RSS

Arsip Kategori: B Islam World

Karena Tarbiyah-Mu

17209

Diri ini bak butiran debu
yang terus menumpuk
Mengotori segumpal darah bernama hati
Hah.. siapa aku ini!
Mengaku sebagai hamba-Mu
Tapi tak jua mengutamakan-Mu
Padahal bukan tenang yang kutemui
hanya keraguan dan kekecewaan hati

Namun Yaa Robbi..

Alangkah manisnya cara-Mu mendekapku untuk kembali
Menyapaku dengan lembutnya belaian dakwah
Menitihku menceraikan ikatan nafsu
Singkapkan butiran debu di hatiku
Dengan Islam dan tarbiyyah dari sang guru

Allah…

Mungkin tak pantas kudambakan ampunan
Namun kan kuupayakan dengan segelintir iman
Agar dapat kuraih sebutir hakikat
Dengan segenggam makrifat yang sarat akan hikmat

Terimakasih untuk perjalanan yang luar biasa ini
Berada dalam lingkaran insan mulia
yang tiada lelah dalam mengarungi jalanNya

Memang benar, terkadang cibiran, hujatan bahkan fitnahan
mewarnai perjalanan ini,
Namun, yakinlah akan janji dalam kalam Illahi-Nya:

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. (111:سورة التوبة)

Bukankah dari Tarbiyah-Mu aku belajar tentang segalanya
Tentang cinta dan air mata
Tentang prahara, suka dan duka

Terimakasih Allah telah mengajariku akan makna Ikhlas
Mencukupkanku dengan semangatmu

Kan kubiarkan tiap kata menjadi teguran,
Kan kubiarkan tiap tanda baca menjadi penegas
Bahwa cukup Perhatian-Mu yang kami pinta,
Semoga setiap peristiwa dalam dakwah semaikan benih-benih yang bermakna

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 24 Mei 2015 in B Islam World

 

Tag: ,

Mengemis Ampunan

402357_1809227048125_994097335_n

Mengharap saja tak pantas

Apalagi menggelar pinta

Diri bak butiran debu yang telah menumpuk

mengotori segumpal darah bernama hati

Hah.. siapa aku ini?

Mengaku sebagai hamba-Mu

Tapi tak jua mengutamakan-Mu

Padahal bukan tenang yang kutemui

hanya keraguan dan kekecewaan hati

Huft…

Jejak kejahilan masih saja membekas

Meski Kau selalu menawarkan penghapusnya,

Lewat sujud di redupnya malam

Atau amalan diterik siang yang menantang

Robbi.. ceraikan aku dengan ikatan nafsu

Singkapkan butiran debu dihatiku

Biar tak pantas kudambakan ampunan

Kan kuupayakan dengan segelintir iman

Agar dapat kuraih sebutir hakikat

Dengan segenggam makrifat yang sarat akan hikmat


Yang Mengemis Ampunan-Mu, Yang merindu belaian kasih-Mu

Puncak Harapku,
Atsabita Ramadhan

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 22 Februari 2014 in B Islam World

 

Tag:

Kegundahan

Dalam sunyi yang teramat menyiksa sukma, ada tangan yang selalu menengadah di malam-malam-Nya.
Dalam harap yang belum jua terungkap, ada yang selalu menitikkan air mata dengan kesungguhan pinta.
Dalam diam penuh kekhawatiran, ada yang selalu merengkuh Kalam-Nya, memohon keselamatan dan keberkahan.

Ia bukan seperti mereka yang hebat, Ia bukan seperti mereka yang berpunya segala
Ia bahkan jauh dari sempurna, ia hanya berusaha menempuh bahtera kehidupan dan ingin selalu mensyukuri yang disuguhkan,
menyeduhkan doa.. mungkin itu yang bisa dilakukan.
meski tak sanggup banyak kata, hanya tertunduk, menahan..

Tiada yang dapat meluruhkan kesedihan dan kegundahan selain keinginan berjumpa Rabb-nya.
Tiada yang mampu memutihkan segala prasangka pada saudara selain keinginan untuk becengkrama bersama di Surga-Nya dan ingati segala dosa kita. Ikhlas memang lebih tinggi dari segala rasa, Ikhlas lebih tinggi dari cinta.. Ikhlas setara dengan keridhoan, mengharap Cinta dari Allah, mencoba menjawab teka-teki-Nya

Ia bukan yang kuat menahan segala yang terhujam di hatinya, bahkan rapuh. amat rapuh
Ia hanya percaya pada keyakinanannya..

Hasbunallah wa ni’mal waqil..

Ia sungguh ingin berjumpa dengan tiap sahabat dau saudaranya di surga
Ia sungguh ingin bercengkrama dengan saudara-saudaranya di dekat sungai-sungai yang dikelilingi mutiara
Di mana tiada rasa sakit, di mana tiada tetes tangis, tiada kecewa, hanya kedamaian dan keinginan untuk terus bersama menikmati manis iman dari Allah Yang Kuasa.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 16 Februari 2014 in B Islam World

 

“Udah Putusin Aja! atau Udah Halalin Aja!” ??

IMG_0012

Genre: Non fiksi- remaja, pemuda(i) Islam

Sebagai pembantu umum di fatamorgana jalan cinta para pejuang, mungkin bisa dibilang kalau problema klasik para remaja dan pemuda adalah perihal how to jaga hati, jaga diri, jaga imajinasi agar izzah selalu terlindungi. Izzah? Siapa nih? Kakak kelasku namanya juga Izzah. Ups, Izzah mean kemuliaan, it close to kemuliaan diri, kehormatan seseorang begitu. Terus ada apa dengan si Izzah tersebut? Ibunya nyariin, ibu bilang suruh pulang bantu-bantu masak. :v *hadeeh, bukan-bukan* Izzah dijaga biar kita selamat  and  masa depan terawat. arrrghh, apa coba maksudnya?

Pernahkah di antara kalian muncul getaran asing dalam hati yang membuat kalian sulit tidur, tapi memunculkan bunga-bunga dalam jiwa? Hadir satu nama yang membuatmu mudah rindu kala berjauhan, tapi kalau bertemu malu, bahkan salah tingkah tak menentu. Saat tak berjumpa mudah terbayang, saat bertemu perasaan menjadi berwarna biru. Orang yang tadinya pesimis jadi romantis, yang tadinya manja jadi dewasa, yang tadinya oportunis berubah menjadi pujangga yang super puitis.

Apakah teman-teman tengah Jatuh Cinta??
Don’t worry! Don’t panic! I think, actually, it’s not some kind of a virus, therefore no need the hypodermic injections.

IMG

IMG_0002

(wuzz,, woles ustad, woles.. syabar ^^V)

Cinta itu karunia, cinta itu fitrah, rasa kasih sayang yang dimunculkan Allah pada hati makhluknya. Allah yang kasih karunia masa’ musibah? Nggak mungkin juga kan? Kalau pernah jatuh cinta itu tanda kamu masih normal, namun yang pasti rasa cinta yang punya energi luar biasa itu bisa menjadi modal awal keta’atan atau sebaliknya: kemaksiatan bahkan keterpurukan. Nah loh.. Terus gimana?

Makanya jangan jatuh cinta! tapi bangun cinta 😀
Kenapa nggak sekalian bangun istana aja :v *Ups.

Ok, ini saya ngalor ngidul sebenernya mau bahas tentang pentingnya mengelola rasa cinta agar generasi muda tetap terjaga. “Udah Putusin Aja” buku ini kece punya, tapi kenapa judulnya “Udah Putusin Aja!” bukan “Udah halalin Aja!” ? Yup, soalnya fokus utama si penulis ditujukan buat para remaja atau pemuda galau yang belum siap membawa cinta mereka ke jalan yang halal atau biasa disebut: pacaran. But, beside this, pada bab-bab akhir buku ini rupanya juga mengupas tentang bagaimana kalian bisa mengambil jalan yang halal, ya tentu hanya buat kalian yang sudah dewasa -sikap- dan berani bertanggung jawab untuk membawanya menjadi panggilan keta’atan.

*Begitu adik-adik. Ada pertanyaan?* 😀 -Belum dibahas kok udah nawarin buat ditanya?-  :v

Baik, biar sedikit terbahas yuk simak beberapa scene di bawah ini:

#First Scene

Konon, di sebuah SMA di kota Yogyakarta ada seorang siswi kelas X yang cukup lugu nan polos. Ia aktif di beberapa kegiatan seperti bela diri, ROHIS dan pecinta alam, anak baru gede ini senang mencoba hal-hal baru. Suatu ketika siswi tersebut dipede katein sama temen seangkatan dan senior di komunitasnya, karena lugu dia tetap bersikap santai dan berteman seperti biasa. Namun sebulan kemudian muncullah tanda-tanda tak wajar dari teman siswi itu, siswa putera tadi mengutarakan rasa cintanya pada si siswi, berbagai upaya telah dilakukan oleh remaja putera tadi, mulai dari yang selalu berpenampilan manis, ikutin kegiatan ROHIS, pecinta alam, bahkan nawarin tebengan tiap pulang sekolah. Sayang, meski lugu untuk masalah cinta si siswi nggak mau nerima gitu aja, jadi putera harus terus berjuang untuk mengejarnya. Setelah 3 bulan berlari  mengejar target, akhirnya siswi tadi pun bersedia mempertimbangkan. Terus seniornya di kemanain? :v yaa seniornya cuma dijadiin kakak kelas, soalnya takut dilabrak dan dapet kiriman misterius lagi dari teman putrinya si senior. Yaahh polos amat sih.. ?! – loh kok malah polos -_-

Suatu ketika di siang bolong, remaja putera tadi – duh kok nyebutnya ribet banget sih- sebut aja cowok begitu ya, nah si cowok tadi mulai berani menunjukkan  rayuan gombalnya. Dia kerap mengirimkan rangkaian kata-kata sok manis yang berujung pada ucap permintaan: “mau nggak jadi pacarku?” aaiih.. berani amit, seragam masih putih abu-abu ngajakin pacaran anak orang :v, udah berani tanggung jawab po? Bukan. bukan itu, masalahnya tu cowok ngajakin pacarannya pacaran islami (Ada ya pacaran Islami? #gleek!) bilangnya dia mau jadi anak sholeh yang rajin sholat dan mengaji, setia dan nggak akan pernah pergi, dunia baginya hampa tanpa yang dicinta, mana pakai senapan hati biar dikasihani sama si siswi. Yaah, lagi-lagi nyentuh wanita pakai perasaan. Sudah deh, ujung-ujungnya tetap diterima. Hmm, Itu baru mau ngajakin jadi pacar, gimana ntar kalau beneran jadi misua..? eh suami maksudnya, mungkin nggak hanya nyerang perasaan lagi, tapi bisa jadi pakai ancaman yang nggak masuk akal, semacam ilustrasi bukunya Ust. Felix ini kali ya:

IMG_0008

(mungin memang agak lebay, tapi ada benarnya juga)

Alhamdulillaah, untungnya siswi tadi anak baik-baik, jadi walaupun menerima permintaan si cowok (#anak baik-baik kok mau nerima jadi pacar?#), maksudnya dia tetap nggak mau diajak berdua-duaan mojok, layaknya para remaja yang tengah kasmaran, nggak mau juga sering diajak jalan atau bahkan sekedar salaman, sampai akhirnya teman sekelasnya ngatain si siswi: “Kamu kok gitu sih sama cowokmu, itu namanya nyakitin cowok!” #aaaiih nyakitin? emang dia nyebarin virus mematikan?*gleeek. Tapi benar juga sih, kalau memang mau menerima jadi pacar, mengapa nggak mau ada perhatian buat cowoknya, bahkan sekedar gandengan or salaman? why? usut punya usut rupanya siswi tadi telah kecemplung di dunia mentoring, di mana dalam kelompok mentoring itu ada satu kakak pembimbing yang selalu ngingetin dan ngarahin dia, belum lagi orangtua si do’i melihat ada sikap aneh yang kadang muncul pada anaknya, biasa.. ABG galau..so, akhirnya orangtua siswi tadi kepo dan ketawan deh kalau anaknya pacaran, lalu apa yang terjadi? yap, nasihat-nasihat bijak mulai mendarat. Kalau nasihatnya Pak Ustad Felix seperti ini tepatnya:

unyu

Pada puncaknya, suatu ketika siswi tersebut berkesempatan menjadi panitia acara baksos dan renungan malam di sebuah dusun dataran tinggi nan asri, kala itu seorang pembicara menyampaikan renungan tentang dahsyatnya kehidupan akhirat, di situlah hidayah Allah menyinari hatinya. Saat itu ia merasa sangat berdosa, apalagi setiap membaca pesan-pesan kakak mentoring dan buku yang dipinjamkannya. Btw buku apa? #penulis penasaran* Yaa, semacam bukunya Ustad Felix itu. Alhamdulillaah, kalau hidayah emang nggak kan kemana, singkat cerita, finally siswi tersebut dengan berani memutuskan tu cowok dengan mengirimkan sms sepanjang tujuh karakter plus dibersamai sebuah cuplikan pesan Tuhan yang tersirat, Hadeeeh, mutusin pakai pesan kata-kata Tuhan ya 😀 remaja kece* ups. B-)

Lantas coba tebak, bagaimana ekspresi cowoknya? 🙂  hmm, yes! It’s not important, yang pasti siswi tadi memutuskan karena ingin agar teman lelakinya juga selamat dunia akhirat. So, “Udah Putusin Aja!” karena memang belum pada siap nikah, siswa SMA awal gitu !

# 2nd Scene

Kasus dari korban si virus merah jambu kali ini terjadi pada pemuda pemudi yang berusia sekitar 23-an, mereka adalah sepasang insan yang tinggal di kota pendidikan dengan ciri khas kebudayaannya. Sebut saja namanya Rama dan Rina. Muda-mudi ini bisa dibilang anak muda gaul zaman sekarang yang nggak mau ketinggalan zaman dan selalu update info-info selebrtis pekanan. Mereka lahir dari keluarga yang baik, namun sempat terpengaruh dengan lingkungannya yang akrab dengan dunia geng, game online dan sering kopdar bareng pemuda(i) cina berkelas begitu. Pada dasarnya Rama adalah lelaki yang cukup bertanggung jawab, #tanggung jawab kok beraninya pacaran? hmm, maksusnya si do’i  giat bekerja dan penghasilannya lumayan lah (lumayan apa? Lumayan dikit apa banyak?) ya lumayan cukup kalau buat biayayain hidup, #daripada dihabis-habiskan untuk hang out atau pergi jalan-jalan berdua, pacaran berdua, menikmati pacaran berdua, mending juga buat modal nikah, lalu hidup bersama, ya nggak? (#penulis membela diri, haha), tapi sayang mereka belum cukup berani ambil komitmen untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan rupanya, berbagai pihak telah menyarankannya, namun namanya belum ada passion ke nikah yaa bakal susah.. Beberapa dari mereka yang mengaku menjadi aktivis pacaran, memang ada aja alasannya, ya macam mirip ilustrasi di bawah ini..

IMG_0009

IMG_0007

Nah di sini nih, pinternya virus merah jambu, virus kok pinter sih? Iya, soalnya dia membuat dunia seakan menjadi teramat indah di mata manusia, nah lho kalau kita mudah terpesona sama gemerlap nafsu dunia boleh jadi kita kalah sama virusnya dong. So, pacaran menjadi indah dan dianggap hal yang biasa. But, at all, kita pasti cukup yakin bahwasanya sebuah kebaikan dan kebenaran pada perubahan seseorang adalah proses, dan sebenarnya itu semua merupakan pilihan atau hidayah dari Allah yang perlu kita jemput, termasuk pilihan buat menikah tanpa pacaran, atau sekedar pacaran-putus–pacaran-putus dan entah mau menikah kapan.

Dalam menghadapi orang-orang semacam Rama dan Rina tadi, tentu jangan banyak memberi nasihat dengan dalil-dalil Tuhan secara langsung, bisa kontal ntar :D, memang dibutuhkan ide kreatif dengan sedikit sinar lampu inspirasi plus niat lurus agar apapun hasil dari ikhtiar kita nanti tidak mengecewakan hati.

Mungkin salah satunya dengan menyuguhkan suatu hal yang disukai atau disegani oleh mereka dan harapannya ada nilai positif yang dapat mereka ambil. Namanya juga ikhtiar manusia, ya nggak?

Suatu ketika ada orang peduli menghampiri Rina dan menawaran buku “Udah Putusin Aja (UPA)!” Begini obrolan mereka:

X: “Ih, ni buku kece deh.. seru punya”. (si-X membaca cerita komik Ustad Felix di buku UPA sambil ketawa-ketiwi)

R: “Buku apa?” #penasaran -> liat judul “Itu beneran kamu beli buat kamu sendiri?”

X: “Udah Putusin Aja.. ini mbak baca deh bukunya unyu.”

R: “Udah putusin Aja.. Udah Putusin Aja.. apaan sih” #sambil liat mulai tertarik lalu buka-buka isinya*

X: yee baca dulu..

Rina terlihat mulai nggak PD, ragu mau membalas bagaimana, akhirnya ia keluar dari kamar sambil menutup pintu.

R: “ok ok! aku akan putusin dia dari pacar buat aku jadiin suami.”

X: “Nah gitu dong.. kutunggu aksimu !” #senyum# merasa dapat secerca harapan, meski nggak tau kapan akhirnya Rina bersedia memutuskan menikah.
Normalnya memang nggak akan secepat itu si Rina akan ambil keputusan buat langsung mengubah  si mas pacar menjadi suaminya. #yah… kita doakan bersama-sama saja ya..

Dua scene di atas memang sangat berbeda dari hal setting dan tokoh yang diceritakan, tetapi sebenarnya intinya sama yaitu bagaimana menggiring orang yang tengah jatuh cinta agar dapat mengarahkan mereka ke jalan yang lebih diridhai Allah. Terlebih kalau ekspresi cinta mereka sudah benar-benar di luar batas (read: mendekati zina tingkat dewa). Saya pikir buku-buku semacam ini memang nggak ada salahnya buat dibaca, tentu nggak cuma buat anak-anak SMA yang masih bingung menempatkan rasa merah jambunya itu, tapi juga buat mereka yang memang sudah sebaiknya menyegerakan menyambut keta’atan. Lha kalau belum siap?? *ya segera siapkan!*

Buku Udah putusin Aja! mengajak kita agar cerdas dalam menyikapi karunia Allah yang bernama Cinta tadi. Agar nggak makin kaku kalau ketemu, agar hidup tetap berjaya saat nggak bersama, agar hatimu tetap lurus niatnya, dan agar kita semua bisa bareng-bareng menjadi insan yang lebih bertaqwa.
Sahabatku, tiada yang salah dengan rasa cinta, yang bisa menjadi masalah hanyalah bagaimana mengekspresikan cinta tersebut. Lebih dalamnya, “kalau menikah hanya karena sebuah rasa cinta, lantas di manakah kau letakkan takwa di hadapan-Nya? 🙂 Kalau cinta hanya mengharap pada manusia yang dicinta, tanpa tendensi yang jelas, percaya deh kau hanya akan menjadi orang yang mudah kecewa, terpedaya, mudah cemburu dan nggak maju-maju.

Cinta adalah warna yang indah, jagalah warna itu agar tak pudar, jagalah rasa cintamu agar semakin dekat dengan Pemiliknya, yaitu Allah. Percaya saja, kalau Allah nggak pernah mengecewakan hamba-Nya yang mau bersabar dan menahan diri dari yang belum seharusnya ia nikmati. Bukankah cinta itu masalah keyakinan? dan keyakinan adalah seberapa kuat kepercayaan kita pada Allah. Kalau jodoh ya nggak bakal ke mana. Kalau nggak jodoh biar dibantu 100 manusia dan 1000 jin juga nggak akan berjumpa (#nggak-nggak yang ini bercanda, dilarang keras minta bantuan sama jin, entar musyrik kata Pak Ustad :D, kalau jinni gimana mbak? hadeh-_-‘).

Cinta remaja itu seperti matahari dan bumi, matahari memang mencintai bumi, tetapi dia sadar dengan mendekati bumi terlalu dekat bukan membuatnya semakin hangat, namun bisa membakar penghuni bumi. Dalam hidup mencari cinta sejati, jika kamu terus mengejar satu nama, bisa jadi dia justru akan menghindarimu, tp jika kamu memilih menjadi orang yg pantas dicinta, dia akan mengelilingimu. Persiapkan saja dirimu sebaik mungkin, dan daripada menunggu disuruh mempersiapkan, lebih baik kamu menciptakan persiapan.

Sahabatku, sebutan pecinta sejati hanyalah bagi mereka yang berani komitmen untuk memberikan cintanya bagi yang halal semata. Berharaplah pada Allah agar Ia memberikan cinta yang Ia titipkan pada kita, yang Ia ridhai untukmu, agar cinta-Nya senantiasa menyelimuti perjalanan hidup kita semua. #Tetiba pembahasan menjadi serius#

Ok, anyway..Coba deh baca buku “UPA!” tadi, beneran deh nggak akan nyesel, saya aja waktu baca berasa makan permen lolipop rasa nano-nano. Manis, asam, asin, ramai rasanya. Buku “Udah Putusin Aja!” sebenernya juga cocok buat mereka yang sudah atau tengah menyiapkan pernikahan #eaaaa.. coba lihat gambar ini biar kita semua nggak pada salah pilih pasangan. Jadi. pasangan/ pemimpin keluarga yang baik itu yang baik agamanya, dan …

IMG_0005

Keep JaIm (Jaga Iman) guys! Maan Najah! (Semoga Sukses) 🙂

“Jangan ragu dengan skenario Allah, karena tidak ada yang lebih menginginkan kita bahagia dan selamat selain DIA yang Maha baik”. (Mbak dhz: 2014)

nb: gambar-gambar diambil dari buku “Udah Putusin Aja!” karya Ustad Felix Y. Siauw

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 10 Februari 2014 in B Islam World

 

Tag: , ,

Meski Kau Lelah

943062_534026833301531_2000535202_n.jpg

Kau jelas lelah, dengan berbagai tuntutan dan amanah

urusan yang belum usai, seringkali kau kalahkan demi sebuah panggilan dakwah

belum lagi tugas-tugas lain yang berbaris rapi menantimu,

tentulah menambah tumpukan peluhmu

ah, tapi tetap saja kau selalu tersenyum dalam majelis pekanan,

majelis melingkar bersuguh tilawah dan materi panah.

Terkadang kau harus melintasi kota untuk sebuah kehadiran, tapi tak pernah menjadi masalah

tentu saja!

Jangankah hanya lintas kota,  lintas provinsi saja kau jelajah

Padahal tentu tak mudah mencari ma’isyah,

Ya, demi tarbiyyah.. karena Allah yang memerintah, bukan karena  mas’ul atau mas’ulah

Kami sadar,  kau dihadirkan untuk menyampaikan pesan kebaikan,

agar kami paham dan ikut menyampaikan

meski kau bukan yang sempurna, tetapi kehadiranmu selalu melukiskan makna

Karena kau selalu dinanti wahai Murobbi…

hati yang kau hadirkan dalam setiap perhatian,

doa dan harapan yang selalu kau panjatkan, seakan menambah eratnya persaudaraan ini

persaudaraan yang lepas dari ikatan darah, persaudaraan yang terhimpun karena celupan kasih Illahi

jelaslah ukhuwah ini adalah anugerah, titipan Allah yang begitu Melimpah

Semoga kita ditetapkan dalam istiqomah..

dalam menggapai asa dan cita – cita ummat yang mulia

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 7 November 2013 in B Islam World

 

Tag: ,

Penyebab Global Warming menurut Al-Qur’an

Source : (http://www.ccde.or.id); Republika online)

1080

Setiap aktivitas manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya pasti mempengaruhi lingkungan. Hal tersebut telah ditanyakan oleh para malaikat kepada Allah saat malaikat bertanya mengapa Allah menciptakan manusia sebagai khalifah di muka bumi padahal manusia itu akan membuat kerusakan di muka bumi. Pertanyaan ini terekam dalam Surat Al Baqarah ayat 30.

Manusia sejak lahir memerlukan dukungan alam seperti selimut, kain, popok, makanan, susu, dan sebagainya, sehingga keberadaan manusia di muka bumi akan mempengaruhi lingkungan sekitarnya. Semakin banyak jumlah manusia maka kecenderungan kerusakan lingkungan semakin besar. Semakin banyak kebutuhan manusia, semakin cepat terdegradasi lingkungan di sekitarnya.

Beberapa ilmuwan menyatakan pemanasan global terjadi karena faktor alam. Namun sebagian besar lagi menyatakan hal itu terjadi karena ulah manusia. Alquran menjawab perdebatan faktor penyebab pemanasan global melalui Surat Asy-Syura ayat 27. Di situ disebutkan bahwa penyebab kerusakan bumi itu adalah ulah manusia itu sendiri yang melampaui batas (berlebih-lebihan).

Akibat belebih-lebihan
Lingkungan memiliki daya lenting berupa kemampuan untuk kembali ke keadaan semula setelah diintervensi. Lingkungan dapat kembali ke keadaan keseimbangan apabila terjadi intervensi, namun tingkat pengembaliannya memerlukan banyak waktu. Kecepatan intervensi manusia sendiri tergantung dari tingkat kebutuhan dan keinginannya.

Penyebab utama pemanasan global adalah pembakaran bahan bakar fosil, seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam, yang melepas karbondioksida dan gas-gas lainnya yang dikenal sebagai gas rumah kaca ke atmosfer. Pembakaran bahan bakar fosil umumnya disebabkan aktivitas industri, transportasi, dan rumah tangga. Aktivitas tersebut meningkat seiring dengan pertambahan penduduk dan keinginan masyarakat modern yang semakin beragam.

Pandangan Islam mengenai pertambahan penduduk dan keinginan masyarakat modern yang makin beragam adalah mengingatkan agar tindakan dan kebutuhan manusia tidak berlebih-lebihan (Al-Isra:27). Kebutuhan manusia dapat diperhitungkan dan dipenuhi oleh sumber alam yang ada di muka bumi, namun keinginan manusia sangatlah banyak. Memenuhi semua keinginan manusia hanya akan memperburuk keadaan. Perbandingan pola produksi dan konsumsi di antara negara berkembang dan negara maju membuktikan hal tersebut.

Dari data World Resources Institute tahun 1994 menunjukkan bahwa pada tahun 1991 AS mengkonsumsi energi hampir tiga kali lipat lebih banyak dari Jepang untuk menghasilkan 1 dolar AS GNP-nya. Dengan penduduk yang hanya 4,6 persen dari penduduk dunia, pada tahun 1991 AS menghasilkan 22 persen emisi global CO2. Dengan pola konsumsi energi sebagai indikator bagi lingkungan yang berkelanjutan, kelahiran bayi di AS menghasilkan 2 kali lipat dampak lingkungan bagi bumi dibandingkan seorang bayi yang lahir di Swedia, 3 kali lipat dibanding di Italia, 13 kali lipat dibanding Brazil, 35 kali dari India, dan 140 kali lipat dibanding Bangladesh.

Berbagai macam solusi telah ditawarkan untuk mengurangi dampak pemanasan global seperti menanam pohon untuk menyerap gas karbon dioksida yang ada di udara, mengurangi penggunaan barang-barang yang tidak dapat didaur ulang, mengurangi emisi CFC, dan sebagainya. Alquran lebih jauh membahas solusi permasalahan tersebut dari sikap preventif yaitu dengan tidak berlebih-lebihan atau tidak bersikap boros (Al-Furqan:67).

Oleh karena itu, pertemuan-pertemuan internasional seharusnya membahas mengenai standar hidup maksimal. Standar hidup maksimal meliputi gaya hidup, pemakaian rumah, penggunaan air, atau yang sejenisnya. Gaya hidup berlebihan seperti memiliki pakaian, sepatu, dan perhiasan yang jumlahnya sangat banyak padahal penggunaannya sangat jarang, perlu dibatasi.

Penggunaan pesawat jet pribadi yang hanya mengangkut 1 atau 2 orang artis, atau mobil yang hanya berpenumpang 1 atau 2 orang dapat menyebabkan pemborosan sumber energi. Pembangunan rumah yang memiliki kamar sangat banyak padahal hanya digunakan oleh beberapa orang juga perlu dibatasi. Penggunaan air dalam rumah tangga perlu diatur sesuai dengan kebutuhan dasar dan jumlah orang yang ada di rumah tersebut.

Rasulullah telah mengingatkan kita bahwa apa yang ada di dunia ini akan sirna dan apa yang kita berikan adalah kepunyaan kita sesungguhnya di akhirat. Karena itu, pemilikan atau penggunaan barang yang berlebihan sangat tidak dianjurkan dalam Islam. Islam menuntun agar setiap manusia lebih banyak memberi daripada memiliki.

Solusi permasalahan pemanasan global tidak hanya terkait dengan mengubah energi fosil menjadi energi biofuel atau energi alternatif lainnya. Menurut Alquran, semua tindakan berlebihan pada akhirnya akan merugikan manusia. Penggunaan sumber energi massal akan menyebabkan output dalam jumlah massal. Bahan apapun apabila dibuang dalam jumlah banyak dan dalam waktu yang cepat, pasti akan mempengaruhi keseimbangan lingkungan.

Oleh karena itu mengubah sumber energi dari energi fosil menjadi energi biofuel tidak menjamin lingkungan akan aman, sebab pembakaran biofuel pasti akan menghasilkan polutan dalam jumlah massal dan dalam waktu yang cepat. Penggunaan energi hendaknya bersumber dari energi yang paling mudah didapatkan, paling murah biayanya, dan paling mudah mengoperasikannya di suatu daerah.

Bahaya penyeragaman

Pertanian yang dituding menjadi pemicu pemanasan global karena penggunaan pupuk, peptisida, dan konversi lahan dari hutan menjadi pertanian perlu juga dikaji. Sentralisasi yang dilakukan oleh orde baru terhadap pola makan bangsa Indonesia menyebabkan ketergantungan rakyat Indonesia terhadap beras sangat tinggi. Dulu beberapa kelompok masyarakat di Indonesia punya sumber-sumber pangan alternatif.

Semestinya perbedaan sumber makanan itu disyukuri sebagai rahmat dari Allah. Penyeragaman sumber makanan menyebabkan ketergantungan pada sumber tertentu yang belum tentu cocok ditanam di wilayah tertentu sehingga menyebabkan kerusakan lingkungan.

Selain itu, penyeragaman sumber makanan menyebabkan ekosistem di beberapa daerah berubah karena lahan yang semula tidak diperuntukan dan tidak cocok untuk pertanian, dipaksakan untuk menjadi lahan pertanian. Keanekaragaman hayati di daerah itu pun menjadi terancam musnah. Hewan-hewan yang biasa makan dari hasil hutan terancam punah dan beberapa binatang merusak lahan pertanian karena kehilangan tempat berlindung dan sumber makanan.

Allah telah menciptakan alam dengan berbeda-beda jenisnya sesuai dengan keadaan masyarakat. Allah juga telah menciptakan sesuatu sesuai dengan kadarnya. Produksi yang tidak berasal dari daerah setempat, baik bahan mentah maupun sumber daya, akan menyebabkan ketergantungan daerah tersebut pada sumber daya asing. Tambahan lagi produksi massal tentu akan menghasilkan jumlah polutan atau limbah yang massal juga. Sebenarnya alam memiliki kemampuan menyerap polutan yang timbul tetapi apabila jumlahnya banyak dan dalam waktu yang cepat maka alam tentu tidak akan sanggup melakukannya.

Ikhtisar

– Pemanasan global yang kini terjadi, sepenuhnya merupakan dampak dari perilaku berlebih-lebihan manusia di dunia.

– Allah SWT telah menciptakan alam dengan segala keseimbangannya, namun perilaku manusia kemudian merusak keseimbangan itu. – Karena itu, solusi yang ditawarkan Islam untuk menangkal pemanasan global adalah menghentikan gaya hidup yang berlebih-lebihan.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 10 Juni 2013 in B Islam World

 

Qiyadah wal Jundiyah

setiap-kamu-pemimpin

Qiyadah wal Jundiyah merupakan unsur penting bagi mereka yang hidup dan berinteraksi dalam jama’ah. Dalam buku Fiqh Dakwah ada 3 unsur dalam berjama’ah yaitu Qiyadah, jundi dan Sistem.

Al-Qiyadah berarti pimpinan, jenderal, imam
Jundi berarti : prajurit. à jundun, jundaani, junudun

Qiyadah secara bahasa adalah: “Qaada – Yaquudu – Qaudan – Qiyaadatan – Qawwadan – Iqtaada: menuntun, sedang berjalan di mukanya.
Qiyadah adalah seorang pemimpin yang bertugas menuntun siapa saja yang dipimpinnya. Sehingga Qiyadah biasa juga disebut pimpinan, jenderal, imam. Sedangkan Jundi secara bahasa adalah berasal dari kata: “Jundun (Junuudun)” yang berarti tentara/serdadu. Qiyadah merupakan sesuatu yang berhubungan dengan banyak pemimpin (sesuatu yang berhubungan dengan qiadun), bukan Al-qoidah. Hal ini disistemkan dalam suatu syuro’, karena belum berdiri khilafah.

‘’Saat ini, Kepemimpinan itu kolektif, kalau jundi itu tunggal karena memberi implikasi bahwa setiap dari kita adalah jundi.’’

Keputusan syuro’ adalah yang paling tinggi.

“Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh”. (QS. As-Shaff : 4)

Adab Terhadap Qiyadah
Seorang Qiyadah/ Pemimpin jama’ah memiliki hak-hak tertentu yang harus dipenuhi oleh para Jundinya. Seperti bagaimana cara bersikap apabila berinteraksi dengan Qiyadah dan itu harus dimiliki oleh setiap Jundi yang ada dalam jama’ah.

Adab-adab tersebut antara lain :

  • Ta’at
    Ta’at berarti seorang Jundi harus memiliki rasa ta’at dalam menjalankan perintah-perintah serta arahan-arahan yang diberikan kepadanya.
  • Tsiqoh
    Tsiqoh berarti seorang Jundi harus menerima dan memiliki perasaan dan hati yang lapang dalam menerima perintah, amanah, ataupun segala yang datang dari Qiyadah kepadanya tanpa ada keragu-raguan didalamnya.
  • Iltizzam
    Itizzam berarti seorang Jundi harus senantiasa menjaga komitmennya untuk selalu ta’at dan tsiqoh kepada Qiyadah dan Jama’ah.
  • Ihtirom
    Ihtirom berarti seorang Jundi harus memiliki sikap hormat yang tinggi kepada Qiyadah. Dalam mentaati perintah diperlukan sikap ketsiqohan seorang Jundi terhadap Qiyadahnya. Tsiqoh dalam hal ini bukan berarti taqlid buta terhadap segala apa yang diperintahkan. Karena Qiyadah adalah seorang manusia biasa yang dapat pula melakukan sebuah kekhilafan dan salah. Maka sebagai Jundi juga harus senantiasa mengingatkan dengan cara yang ahsan apabila dalam beberapa hal sang Qiyadah dirasa melakukan kekhilafan-kekhilafan yang barangkali tak disadarinya.

Qiyadah juga  bukanlah orang yang paling kuat, paling benar, dan juga bukan orang yang paling bertakqwa diantara kita. Meski begitu kita perlu untuk mempercayainya bahwa pemimpin kita adalah orang yang bisa mengemban tugas amanah kepemimpinan dengan baik. Jika pun ada seseorang lainnya diantara kita yang barangkali memiliki kemampuan lebih dibandingkan Qiyadah kita maka cukuplah kelebihan itu digunakan untuk mendukung kerja-kerja Qiyadah dan bukan malah menjadi pembenaran untuk melakukan persaingan atau bahkan perlawanan terhadap Qiyadah kita.

Ada sebuah contoh dialog antara Umar Bin Khattab dengan Abu Bakar Ash Shidq sepeninggal Rasulullah SAW: “Umar berkata kepada Abu Bakar, ‘Ulurkanlah tanganmu, aku akan membai’atmu.’ Abu Bakar berkata, ‘Akulah yang membai’atmu.’ Umar berkata, ‘Kamu lebih utama dariku.’ Abu Bakar lalu berkata, ‘Kamu lebih kuat dariku.’ Setelah itu Umar ra berkata, ‘Kekuatanku kupersembahkan untukmu karena keutamaanmu.’ Umar pun terbukti benar-benar menjadikan kekuatannya sebagai pendukung Abu Bakar sebagai kholifah”.
Imam syahid Hasan Al Banna mengatakan: ‘Wahai ikhwan, angkatlah menjadi pemimpin orang yang paling lemah di antara kalian. Kemudian dengarlah dan taatilah dia. Dengan (bantuan) kalian, ia akan menjadi orang yang paling kuat di antara kalian’. Perkataan dari Hasan Al Banna menjelaskan bahwa seorang pemimpin itu bisa jadi adalah orang yang paling lemah diantara jama’ah. Namun kepercayaan dan ketaatan dari para jundi terhadap pemimpinnya bisa menjadikan pemimpin tersebut orang yang paling kuat diantaranya.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 6 Juni 2013 in B Islam World

 

Tag: ,