RSS

Arsip Kategori: E Keluarga dan Parenting

Ibu, Pendidik Pertamaku

recovery.png

Dialah Ibu, wanita mulia yang paling berhak atas anaknya, yang karena kemuliaannya, Rasulullah mendudukannya 3 kali lebih utama sebelum ayah.

Terlampau banyak kebaikan bila harus diuraikan dengan kumpulan kata. Yang kutahu, Ibulah pendidik pertamaku, yang selalu bersabar mendidik dengan ketulusan dan akan menjadi tegas kala aku berlaku salah.

Jauh sebelum aku mengenal istilah dakwah, Ibu telah mengajarkan pentingnya berbagi kebaikan atau melerai sebuah pertengkaran.

Jauh sebelum kita dewasa dan pernah menyimpan rasa suka, Ibu telah mencurahkan kasih sayang pada anaknya, bahkan sebelum melihat fisiknya secara langsung.

Ibu, ya dialah orang pertama yang paling berhak meraih cinta dari anaknya, meski kasih sayang ibu jauh lebih tak berbatas.

Inspirasi dan pembelajaran, sarat terlukis pada sosoknya. Ibu biasa yang menjadi luar biasa karena ketulusannya. Ibu yang memilih ayah karena kesabaran dan kesholihan, yang kuat menanamkan karakter pada anak-anaknya.

Kini, saat Allah beriku kesempatan untuk banyak belajar mengelola dan mendidik anak-anak di sekolah. Aku semakin sadar bahwa suka duka itu pasti ada, tapi keyakinan bahwa di antara mereka kelak akan menarik kita ke surga, itulah pembelajaran bermakna, seperti yang ibu ajarkan:  bahwa mendidik butuh ilmu, kesabaran dan kesandaran yang kuat Pada-Nya.

Alhamdulillah, Puji Syukur hanya untukMu Yaa Allah..

 
 

Tag: ,

Hangatnya Pelukan Ibu

295960_519235148093277_1860194517_n

Pelukan hangat seorang ibu bak pelepas dahaga di terik siang,
Hangatnya senyuman, ikhlasnya bimbingan
Seperti kuatkan kaki ini untuk bertahan,

Malu-malu, polos, kebocahan, mungkin itulah yang melekat padaku kala itu
Tapi sapaan hangatmu seakan mengajakku lebih dekat
Meski tatap muka saja belum pernah

Perlahan namun pasti, aku merasakan betapa kasih sayang itu menular
Saat pertama jumpa dan kau mencari namaku, aku pun bersegera mencium tanganmu
Engkau berusaha mendekati ramah, dengan cinta dan celupan ukhuwah,
meski tanpa ikatan darah

Ibu, tapi baru kutahu sekarang
Di balik kasih sayang yang selalu kau tebarkan
Di balik cinta dan persaudaraan yang syahdu itu
Engkau mengidap sakit yang tak ringan

Ah Ibu, kenapa engkau tak pernah cerita
Bahkan aku baru tahu sekarang
Saat kau telah berangkat ke negeri pad nabi

Ibu,
mungkin fisikmu mulai lemah,
Tapi ruhiyahmu semoga selalu kuatkan langkah

Dalam temaram cahaya malam
dan iringan surah Al-kahfi

image

 
 

Tag:

Cahaya Rindu pada Ibu

happy-muslim-family-cartoon-3-gambar-kartun-muslim-ibu-dan-anak

Bersinar kau bagai cahaya
Yang selalu beri ku penerangan
Selembut cinta kasihmu kan
Selalu ku rasa dalam suka dan duka

Kaulah ibuku cinta kasihku
Terima kasihku takkan pernah terhenti
Kau bagai matahari yang selalu bersinar
Sinari hidupku dengan kehangatanmu

Bagaikan embun kesejukan hati ini
Dengan kasih sayangmu
Betapa kau sangat berarti
Dan bagiku kau takkan pernah terganti

Kaulah ibuku cinta kasihku
Terima kasihku takkan pernah terhenti
Kau bagai matahari yang selalu bersinar
Sinari hidupku dengan kehangatanmu

Kaulah ibuku cinta kasihku
Pengorbananmu sungguh sangat berarti
Kaulah ibuku cinta kasihku
Terima kasihku takkan pernah terhenti
Kau bagai matahari yang selalu bersinar
Sinari hidupku dengan kehangatanmu

(“Ibu” oleh Haddad Alwy dan Farhan)

Sepenggal lirik di atas tampaknya teramat syahdu bila didengar oleh seorang anak yang tengah membendung rindu pada ibunya. Rasa rindu yang diselimuti kekaguman akan sosok malaikat dunia ini. Perjuangan, pengorbanan dan ketulusan cintanya memang tiada banding. Teman-teman pasti pernah mengalami kenangan-kenangan yang tak terlupakan bersama ibu kaliankan? Entah kenangan saat berpeluh bersama, memasak bersama, tertawa bersama atau berpetualang bersama, yang pasti kenangan bersamanya adalah kenangan manis yang tak mudah lekang begitu saja.

Pernahkah teman-teman terbangun dari tidur di tengah malam karena memimpikan ibu kita sedang sakit atau tertimpa suatu hal yang buruk? Kalau pernah, barangkali secepat kilat kita akan bangkit dari baringan, lantas mengucap istighfar dan menghampiri ibu kita dan sejurus kemudian segera memeluk tubuhnya. Seorang ibu memang memiliki ikatan yang teramat kuat dengan anaknya, sejak kita berada dalam rahim pun kasih sayangnya sudah dapat kita rasakan melalui  nutrisi yang dikonsumsi oleh ibu kita dan sari patinya tersalurkan ke tubuh kita yang masih berbentuk janin. Pun hal yang sama juga pasti pernah dialami oleh seorang ibu yang baru saja memimpikan anaknya. Di suatu pagi dini hari ibu pernah meneleponku dan tiba-tiba menanyakan keadaanku dengan penuh kekhawatiran. Padahal saat itu aku baru ditinggal pergi sebentar, ya baru satu hari saja, eh rupanya ibu sudah khawatir begitu, usut punya usut rupanya ibu baru saja memimpikan kalau terjadi sesuatu padaku.

Hati-hati juga akan nasihat dan kata-kata ibu kita, karena ucapannya bisa menjadi doa. Saat kita masih kecil tentu kita pernah mengalami masa-masa bandel, ngeyel dan rewel, kalau sudah begitu ibu akan berusaha mengarahkan kita agar tidak nakal dan menuruti nasihat-nasihatnya. Namun namanya anak tetap saja jiwa keingintahuan dan hiperaktifnya sulit dikendalikan. Bisa jadi suatu ketika kita nekat pergi jalan-jalan atau main ke rumah teman tanpa izin padahal sebelumnya ibu sudah memperingatkan untuk segera pulang dan tidak boleh main terlalu lama dikarenakan seorang anak harus banyak istirahat. Pada ujungnya benar deh, di jalan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan mulai dari ban yang gembes atau sepedanya nabrak tiang atau malah dikejar anjing.. banyak lah ya..

Teman-temanku yang baik, seorang Ibu sudah sepantasnya kita bahagiakan, kita banggakan dengan mendoakannya, dengan membantu meringankan pekerjaan hariannya. Ibu adalah pelita bagi anak-anaknya, di mana saja seorang anak berada sesungguhnya hati seorang ibu selalu mengingatinya, seperti embun pagi yang merindu akan hadirnya matahari, seperti mentari yang menghangatkan bumi, seperti langit yang menanti warna indah pelangi. Ibu adalah cinta pertama bagi anaknya, cinta pertama setelah kecintaan mutlak pada Tuhan dan junjungannya. Ya, sama halnya bagi seorang ibu, cintanyalah yang pertama menyapa kita. Tiada jeda, tiada jarak, tiada hamparan sesal meski kala melahirkan kita tentu penuh rasa sakit.

Ibu bagai malaikat dunia yang memberi kelembutan dan sayap harapan ketika kita tengah terpuruk, membenarkan segala asa, memberi semangat pada jiwa dan membeningkan segala prasangka. Lantunan doanya terseduh mesra penuh harap pada Tuhan, agar Tuhan senantiasa memberikan Cinta-Nya bagi kita, telapak kakinya adalah Surga, keridhaannya adalah kunci terbukannya pintu keridhaan Tuhan, seorang ayah bahkan tak akan pernah mampu menggantikan peran sosok ibu, betapapun perjuangan seorang ayah penuh peluh dan tetesan keringat.

Ibu kita seperti cahaya bagi kita, cahaya yang senantiasa memberi kasih sayang melebihi siapa pun di dunia ini. Cahaya yang membuat Nabi kita meyebut namanya tiga kali tersebab perintah dari Tuhan. Pantaslah kita membalas kasih sayang seorang ibu dengan sebenar-sebenar ketulusan, sebenar-benar keikhlasan hingga segala rasa rindu tersampaikan padanya. Doa jangan berhenti untuk selalu dipanjatkan, karena Tuhan menyayangi hamba-Nya yang senang mendoakan orangtuanya, untuk ibu khususnya.

Sampaikan salam rindu untuk ibu bahwa anak-anakmu kagum pada ketulusan dan pengorbananmu…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 7 Februari 2014 in E Keluarga dan Parenting

 

Cinta Seorang Adik

130846

Gelap gelita di sini
Sama gelitanya hati
Hidup hari ke sehari
Esok yang indah umpama mimpi

Bebunga yang baru berputik
Berguguran di setiap detik
Di mana tanda setia saudara
Di himpit derita tiada siapa
Sedia membela

Biar terbatas langkah
Tiada yang menyebelahi
Demi satu amanah
Semangat membara berapi
……

(Hanya Takdir- Inteam)

[aiiih sok bernasyidd nih atsa -_-‘]

Di antara sekian banyak kodrat Allah bagi hamba-Nya. Di antara sekian banyak Rahmat Allah yang tak sanggup terhitung, ada satu kodrat di mana setiap dari kita tak pernah bisa menebaknya, jangankan menebak, membayangkan pun terkadang tak sampai. Dia adalah takdir. Kita hanya dapat mengambil pelajaran dari takdir para khalifah terdahulu. Di mana perjuangan telah tepampang jelas dan bisa kita petik hikmah dari setiap mujahadahnya, para pejuang  adalah mereka yang mentadbir bumi dan ikhlas dengan segala takdir yang telah tertulis. [Eh barusan ane nulis apa? hehe 0,O. Alhamdulillah Yaa Allah Takdir-Mu begitu Indah ❤ ]

Salah satu takdir yang telah Allah hadirkan padaku adalah menjadi seorang adik.
Aku mensyukurinya.. alhamdulillah semoga bisa menjadi adik di mana ghiroh pada saudaranya begitu besar, meski mungkin tak sebesar ghiroh salah seorang tokoh idolaku – ustad Rahmat Abdullah. Entah, tetapi ada bashiroh– pandangan batin yang membuatku ingin selalu peduli padanya. Tak peduli berapa kali ku memutar film Sang Murabbi dan mengulang bagian pengutaraan ustad Rahmat pada adiknya tercinta dalam sebuah balutan surat. [*mata berkaca-kaca*]

….
Nawawy adikku, satu hal yang harus kau pahami kita hidup tak sendirian di dunia ini, ada tata aturan yang mengikat yang bila dilanggar maka akan terasa sekarang juga, baik berupa kerugian kehormatan, kesehatan, apalagi yang bernilai. Marilah kita menarik pelajaran dari masa lalu, menarik manfaat, mensyukuri kenyataan baiknya, dan menghindari kenyataan ruginya agar tak terulang lagi. Saya yakin, betapapun jauhnya kita selama ini namun engkau tentu tidak menutup diri untuk satu dua patah kata dariku sebagai tanda bahwa saya masih punya hati untuk memahami dan menghayati perasaan orang lain. Maafkan daku atas segala kealpaan, terimalah kebenaran dari manapun datangnya.
Terima kasih. Salamku. Rahmat Abdullah. 
[yang ini beneran spechless]

Sepenggal cinta seorang kakak untuk adiknya. Bedanya beliau adalah seorang kakak, sedang aku hanyalah seorang adik yang tak kuasa berbuat banyak – dan saya bukanlah siapa-siapa.. Meski begitu, kiranya aku boleh mencontoh ekspresi cinta Sang ustad. [Ekspresi cinta? hoo berat]

Sejak lampau, aku memikirkanmu saudariku.. [Eh kita saling memikirkan nggak ya ? :v]
Biar terbatas langkah ku mampu memasuki duniamu, biar terbatas waktu ku mampu menemanimu, biar terbatas pemikiran ku mampu menyamakan cara pandangmu. Ya, maafkan tiap batas, kealpaan dan kekhilafan adikmu ini, kak. Biar begitu, ada satu hal yang kuyakin tiada batas di dalamnya: “Keinginan merasakan Cinta”. Cinta Abadi karena Allah, itu yang kutahu terjemahan cinta kak.. Entah bagimu, tapi ku yakin kau akan bahagia bila mau menempuhnya bersama dalam kasih sayang Allah 🙂 Tetap semangat mengejar Cinta-Nya ya kak.. Cinta yang kala kita mengekspresikannya maka cahayanya akan semakin berpendar, cinta yang kala kita mengejar Cinta-Nya maka Rahmat-Nya akan terus mengalir untuk kita. Segera pulaang ya Mbak Intan, jalan-jalan ke Singapore dan Malaysianya dilanjut besok aja ^^ Kangeen eh :p  [wuzzz cinta cinta cinta lalala]

Seperti Pesan Idola dunia yang kurindu pertemuannya kelak di tempat Abadi : “Tidak sempurna iman seseorang itu selagi dia tidak mengasihi saudaranya sebagaimana ia mengasihi dirinya sendiri.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).
Begitulah rasa kasihku padamu, hanya karena ALLAH SWT. [ Aamiin Yaa Robb]

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 27 Januari 2014 in E Keluarga dan Parenting

 

Tag: , , ,

sekedar syair

cinta dan kesabaran
senyum dan kebaikan
paduan nyata yang sarat tauladan

lahan terbuka lebar untuk bercerita
lahan untuk berbagi kisah maupun bernasihat

meski kini
lahan itu tak sekokoh dulu
Dimana waktu yang teramat luas
kini mulai terkikis

kesibukan demi kesibukan
Hingga hanya kumpulan menit tertentu
atau saat moment senggang tengah menyapa

tak apalah,
Hati ini cukup yakin
Bila kau tetap menjaga dalam imajiner doa
dalam kelelahan dan keletihan
dalam sujud malam yang panjang

Tetaplah terjaga dalam kebaikan

Berteman QS. Lukman : 12 -14
Selamat Hari Ayah 🙂

ayah

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 12 November 2013 in E Keluarga dan Parenting