tekad

Meski mungkin aku tak sempurna sebagai abdi-Mu, mohon beri hamba kesempatan

agar lebih layak menjadi hamba-Mu

Pantaskan hamba Yaa Allah..

Aamiin

Dalam Dekapan Kasih Sayang Allah

Atsabita

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 18 Januari 2014 in A Macam kisah dan motivasi

 

Tag: , ,

Tanpa-Mu

 

Kala mataku mulai terjaga

Hingga keduanya terlelap selamanya

Semasa itu sepantasnya ku mengharap pinta,

Engkaulah Sang penetap barisan takdir

Sejak ku belum terlahir hingga terhadir

Engkaulah Sang Pemberi sifat Ar-Rahim

Yang menyeduh hatiku agar selalu berdzikir

Tanpa-Mu… aku bagai matahari tertutup awan

Sepatutnya bersinar namun tak berkesanggupan

Tanpa-Mu… aku bagai dedaunan yang berguguran

Sepantasnya bersemai namun hanya mengotori taman

Tanpa-Mu… aku bagai deburan ombak di lautan

Bergelombang namun teramat sulit pecahkan karang

Ah Tuhan..

Mohon sinari aku dari kegelapan

Semaikan imanku meski telah kering kerontang

Perkenankan mimpiku agar seteguh karang di lautan

Ah.. Tuhanku..

Tanpa-Mu, aku takkan mampu desahkan nafasku

Tak akan pernah mampu..

Yogya, 14-12-13
Dalam Rahmat Allah
Atsabita Ramadhan

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 13 Desember 2013 in A Macam kisah dan motivasi