RSS

Arsip Kategori: C Karya Ilmiah

semua yang disampaikan adalah karya non fiksi

Menyelamatkan Hutan: Menyelamatkan Masa Depan Indonesia

kebakaran-hutan

Di tengah tantangan global, mari bersama mempertahankan identitas hutan dengan menjaga dan melestarikannya. Kita patut bersyukur karena Tuhan menciptakan kita dengan kelengkapan akal dan kemampuan untuk berpikir. Menjadikan kita sebagai khalifah yang salah satu tugasnya untuk menjaga keseimbangan alam semesta ini. Sudah banyak kerusakan hutan di Indonesia yang berimbas pada kehidupan manusia. Padahal kalau kita mau merenungi, tangan-tangan dan otak manusialah yang seringkali menjadi perusak utama.

Hutan adalah aset alam yang sangat berharga bagi sebuah negara, semakin kecil luas suatu hutan, semakin sedikit hasil alam yang dihasilkan. Kita sadari pula, saat ini masih banyak kasus ilegal loging untuk meraup keuntungan sepihak. Keuntungan yang sebenarnya merugikan banyak aspek kehidupan. Tanpa rasa khawatir,  hutan Indonesia terus dieksploitasi, banyak tangan yang menebangi pohon melebihi batas kewajaran, sehingga ekosistem menjadi rusak dan tidak seimbang. Banjir yang besar, panas yang luar biasa di musim kemarau, dan tanah longsor di daerah pegunungan, tampaknya belum juga membuatnya jera.

0928gpap

Saat bencana itu terjadi, tidak hanya kita yang dirugikan, tapi juga semua populasi makhluk hidup yang meninggalinya bukan?

Bila hutan sudah gundul, bagaimana air hujan bisa diserap dengan maksimal?
Bila hutan sudah gundul, masihkah makhluk hidup bertahan saat musim kemarau panjang?
Bila hutan sudah gundul, hutan mana yang akan kita wariskan untuk anak cucu kita  di masa depan?

Oleh karenanya, yang perlu kita lakukan untuk lebih menjaga identitas hutan Indonesia adalah dengan meningkatkan konservasi hutan, menjadikan aset alam ini kembali pada fungsi sejatinya hutan diciptakan: menyeimbangkan ekosistem seluruh kehidupan. Dengan begitu, semoga Indonesia mempunyai ruang hijau yang lebih luas, memberikan nilai kebermanfaatan bagi semua makhluk hidup, serta menjadi warisan berharga bagi generasi masa depan di bumi pertiwi Indonesia.

So, start now..
Let’s save our forest!

200810101200421

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 17 Maret 2015 in C Karya Ilmiah

 

Tag: ,

” Pembuatan dan Karakterisasi Bioplastik Berbahan Selulosa dalam Kulit Buah Markisa”

bioplastic

Indonesia merupakan negara yang kaya akan limpahan sumber daya alam, meskipun sumber daya manusia yang ada masih tergolong rendah dan kekayaan negeri ini belum dapat dikelola dengan cermat. Flora di Indonesia sangat berpotensi memberi banyak manfaat bagi dunia teknologi industri, farmasi, sebagai bahan makanan primer mapun sekunder. Dalam bidang teknologi industri, terutama pembuatan bioplastik, flora di Indonesia dapat dimanfaatkan sebagai bahan campuran yang dapat mempercepat degradasi plastik, salah satunya yaitu buah markisa (Passiflora edulis). Seluruh bagian markisa hampir dapat dimanfaatkan, salah satunya yaitu kulit buahnya selain dapat dijadikan pakan ternak juga dapat digunakan sebagai bahan campuran dalam pembuatan plastik, sehingga dapat dikatakan upaya ini sebagai solusi alternatif pembuatan bioplastik yang ramah lingkungan dengan memanfaatkan serat tumbuhan.
Plastik merupakan salah satu limbah yang telah banyak menjadi masalah dalam lingkungan hidup sebagai salah satu entropi yang berwujud padat. Diperlukan waktu sekitar 500-1000 tahun bagi sampah plastik untuk terurai sempurna. Plastik merupakan salah satu penyumbang terbesar bagi pemanasan global. Seiring dengan perkembangan zaman, pemanasan global semakin meningkat dan menjadi ancaman bagi tiap makhluk hidup. Data dari Environment Protection Body, sebuah lembaga lingkungan hidup di Amerika Serikat, mencatat ada sekitar 500 miliar sampai 1 triliun tas plastik digunakan di seluruh dunia setiap tahunnya Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menginformasikan dari total volume timbunan sampah di seluruh kabupaten dan kota di Indonesia yang  mencapai 666 juta liter per tahun, sekitar 14 persen merupakan sampah plastik. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia merupakan salah satu kontributor sampah plastik terbesar di dunia, apalagi pembatasan penggunaan kantong plastik belum digarap secara baik oleh pemerintah.

Untuk memutus mata rantai pemanasan global maka penggunaan bahan yang ramah lingkungan merupakan salah satu upaya perbaikan bagi masa depan, yaitu dengan mengadakan plastik dengan bahan yang lebih mudah didegradasi oleh mikroorganisme, dengan keseimbangan stabilitas antara pemakaian plastik dan degradasinya serta proporsi tertentu antara bahan asal plastik itu sendiri dengan bahan degradabel. Beberapa kandungan kulit buah markisa sebagai bahan campuran yang degradabel dalam pembuatan plastik ialah pektin, lignin, dan hemiselulosa. Oleh karena itu, kami membuat bioplastik dari  selulosa dalam kulit buah markisa.

Dari penelitian yang telah dilaksanakan diperoleh halusan kulit markisa yang berwarna putih kekuningan dengan bau khas kulit markisa. Halusan kulit markisa diperoleh dari bagian dalam kulit buah markisa yang sudah masak. Kemudian halusan kulit buah markisa dipanaskan dengan dicampur dengan gula pasir dan urea. Dengan adanya penambahan sejumlah air dan dipanaskan pada suhu yang tinggi, maka akan terjadi gelatinisasi. Gelatinisasi mengakibatkan ikatan amilosa akan cenderung saling berdekatan karena adanya ikatan hydrogen. Setelah mendidih kemudian disaring dan dicampur dengan asam asetat sampai pH 4. Pencampuran acetobakter dilakukan setelah keadaan larutan dingin.Larutan yang telah mendingin di masukkan ke dalam Loyang atau nampan tempat untuk memfermentasikan larutan tersebut. Fermentasi dilakukan selama 7 hari untuk medapatkan nata kulit buah markisa. Nata yang telah terbentuk diperas untuk menghilangkan airnya dan setelah itu di jemur untuk mengeringkan nata menjadi lembaran edible film. Proses pengeringan akan mengakibatkan penyusutan sebagai akibat dari lepasnya air, sehingga gel akan membentuk film yang stabil (Careda, Henrique, Oliveira, Ferraz, dan Vicentini, 2000).

Lembaran edible film yang terbentuk di uji sifat mekanik dan uji biodegradasi. Sifat mekanik yang di uji adalah elongasi. Dari hasil yang pengujian diperoleh hasil biodegradasi kulit buah markisa sebesar 57,87% dalam 12 hari. Untuk uji elongasi (uji mekanik) diperoleh kelenturan sebesar 30,19% dengan simpangan baku 13,68% jika diberi gaya sebesar 15,28 N yang memiliki simpangan baku 1,18 N.
Diharapkan ada analisa dan pengembangan metode penelitian lebih lanjut untuk meningkatkan kualitas hasil yang diperoleh.Sehingga diperoleh edible film dari kulit buah markisa dengan kualitas yang optimal.

diambil dari Ringkasan laporan penelitian 50 judul FMIPA UNY yang disusun oleh Asni Ramdani, Nendi Ariyani dan Diani Nur I.

 
8 Komentar

Ditulis oleh pada 6 Juni 2013 in C Karya Ilmiah

 

Bionatural Batik sebagai Inovasi Baru Produk Batik di Indonesia

batik

Batik Indonesia sarat dengan teknik, simbol, dan budaya yang tidak lepas dari kehidupan masyarakat Indonesia. Kekayaan ragam batik yang datang dari beberapa wilayah dan provinsi, menjadi bukti bahwa Indonesia layak menjadi sumber budaya di mana batik tumbuh dan berkembang.

Namun pada kenyataannya,  pendapat tentang pengertian batik pada masyarakat umum saat ini masih belum sepenuhnya benar. Sebagian besar masyarakat memahami bahwa batik adalah sebuah hasil karya budaya Rakyat Indonesia dimana dalam pembuatannya, motif  batik selalu digunakan sebagai tolak ukur, namun ternyata pendapat tersebut tidak sepenuhnya benar. Menurut Widodo, seorang pembatik Indigo di Kulonprogo. Batik adalah sebuah hasil karya Budaya rakyat Indonesia dimana dalam proses pembuatannya menekankan pada teknik pembuatannya yaitu adanya pelapisan menggunakan malam (lilin panas) di atas kain yang akan digunakan sebagai kain untuk membatik, adanya proses pewarnaan dan perebusan (nglorot).

Dari penelitian yang telah dilaksanakan, kami mengunggulkan penggunaan bahan dari alam yaitu berupa getah pisang sebagai pewarna motif dasar dan kulit buah Jelawe sebagai pewarna akhir pada saat proses pencelupan. Selain bahan yang digunakan dari alam, kami juga mengunggulkan adanya nilai edukasi dalam motif pembuatan batik tersebut, tema yang kami angkat adalah motif batik dengan gambar siklus nitrogen, sehingga diharapkan selain untuk melestarikan hasil karya cipta budaya Indonesia, batik dengan motif baru ini dapat menarik masyarakat umum, para pendidik dan memberikan nilai edukasi bagi pengguna dan penggemar batik.

Adapun proses pembuatan bionatural batik tersebut adalah sebagai berikut, Pertama,  menyiapkan semua bahan dan alat yang akan digunakan untuk membuat batik. Kemudian Sebelum membuat desain motif dasar batik. Kain mori yang telah disiapkan direbus dahulu di dalam air tawas agar nantinya warnanya tidak mudah pudar. Adapun  perbandingannya untuk  kain 500 gram : air tawas 100 gram. Setelah air direbus hingga mendidih, lalu larutkan tawas sebanyak 50 gram. Setelah larut, masukkan kain mori 250 gram kedalam rebusan air tawas, panaskan dengan api sedang selama +- 15 menit. Kemudian kain mori dibersihkan dengan air bersih dan dijemur hingga kering.

Kedua, mengambil getah pisang menggunakan sabit dan mengumpulkan tetesan-tetesan getah pisang yang nantinya akan digunakan sebagai pewarna motif dasar  kain.

Ketiga, membuat desain batik bermotif biologi dengan tema Siklus Nitrogen diatas kain mori dengan pensil atau biasa disebut molani.

Keempat, Desain motif batik biologis yang telah di desain menggunakan pensil, kemudian kita lapisi dengan malam menggunakan canting yang telah berisi lilin cair untuk melapisi motif.

Kelima, Bagian dalam desain motif batik biologis yang telah diberi malam tadi kemudian diolesi getah pisang, kemudian dikeringkan. Lalu Kain tersebut di fiksasi menggunakan air tunjung sebagai pembangkit warna pada kain, fiksator tersebut juga aman bagi lingkungan.

Keenam, Kain yang telah diolesi getah pisang dan diifiksasi tunjung tadi kemudian dilapisi malam lagi sebelum nantinya dicelupkan kedalam pewarna. Tujuannya supaya saat pencelupan bahan ke dalam larutan pewarna, bagian yang diberi lapisan lilin tidak terkena pewarna.

Ketujuh, Setelah lilin cukup kering, kain dicelupkan ke dalam larutan pewarna alami, dalam penelitian ini kami memilih menggunakan pewarna coklat kekuningan dari kulit buah Jelawe (Terminalia belerica), dicelupkan sebanyak 4 sampai 5 kali pencelupan. Kemudian difiksasi tunjung lagi.

Kedelapan, perebusan atau nglorot, dimana kain yang telah berubah warna direbus dengan air panas. Tujuannya adalah untuk menghilangkan lapisan lilin, sehingga motif yang telah digambar sebelumnya terlihat jelas.

Kesembilan, Proses terakhir adalah menjahit pinggirain kain batik menggunakan mesin jahit dan benang agar lebih rapi.

Pada pembuatan batik ini dihasilkan warna yang sedikit gelap yaitu kecoklatan, warna coklat tua menunjukkan hasil warna getah pisang pada motif utama, kemudian coklat muda akibat pewarna alami dari kulit buah jelawe.

Dari penelitian yang telah dilaksanakan diperoleh produk batik “bionatural” yang menggunakan getah pisang sebagai bahan pencetak motif. Motif yang dibuat adalah motif berbasis edukasi biologi. Produk “bionatural” batik juga merupakan produk batik yang menggunakan bahan alam sebagai pewarna.

Diambil dari ringkasan penelitian 50 judul FMIPA UNY yang disusun oleh Asni Ramdani dan Ika Feni S

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 6 Juni 2013 in C Karya Ilmiah

 

Tag: ,

“Membangun Kampung Resik di Dusun Kentheng, Banaran, Galur, Kulon Progo sebagai Bentuk Partisipasi Mengatasi Permasalahan Sampah di Indonesia”

      Indonesia merupakan negara yang kaya akan hutan dan lautan, dua kekayaan alam tersebut begitu bermanfaat bagi manusia, namun seringkali justru dari tangan manusia sendirilah yang merusaknya. Seperti yang kita ketahui bahwasanya masyarakat di Indonesia sangat konsumtif dan sisa dari limbah yang mereka gunakan seringkali tak diolah atau diperdayakan sehingga sampah itu menumpuk dan mengotori lingkungan. Adanya fenomena umum tersebut kami sekelompok mahasiswa dari Universitas Negeri Yogyakarta yang terdiri dari Ika Feni S, Asni Ramdani mahasiswa Jurusan Pendidikan Biologi, Dwi Hartanti  mahasiswi Jurusan Pendidikan Kimia, Rianensi Oktavia mahasiswi PGSD PENJAS, Nuur wachid  Abdul Majid mahasiswa P. Teknik Informatika berinisiatif untuk memberikan pelatihan kepada masyarakat kampung tentang pemilahan dan pengolahan sampah sehingga dapat membangun kampung yang resik dan asri, harapan kami nantinya setelah program tadi berjalan, kampung tersebut bisa menjadi salah satu kampung percontohan dalam hal kebersihan, sehingga dapat memotivasi kampung-kampung lain. Adanya Kampung Resik sebagai bentuk kontribusi untuk mengatasi permasalahan sampah yang ada. Kampung tersebut diharapkan menjadi kampung yang dapat mandiri dalam hal pengelolaan sampah, tidak mengandalkan TPA Piyungan, sebagai tempat akhir pembuangan sampah. Munculnya Kampung Resik juga diharapkan dapat meningkatkan pendapatan perkapita warga karena warga Kampung Resik dapat mengelola sampah yang ada sebagai bentuk usaha berbasis profit. Sebagai objek pelatihan kami memilih Dusun Kentheng, Banaran Kulonprogo.

Program ini mulanya kami ajukan dalam Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat (PKMM) dengan judul Membangun Kampung Resik di Dusun Kentheng, Banaran, Galur, Kulon Progo sebagai Bentuk Partisipasi Mengatasi Permasalahan Sampah di Indonesia”. Alhamdulillah beberapa program dan kegiatan yang awalnya hanya terkonsep kini sudah dapat diwujudkan. Untuk mencapai tujuan program ini, maka ada beberapa tahap yang dilakukan yaitu:

  1. Mengajukan surat Izin dan permohonan kerjasama dengan Dinas Lingkungan DIY
  2. Permohonan Kerjasama dengan Dusun Kentheng, Banaran, Galur, Kulon   Progo
  3. Sosialisasi Progam kepada Warga
  4. Workshop Pelatihan Pembuatan Produk Daur Ulang dari Sampah
  5. Pembentukan Struktur Kepengurusan Program Kampung Resik
  6. Pelaksanaan Program Pemilahan Sampah
  7. Pelaksanaan Program Pembuatan Produk Daur Ulang Sampah Anorganik
  8. Pelaksanaan Program Pengolahan Sampah Organik
  9. Pembentukan Koperasi Dusun sebagai Sarana Pemasaran Produk10.  Evaluasi Pelaksanaan Program

DSC01970
sosialisasi dan pelatihanDSC01985

Produk sisa sampah plastik yang telah diolah

Diambil dari Ringkasan laporan PKM M  2012

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 6 Juni 2013 in C Karya Ilmiah

 

Tag: