RSS

Arsip Kategori: D in FLP

Forum Lingkar Pena

Up Grading FLP Yogyakarta 2014

UP Grading FLP

FLP (Forum Lingkar Pena) merupakan salah satu organisasi kepenulisan yang berpijak pada tiga pilar: kepenulisan, keislaman, dan keorganisasian. Organisasi kepenulisan yang bernafaskan Islam ini diresmikan pada tanggal 28 Agustus 2000 oleh Helvy Tiana Rosa di aula Masjid Mujahidin UNY. Saat ini FLP sendiri telah mempunyai 30 cabang di manca negara dan salah satu cabang FLP yang cukup aktif adalah FLP wilayah D.I Yogyakarta.

Jumat, 28 Februari – 1 Maret 2014, FLP Yogyakarta baru saja melaksanakan kegiatan alur kaderisasi bagi anggotanya yaitu up grading dengan tema ‘Wujudkan Penguatan Internal Untuk FLP Yogyakarta Lebih Baik.’ Kegiatan selama tiga hari ini dilaksanakan di sebuah obyek wisata Kebun Buah Mangunan- Bantul dan diikuti oleh 13 peserta. Ceria dan menyenangkan itulah yang terekam dalam permulaan up grading saat itu.

Kegiatan up grading bertujuan untuk meningkatkan kapasitas personal dan penguatan internal anggota FLP. Selain itu para peserta pun diberi tanggung jawab untuk menyiapkan segala kebutuhan pribadi dan teknis acara selama kegiatan berlangsung, sehingga peserta tidak hanya berperan sebagai peserta namun merangkap pula menjadi panitia, di awal pembukaan mereka diminta untuk membuat struktur keluarga dan mendiskusikan segala hal yang dibutuhkan.

Sabtu, dini hari peserta maupun panitia utama memulai kegiatannya dengan menyapa kesegaran alam di kebun buah Mangunan, Kabut putih dan sinar mentari yang mulai terbit menambah keindahan suasana pagi hari itu, Senam ringan dan lantunan sajak menjadi sesi unik yang cukup berkesan bagi para peserta up grading. Kegiatan berlanjut dengan sesi materi yang telah disiapkan oleh panitia.

Sesi pertama membahas mengenai masalah keorganisasian dan analisis sosial yang dibersamai oleh Ganjar Widhiyoga – Ketua FLP Yogyakarta tahun 2005. Dalam sesi ini peserta dijelaskan bagaimana menganalisis permasalahan di masyarakat secara umum hingga permasalah internal FLP secara khusus. Beliau juga menerangkan terkait analisis “SWOT” sebagai sarana untuk menemukan solusi, kemudian bagaimana peserta mampu menyelesaian masalah dengan mengambil sumber penyelesaian dari Al-Quran dan Sunnah yang selanjutnya dibahasakan kepada masyarakat dengan mentransformasikannya menjadi sebuah solusi sosial. Menarik, padat, dan mengesankan itulah rangkuman suasana dalam sesi pertama tersebut.

Sesi kedua dan ketiga adalah sesi gathering antar pengurus harian dan anggota serta pembuatan master plan FLP. Sesi yang dibersamai oleh pengurus divisi kaderisasi FLP yaitu Aulia Rahim ini berjalan lancar namun bersitegang. Masukan dari berbagai pihak pengurus saling terlontar dan membuat suasana diskusi semakin hidup. Dalam sesi ini anggota FLP benar-benar memetik banyak pelajaran bahwasanya sebuah organisasi kepenulisan dapat kokoh ketika berbagai potensi yang ada dapat dipadukan dan adanya pemakluman ketika terjadi sebuah perbedaan pendapat.

Hari ketiga merupakan sesi penguatan ruh literasi islam dalam menghadapi ghowzul fikr, bersama Syifa Uki yang memandu sesi tersebut para peserta diajak menyimak film frozen kemudian membedah dan memetik hal yang tersembunyi dari film buatan orang yahudi tersebut. Sesi terakhir adalah paradigma karya yang dibersami oleh Taufiq DS Suyadhi. Dalam berkarya di dunia kepenulisan para penulis akan selalu dihadapkan dengan berbagai pilihan warna tulisan, sebagai generasi penulis muslim kita harus benar-benar selektif dalam menentukan tema yang akan kita angkat. Suksesnya penulis muslim bukanlah semata ketika karyanya dianggap best seller, akan tetapi ketika nilai kebaikan yang dibawanya dapat disampaikan dan diterima oleh para pembaca.

Banyak pembelajaran yang didapat oleh peserta dari kegiatan up grading tersebut. Tiga hari dua malam beraktivitas bersama membuatnya semakin sadar akan pentingnya bekerja sama dan hidup disiplin. Panitia PH yang telah banyak berkorban seakan memberi gambaran akan kerja-kerja para pahlawan yang senantiasa ikhlas dalam beramal. Adanya masalah dalam sebuah organisasi pun adalah fitrah dan keniscayaan yang harus dihadapi dengan kesehajaan dan harmonisasi kerja yang terus berkesinambungan.

Di puncak acara, sebelum up grading diakhiri, ketua FLP Yogyakarta, Solli Dwi Murtyas menyampaikan beberapa pesan dan evalusi. Ada tiga poin penting yang beliau sampaikan: setiap dari anggota FLP perlu menyadari potensi mereka, pentingnya meningkatkan kultur dan rasa kepemilikan akan  organisasi FLP – anggota adalah unsur penting FLP, memandang produktivitas adalah sebuah proses dan progress. Acara dilanjutkan dengan pengumuman up grading award dan evaluasi keseluruhan yang dibersamai oleh ketua panitia yaitu Adiemurty TS.

Up grading pun berakhir dengan membawa arti bagi tiap anggota dan pengurus FLP. Satu hal terpenting yang harus terus dipegang: bila sebuah aktivitas menulis adalah ibadah, lakukanlah aktivitas itu untuk meraih keridhaan-Nya. FLP Yogyakarya sebagai salah satu bagian organisasi dakwah bil qalam akan terus beproses dan berprogress untuk mencetak penulis-penulis muslim yang mewarnai sekitarnya dengan cahaya cintanya. Terus berbakti, berkarya dan berarti bagi sesama.

Kutipan salah seorang peserta up grading:
“Seberapa yakin kamu mampu mempertahankan, merawat dan menjaga impianmu di jalan dakwah bil qalam ini, sebesar itulah cintamu pada-Nya, karena bagian dari pesan ayat-Nya telah tertulis dalam bingkaian Kalam-Allah: nuun wal qolami wamaa yasthuruun – Demi pena dan apa yang ditulisakannya. Tinta dalam pena Allah tak akan pernah habis, begitu pula semangat kita dalam menggerakkan pena untuk menghidupkan literasi Islam, menyulam kata menjadi makna, menuangkan segala asa dalam kuas keyakinan – Iman.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 6 Maret 2014 in D in FLP

 

Tag:

Forum Non Fiksi sesi ke-4
OPINI DALAM SURAT KABAR

By : Forum Lingkar Pena cabang Sleman

opini-33

(http://image.rakuten.co.jp)

Topik        : Opini dalam surat kabar

Waktu      : Kamis, 21 November 2013

Tempat    : Balairung UGM sebelah selatan

Pemateri : Taufiq DS Suyadhi

Salam. Bagaimana kabar teman-teman? Semoga sehat. Kali ini saya ingin berbagi materi tentang opini dalam surat kabar. Bagi kalian yang gemar membaca koran pastilah tidak asing mendengar tema tersebut. Baiklah mari langsung ke inti topik. ^^

I. Pengertian Opini

Pengertian Opini menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia merupakan pendapat, pikiran atau pendirian. Secara umum

opini adalah pikiran, ide atau pendapat untuk menjelaskan kecenderungan atau preferensi tertentu terhadap perspektif dan ideologi akan tetapi bersifat tidak objektif karena belum mendapatkan pemastian atau pengujian, dapat pula merupakan sebuah pernyataan tentang sesuatu yang berlaku pada masa depan dan kebenaran atau kesalahannya serta tidak dapat langsung ditentukan misalnya menurut pembuktian melalui induksi. Opini bukanlah merupakan sebuah fakta, akan tetapi jika di kemudian hari dapat dibuktikan atau diverifikasi, maka opini akan berubah menjadi sebuah kenyataan atau fakta. opini adalah suatu ekspresi tentang sikap mengenai suatu masalah yang bersifat kontroversial.(Wikipedia). Menurut Cultip dan Center dalam sastropoetro (1987), opini adalah suatu ekspresi tentang sikap mengenai suatu masalah yang bersifat kontroversial.

II. Tujuan Penulisan Opini

Mempengaruhi pembaca untuk ikut membenarkan pendapat atau juga pandangan penulis opini. Selanjutnya pembaca yang sepakat/setuju dengan muatan opini tersebut, akan bersedia mendukung opini tersebut.

III. Sifat Opini

1. Menyuguhkan data/informasi terbaru (up to date)

2. Menjunjung obyektifitas

3. Opini yang berisi pro dan kontra terhadap suatu masalah, harus berimbang (tidak berat sebelah)

4. Opini harus berpihak pada masyarakat umum, mencerahkan dan solutif.

IV. Kebutuhan dalam Menulis Opini

1. Informasi/pengetahuan yang diperoleh dari bahan bacaan, melihat fenomena/peristiwa, dll.

2. Daya pemikiran kritis dan tdak mudah percaya dengan sebuah berita (skeptis).

3. Pemahaman tentang dasar teknik menulis.

V. Bahasa dalam Opini

1. Formal

2. Sesuai EYD

3. Bahasa ilmiah/popular, yaitu bisa diterima oleh pembaca.

VI. Menulis Opini untuk Media Massa

1. Struktur Opini :

a. Pengantar, berisi tentang informasi tentang tema yang diangkat dengan tata cara penulisan yang merujuk pada rumus 5W + 1H

b. Isi, dapat ditulis dengan menggunakan sub-sub judul.

c. Penutup, closing statement (solusi, rekomendasi, pertanyaan yang membuat penasaran, dll)

2. Gaya bahasa dan penulisan disesuaikan dengan “latar belakang” media (target).

3. Rujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)

4. Kalimat, perhatikan EYD:

a. Jelas susunan S-P-O-K nya

b. Jangan banyak menggunakan kalimat majemuk yang bertingkat-tingkat (karena, sebagainya, dst).

c. Perhatikan penggunaan tanda baca.

5. Jangan menggunakan nama pena.

6. Tambahkan nama lembaga

Contoh : Annisa, Pakar Etnobotani (LIPI)

7. Ide harus orisinil (hindari plagiarisme.

8. Kirim opini pada 1 media saja, jangan lebih. Hal ini dikarenakan apabila opini kita nantinya dimuat oleh sebuah media,          sedang di media lain juga ketahuan dimuat maka penulis dikhawatirkan akan di blacklist.

9. Panjang tulisan opini: 2-3 halaman, atau ± 700 kata (ikuti aturan media terkait).

10. Jika mengutip pendapat orang lain, tuliskan sumbernya.

11. Pilih judul yang “eye caching”, dalam artian judul tersebut unik, menarik, mencerminkan isi, nonjok.

12. Opini ditulis dengan melihat “momentum”, yaitu mencari topik yang sedang hangat dibicarakan khalayak.

13. Untuk tema tertentu, penulis perlu menyesuaikan dengan kepakaran ilmunya.

Contoh : Bidang pendidikan, hokum, ekonomi, teknologi, dsb.

14. Jika dikirim melalui email, jangan lupa mencantumkan data diri:

Nama, alamat, email, No. HP, foto (attachment), dan jangan lupa No.Rekening Bank 🙂

 Sekian, info tentang tulisan opini dalam surat kabar, semoga bermanfaat 🙂
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 25 November 2013 in D in FLP

 

Tag: ,

Forum Non Fiksi sesi ke-3 #Resensi Buku

  _Forum Lingkar Pena cabang Sleman_

images (1)

Topik               : Resensi Buku

Waktu               : Kamis, 7 November 2013

Tempat             : Balairung UGM sebelah selatan

Pemateri          : Ikhwan Taufik (berhalangan hadir)

                         Fanny Purwati, (Pengganti sekaligus mc), Solli Murtyas.

           Teman-temanku yang baik, apa sih yang terlintas pertama kali di benak kalian saat mendengar kata “resensi” ? dapat dipastikan hampir semuanya membayangkan tentang buku, tulisan atau sebuah ulasan. Benar tidak?  Ya, terlebih dalam pelajaran Bahasa Indonesia saat di bangku SMP dulu, materi tentang resensi pernah kita kupas. Baik, tetapi tidak ada salahnya kan bila kita mengkajinya kembali.

        Secara umum tindakan meresensi buku dapat diartikan sebagai tindakan berupa memberikan penilaian, mengupas, membahas, dan mengkritisi isi buku. Tujuan dari resensi adalah memberi informasi kepada pembaca akan informasi suatu buku, sehingga pembaca dapat mengetahui hal-hal yang baru dan penting serta kekurangan dan kelebihan dari buku yang diresensi. Pembuat resensi disebut resensator. Sebelum membuat resensi, selain membaca bukunya terlebih dahulu, sebaiknya resensator memiliki pengetahuan yang cukup tentang topik atau isi buku yang akan diresensi.

          Adapun bagian-bagian yang ada dalam sebuah resensi buku pada umumunya adalah sebagai berikut:

  1. Judul buku
  2. Penulis
  3. Penerbit
  4. Genre/kategori (Non fiksi/fiksi)
  5. Tebal halaman
  6. Harga buku
  7. Kelebihan dan kekurangan dari buku tersebut
  8. Sedikit ringkasan naskah dan biasanya terdapat nilai-nilai yang dapat dipetik hikmahnya.

      Bagi orang yang sudah terbiasa menulis resensi tentu bukanlah hal yang sulit untuk mengupasnya, akan tetapi bagi beberapa orang tentu tidak sama. Ada pula yang mengalami kesulitan pada saat menuliskan kritikan pada buku yang sedang dibaca, biasanya hal ini terjadi karena pembaca terlanjur menikmati isi buku tersebut, baik dari segi penggunaan bahasa atau alur cerita yang dibawakan. Nah, untuk mengatasi permasalahan ini ada tips yang harapannya dapat membantu kita untuk memudahkan dalam mengkritisi suatu buku.

       Pertama, kita perlu mencari buku pembanding yang temanya seragam dengan pembahasan buku yang akan kita resensi, yaitu dengan membandingkan isi naskah, baik dari segi pemaparan topik, penyampaian isi, hingga filosofi naskah yang sedang kita baca. Dalam memilih buku pembanding tidak dibatasi pada jumlah buku yang akan digunakan sebagai pembanding, jadi boleh lebih dari 1 buku. Dari situ diharapkan kita mendapatkan kekurangan atau justru kelebihan dari isi buku yang akan kita resensi.

         Sebelumnya, tentu  kita harus menentukan aspek apa saja yang akan digunakan untuk menilai naskah tersebut. Misal, buku yang akan kita resensi berjudul Kitab Cinta dan Patah Hati karangan Sinta Yudisia, kemudian sebagai pembanding, kita ambil buku Serial Cinta karangan Anis Matta dan buku sejenis, karangan Ibn Qayyim Al Jauziyah. Kita dapat menilai bila dibandingkan dengan buku karangan Ust. Anis Matta, beliau lebih menekankan filosofi cinta dari aspek penghambaan kepada Rabbnya, kemudian pada buku karangan Ibnul Qoyyim, beliau membahasakan cinta dengan kalimat – kalimat yang sangat tegas dan lugas, semacam “Cinta harus murni karena Allah, bila tidak maka sia-sialah cinta tersebut”. Selanjutnya kita lihat kembali buku milik penulis pertama, misal kita mendapati penggunaan kalimat-kalimat fiksi untuk membahasakan topik tentang cinta, dilihat dari referensinya, penulis dapat menyerap ide dengan baik tetapi bila disampaikan dengan bahasa yang sama, maka akan menjadi sebuah kekurangan. Nah, dari situ kita mendapat poin untuk mengkritisi buku yang kita resensi, selain itu pembaca juga dapat menilai bahwa kreativitas seorang penulis antar satu dengan yang lain itu berbeda-beda.

           Bagaimana teman-teman? Menarik bukan? Ternyata dalam menulis resensi tidak sesulit yang kita bayangkan. Terlebih menulis resensi buku adalah kegiatan yang sangat bermanfaat. Bagaimana bisa begitu? Ya, karena sebagai seorang yang gemar menulis, publikasi itu menjadi hal yang penting, termasuk publikasi buku dari resensi yang kita buat, dengan menulis resensi minimal dapat meningkatkan produktivitas karya tulis kita, selain itu buku yang sudah kita bacapun menjadi tidak sia-sia, karena hal-hal penting yang ada telah kita rekam dalam sebuah resensi yang kita buat sendiri, sehingga akan lebih mudah untuk diingat, apalagi nilai-nilai positif dari buku tersebut. Satu hal lagi yang terpenting, harapannya setelah membaca resensi buku, orang lain dapat menyerap informasi terkait buku yang sudah kita baca, sehingga melahirkan nilai kebermanfaatan. (AR)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 8 November 2013 in D in FLP

 

Episod PDKT FLP XV

934165_10200299793521010_261436351_n

Bismillahirrohmanirrohim..

Dua hari satu malam, tepatnya tanggal 25 – 26 Mei 2013,  saya dan beberapa anggota FLP angkatan XV menghadiri agenda rutin yang diadakan oleh panitia FLP bagi setiap anggota baru. Terlepas dari perintah seorang qiyadah untuk membingkai pengalaman tersebut dalam rangkaian paragraf lalu me-ngeploudnya, saya harap narasi kronologis ini dapat menyampaikan hikmah dan menjadi gambaran bagi para pembaca, khususnya teman-teman FLP XV yang kemarin belum sempat datang PDKT.

okei sebelumnya, coba tebak apa kepanjangan PDKT? Pendekatan dan Ta’aruf? Hehe.. bukan itu.. Kalau kata panitia, “PDKT mempunyai kepanjangan Pelatihan Dakwah dan Karya Tulis’’, hmm.. diluar dugaan ya ternyata.. 

Saat hari H tiba, kami pun segera berkumpul di tempat dan waktu yang telah disepakati bersama. Berkawan udara pagi yang masih sejuk, sinar mentari yang menghangatkan tubuh, lambaian pohon,  serta niat yang lurus dengan menggandeng Izin dari kedua Orang tua, motor saya pun melesat menuju Pesantren Darul Ulum, Brajan, Potorono, Banguntapan, Bantul, sebuah tempat dimana kami akan menikmati makrab bersama.

7

Kegiatan tersebut dimulai dengan pembukaan, sarapan pagi, games dan perkenalan. Selanjutnya kami langsung dibawa kedalam training Kepenulisan Empatik 1 yang berlangsung selama setengah hari hingga pukul 17.00 WIB. Dalam training empatik ini kami dibimbing oleh Tim Training CWC (Creative Writing Center) yaitu sebuah wadah pelatihan kepenulisan yang didirikan oleh FLP Yogyakarta pada tahun 2001.

Training sesi pertama dibersamai oleh Mbak Rara, materi yang beliau sampaikan mengenai How to – explore idea. Tema ini dilatarbekalangi dari sebuah fenomena permasalahan yang sering dialami oleh penulis pemula yaitu dalam menyusun sebuah kalimat pembuka dan mengembangkan idenya menjadi sebuah karya tulis, hal ini seringkali terjadi karena ketakutan pada kegagalan, sehingga menghambat gerak penulis tersebut. Menurut beliau bila kita ingin menjadi seorang penulis yang baik, maka kita harus mempunyai sifat seperti anak-anak, karena anak-anak selalu jujur, ingin tahu, pantang menyerah, pemberani serta selalu terbuka pada perasaannya. Ambil contoh, seringkali fenomena yang terjadi di bangku kuliah, ketika dosen bertanya, maka hanya sedikit mahasiswa yang berani menjawab atau bahkan mereka pura-pura menulis agar tidak ditunjuk. Hal ini sangat kontras bila dibandingkan dengan pemandangan yang terjadi saat dahulu kita masih duduk di bangku TK, ketika guru bertanya hampir semua siswa mengacungkan tangan untuk menjawab, disini dapat kita petik hikmah bahwa anak-anak mengajarkan sikap pemberani dan tidak takut salah, sedang saat kita mulai tumbuh dewasa maka akan mulai muncul sikap pasif, dan berkembanglah sikap waspada akan takut kegagalan.
Anak-anak juga selalu jujur dan terbuka akan perasaannya, akan semua yang ada dalam hatinya. Oleh karena itu, pada training sesi pertama tersebut, Mbak Rara dengan kelihaiannya merangkai kata demi kata, membawa kami ke suasana yang mendung, membiarkan mata kami terpejam dan merenungkan segala hal yang telah membuat kami merasa sedih, diiringi musik pendukung suasana hingga setiap peserta meneteskan air matanya, bahkan ada yang  sampai menangis tersedu. Setelah itu kami diminta membuka mata kami dan menuliskan pengalaman yang paling menyedihkan tersebut pada selembar kertas yang telah disediakan, lalu menceritakan didepan teman-teman. Pelatihan yang luar biasa bukan? Kami dilatih untuk lebih peka terhadap suasana hati, lalu jujur terhadap perasaan sendiri, terhadap setiap pengalaman masa lalu, agar kami dapat menyampaikan hikmah kepada teman-teman yang lain. Oya satu hal, ditempat tersebut pemikiran kami juga di mind set bahwa antar seluruh anggota FLP itu adalah keluarga. Ya.. kami keluarga, sehingga kami dengan suka rela akan menyampaikan pengalaman kami agar sanak saudara kami yang lain dapat memetik hikmah yang kami tuliskan. Kemudian untuk menstabilkan keadaan, dengan teknis yang tidak jauh berbeda, kami pun diminta untuk mentutup mata kembali akan tetapi kali ini kami membayangkan hal-hal yang menyenangkan dan memotivasi, kemudian menuliskan dan menceritakannya kembali kepada teman-teman.

Training sesi kedua dibawakan oleh Mas Wahyu, kami dibawa ke planet “memilih Ide’’ dengan suasana yang santai, kocak namun sarat pembelajaran. Dari materi tersebut saya belajar bahwa Ide yang baik itu adalah ide yang memiliki karakteristik dan nilai jual, guna mencapai tujuan tertentu. Sebagai penulis ada 3 karakteristik yang penting untuk dimiliki yaitu  BBM (berkarakter, berani beda dan mendunia). Lalu bagaimana agar memiliki ketiga karakter tersebut? untuk memilikinya kita harus memunculkan jiwa yang sensitif atau peka, kreatifitas, berwawawasan, tak lelah mencari pengalaman, serta sering melakukan eksperimen – eksperimen kecil hingga didapat sebuah hasil untuk dikembangkan menjadi ide karya tulis. Materi ketiga dilanjutkan setelah sholat dhuhur, pada sesi ini kami dibawa kedalam planet ‘Pengembangkan Ide’ oleh Pak Lido de Rio. Disini yang dibutuhkan adalah imajinasi, kedengarannya memang mudah, tetapi pada kenyataan seringkali dijumpa kesulitan dalam mengembangkan imajinasi hingga terangkai dalam runtutan paragraf dengan alur yang jelas. Akar dari masalah ini adalah karena pemikiran kita yang terlalu heterogen, ide yang datang tertumpuk dan tercampur tanpa  ada susunan yang sistematis, sehingga dibutuhkan sebuah solusi, salah satunya adalah dengan membuat mind mapping. Mind mapping mudah diingat karena hanya kata-kata kunci penting yang kita tuliskan, selain itu metode ini juga cocok untuk mengatur kerangka berpikir kita dengan cara menulis ide utama di tengah kertas, baru selanjutnya membuat cabang – cabang dari ide utama tersebut. Metode ini cukup berhasil membantu, karena pada dasarnya manusia cenderung berpikir dari hal-hal yang umum baru kemudian pada hal-hal detail dan spesifik.

——- ***——-

Diiringi gemericik rintik hujan para peserta beriringan mengambil air wudhu, tak lama setelah adzan ashar berkumandang syahdu dari masjid samping pondok, menanti waktu pertemuan antara hamba dengan Rabbnya. Setelah bermunajat, kami masuk kembali ke kelas materi dan inilah sesi yang paling menarik ketika selembar kertas telah tersedia di depan saya dan menanti diwarnai dengan tulisan demi tulisan. Saat panitia mempersilakan untuk menulis, wah benar-benar diluar dugaan deh, tiba-tiba suasana kelas menjadi tempat yang paling ramai bahkan lebih ramai dari pasar. Mulai dari musik yang dinyalakan keras-keras, panitia yang mondar-mandir mengganggu dan  mencoba menghentikan konsentrasi peserta, sampai tawaran snack yang sengaja ditaruh di depan saya dan teman-teman peserta lain yang sedang menulis. Great! Justru moment seperti ini yang ditunggu, dimana penulis pemula merasakan bagaimana susah mudahnya menulis dan menuangkan ide-ide mereka hingga memenuhi lembaran kertas kosong tadi. How creative they are). Disini kami kembali belajar bahwa dalam menulis dibutuhkan sebuah kondisi dan suasana hati serta niat yang kuat, sehingga apapun penghalangnya tidak akan menjadi hambatan untuk tetap menulis.
Kemudian training sesi akhir adalah tentang bagaimana cara menuangan Ide. Dalam sesi yang dibersamai oleh Pak Dwitya tersebut ada beberapa buah pembelajaran yang dapat dipetik, diantaranya tentang penulis visioner adalah mereka yang menulis tidak hanya untuk dirinya sendiri tetapi membawa unsur kepentingan yang bermanfaat untuh khalayak umum, tanpa menimbulkan adu domba sehingga dapat dinikmati oleh setiap pembacanya. Kemudian suasana kelas menjadi semakin bersemangat saat kehadiran seorang senior FLP yang menawarkan kami proyek menulis buku secara jama’ah, senior FLP ini adalah penulis novel The Lost Java dengan nama penanya Kun Gea. Saat itu beliau juga menjelaskan beberapa aturan tentang alur penulisan hingga penerbitan buku.

Untitled

Malamnya kami disuguhi penampilan yang sangat istimewa, dengan lampu yang dipadamkan, dan kemudian perlahan 1 per satu lilin mulai dinyalakan.. ya hanya dengan beberapa lilin,  tim Teater Pena FLP Yogyakarta berhasil membawakan musikalisasi puisi berjudul ‘Mata-mata’ karya W.S Rendra, sederhana, namun penuh makna.. Kemudian sekitar pukul 20.00, acara dilanjutkan dengan membangun Istana Impian, dengan dipandu oleh Kak Haris setiap person berhak menyampaikan impian atau harapan mereka sampai satu per sat lilin padam. Pukul 22.00 semua nyala lilin telah padam sehingga Istana impian pun selesai dibangun. Alhamdulillah, malam itu sangat berkesan, kami kembali ke kamar dan bersiap istirahat, berharap esok jauh lebih barakah.

971060_10200299795281054_1761215915_n

Hari ke dua dimulai dengan sholat tahajud di masjid, tepatnya pukul 3.00 dini hari. Terasa udara di luar masih cukup dingin, langit pun masih gelap, namun justru diwaktu-waktu seperti itulah Allah menanti hamba-hambaNya yang ikhlas bermunajat kepada-Nya. Dilanjutkan sampai waktu shubuh tiba kemudian setelah itu kami dibagi lagi menjadi beberapa tim  plus pemandu untuk jalan-jalan pagi sambil berfiksi ria di tiap sudut jalan, I call it, ”the moment that full of fiction”, hehe.. memang sih benar-benar seperti touring dalam dunia dongeng, tetapi justru menjadi lebih seru, terlebih saat pembagian kado silang  ^_^ V

Setelah sarapan pagi, kami langsung memasuki kelas materi, hari kedua ini lebih banyak mengkaji tentang motivasi kepenulisan dari segi da’awi dan penguatan ruhiyah. Pada materi pertama di hari kedua dibersmai oleh Pak Taufiq. Saya masih ingat ada kutipan penting yang boleh jadi bisa digunakan sebagai semboyan bagi setiap penulis, yaitu ‘’Penulis akan mendapatkan apa yang ia niatkan’’, sehingga yang perlu ditekankan disini adalah niatnya terlebih dahulu, jangan sampai kita menulis tanpa arahan yang jelas, sehingga kita tidak tahu goal apa yang akan kita capai. Jangan pula menulis kalau hanya ingin menjadi terkenal, berorientasi honor/royalti, apalagi menjadi sombong dan merendahkan orang lain, nadzubillah.. Pemateri juga menjelaskan bahwa dalam menulis penting untuk diingat bahwa tulisan itu harus mencerahkan bukan menyesatkan, tidak mengandung unsur liberalisasi, sekulerisasi dan plularisasi, serta tidak mengandung unsur ghowzul fikr. Saya pribadi semakin menyadari bahwa dalam Forum Lingkar Pena kita disiapkan menjadi seorang da’i/da’iyah yang gemar menulis bukan penulis yang pura-pura berdakwah. Adapun kebutuhan seorang juru dakwah ada 4 yang paling utama, yaitu Pemahaman aqidah yang lurus, Ibadah yang benar, akhlaq yang baik dan tsaqofah Islam yang luas (wah, ini ambil dari 10 muwashofat ya..? hehe) Alhamdulillah, kini semakin jelas, bahwa saya tidak salah melangkahkan kaki ke dalam Forum Lingkar Pena, semoga barakah harapku.

“Karya tulis tidak harus selalu dalam bentuk buku atau tulisan pada media massa, bisa saja kita menulis berupa tulisan singkat di website islamiyyah yang lurus, bisa juga berupa puisi untuk semangat dakwah dan mengupdate status yang mengajak pada kebaikan melalui jejaring sosial’’ ungkap Pak Taufiq. Materi kedua dibawakan oleh Ustad Yusuf Maulana dengan tema yang cukup berbobot yaitu ‘’Belajar Menjadi Penulis Bekarakter’’. Karakter merupakan ciri khas utama bagi seorang penulis, maybe not be first but be different!’ Jadilah yang berbeda dengan karakter tulisanmu sendiri. Karakter itu masalah komitmen dan visi, coba bayangkan betapa banyak tulisan yang hadir di tengah kita, tetapi seberapa banyak yang menyentuh jiwa? Ustadz Yusuf menjelaskan agar penulis itu mempunyai sikap Percaya Diri dengan karyanya, kita hanya perlu fokus pada karya, tetapi tidak dengan mengorbankan idealisme, dengan begitu tulisan itu akan mengalir hingga menghasilkan sebuah karya yang menyatu pada jiwa penulisnya. Penting pula untuk diwaspadai jangan sampai kita menjadi penulis yang tidak sehat, hanya karena tulisannya sudah dirasa baik, bagus dan berkarakter tetapi jadi lemah dalam sikap dan sifat.

Usai materi dari Ustad Yusuf Maulana, dilanjutkan penampilan haflah bagi tiap kelompok yang telah ditentukan pada saat TM Pra PDKT, kelompok saya saat itu mendapat tema Opera van FLP, dari temanya saja sudah terbaca bahwa haflah jenis ini harus mengandung nilai humor, namun karena anggota kami ada beberapa yang berhalangan hadir, sehingga perlu persiapan dadakan untuk penampilan haflah tersebut. Seusai penampilan rasanya sangat lega, hehe… Setelah semua tim peserta menampilakan haflah sesuai temanya masing-masing, kemudian kami menyaksikan hiburan drama dari Tim Teater Forum Lingkar Pena. Drama yang mereka tampilkan menceritakan sebuah negeri pena, dimana kebutuhan hidup dihasilkan dengan menulis, drama yang penuh imajinasi ini berjalan dengan baik dan menampilkan banyak hikmah yang dapat dipetik.

Memasuki materi terakhir adalah penjelasan tentang ke-FLP-an, materi ini dibawakan oleh Pengurus harian FLP wilayah yaitu Pak Solli, Pak Taufiq, Pak Lido de Rio, Mbak Haruna Aqiela dan Mbak Rima. Sesi ini banyak mengupas tentang apa itu FLP, struktur dan pengurusnya, agenda, devisi hingga progam kerjanya, dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab. Akhirnya, seluruh materi demi materi telah selesai kami lalui, bersyukur rasanya dapat mendapatkan banyak wawasan dan saudara baru selama dua hari itu.

2

Puncak acara  ditutup dengan beberapa pengumuman perlombaan serta penetapan ketua angkatan. Alhamdulillah, 2 hari 1 malam terlalui sudah, banyak yang didapat dan tersampaikan, banyak ilmu  dan wawasan yang terserap.
semoga tak hanya tersimpan rapi dalam episod kecil hidup ini, namun dapat kami kembangkan di jalan yang Allah Ridhoi. aamiin

00

8881_10200299803241253_1505859160_nNB : foto-foto diambil dari grup FLP Yogyakarta dan http://www.facebook.com/PondokPesantrenDarulUlum

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 6 Juni 2013 in D in FLP

 

Tag: