RSS

Arsip Kategori: Tarbiyah

Engkau Habiskan untuk Apa Masa Mudamu?

manfaatkan-lima-perkara-sebelum-lima

“Do, kamu nggak sholat Isya’ ke masjid?” Tanya Mbak Rini, kakaknya semata wayang.

“Ah, udah pernah Mbak!” Jawab Dodo ketus.

“Kamu tau kan, laki-laki itu wajib sholat di masjid, apalagi Ramadhan gini bisa sekalian tarawih, udah ke masjid dulu sana..”

“Ih.. kenapa sih mbak Rini, ngatur-ngatur hidupku banget, aku masih muda mending main-main dulu ma temen, Udah ya aku mau nge-pump!”

 

Kejadian seperti sepenggal dialog di atas boleh jadi masih banyak kita temui di lingkungan kita, atau mungkin kamu pernah menghadapi langsung orang seperti Dodo tersebut. Seorang anak muda yang senang menghabiskan hidupnya untuk sekedar memuaskan keinginan diri. Ia menganggap kalau hidupnya masih panjang, “taubatnya nanti aja kalau udah tua,” begitu pikirnya. Padahal kita tahu kalau ajal nggak pernah melihat tua dan muda.

Bukankah Islam sangat memberikan perhatian besar kepada para pemuda, khususnya anak muda muslim dengan memberikan pilihan kepada hal-hal yang mendatangkan kebaikkan untuk dirinya, orang lain bahkan akhiratnya? Jangan sampai kita seperti orang-orang merugi yang menyesali masa mudanya karena tak digunakan dengan baik dan melakukan hal-hal yang bermanfaat.

Sadarkah, kadang kita merasa sudah sangat paham dengan diri sendiri, tanggal lahir kita, bahkan tidak jarang sebagian dari kita selalu merayakannya setiap tahun: hari lahir, ulang tahun, milad atau apapun yang orang umum sering menyebutnya. Padahal jelas tidak ada satupun yang tahu sampai kapan usia kita. Berapa lama lagi kita akan hidup di dunia ini?

Allah subhanahu wata’ala dengan tegas telah mengingatkan kita dalam sebuah potongan ayat yang artinya:

“Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui apa yang akan dilakukannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Surah Luqman: 34)

Lalu, adakah alasan bagi kita untuk menunda-nunda berbuat baik?
Bila kalian merasa berbeda dengan anak muda pada umumnya yang gemar hang out, ke diskotiksaling mengadu kekuatan dan kegiatan lain yang kurang kerjaan banget, seharusnya kalian bersyukur karena enggak semua anak muda itu mau dan berani meninggalkan kegiatan tersebut.

Misal nih, sejak remaja, kalian milih aktif di organisasi sosial, masjid, nggak mau pacaran, banyakin ibadah, belajar dan lain-lain, sampai kamu dibilang ndesoo sekalipun, abaikan aja. Karena ada yang lebih penting untuk kita pikirkan, yaitu sebuah pertanyaan yang semoga kita semua kelak dimudahkan buat menjawabnya:

“Engkau Habiskan untuk Apa Masa Mudamu?”

Pertanyaan inilah yang akan diajukan kepada setiap jiwa yang ditiupkan ruh oleh Allah hingga ia habiskan masa mudanya di dunia. Seperti yang diberitakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam salah satu haditsnya:

“Tidak akan bergeser kaki anak Adam (manusia) pada hari kiamat nanti di hadapan Rabbnya sampai ditanya tentang lima perkara: umurnya untuk apa dihabiskan, masa mudanya untuk apa dihabiskan, hartanya dari mana dia dapatkan dan dibelanjakan untuk apa harta tersebut, dan sudahkah beramal terhadap ilmu yang telah ia ketahui.” (HR. At Tirmidzi no. 2340)

Betapa Maha Kuasa Allah dengan segala kebesaran-Nya. Sekarang coba kita bermuhasabah, sudahkah kita menggunakan masa muda kita untuk hal-hal yang bermanfaat yang mendatangkan keridhaan Allah subhanahu wata’ala?
Ataukah kita isi dengan perbuatan maksiat yang mendatangkan kemurkaan-Nya? naudzubillah.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 4 Juli 2014 in Tarbiyah, Uncategorized

 

Tag:

Kepingan Hidup Para Nahkoda

461093_korabl_parusnik_more_1920x1280_www.GdeFon.ru_-750x500

Maha Suci Allah yang masih memberi kita usia untuk memahami hal-hal yang sulit untuk kita pahami. Maha Sempurna Allah yang senantiasa menghadirkan kemudahan setelah kesulitan, memberikan guru untuk belajar dan teman-teman untuk berbagi.

Akhir-akhir ini, aku banyak merenung akan arti sebuah nilai dalam perjalanan hidup. Bila ingat kembali pengalamanku mengenal dakwah, rasanya tak pernah kubayangkan akan berkecimpung dengan dunia politik sedalam ini, mengenal para qiyadah lebih dalam dan menjadi bagian pelayan kendaraan sebuah jalan dakwah.

“Bersyukur,” satu kata yang paling pantas untuk mewakili fantastisnya skenario Allah dalam membawaku mengenal tarbiyah. Dulu aku memang sempat ragu akan kelurusan jalan juang ini. Mengapa? karena mindsetku yang terbentuk saat itu “Islam ya Islam, agama yang bersih, sedangkan politik pada umumnya sebaliknya, dekat dengan hal yang kotor, kekuasaan dan tipu daya, dan kurang layak rasanya kalau agama dipakai sebagai sarana berpartai”. Sebagai seorang siswa dengan seragam putih abu-abunya, waktu aku tahu kalau dakwah ini berhubungan dengan partai, pastilah muncul kegejolakan yang menimbulkan banyak pertanyaan “mengapa” pada benakku. Terlebih aku bukan dari keluarga yang beranut kuat pada sebuah partai dan aku terbiasa loyal dengan berbagai golongan dan lapisan masyarakat yang beragam. Tentu partai berlambang padi dan bulan sabit ini menjadi tantangan tersendiri. Ya, meski begitu, nampaknya takdir Allah telah membawaku untuk terus berpijak di jalan ini dengan kesetiaan menjalani aktivitas tarbiyah, secara otomatis aku pun berkecimpung dengan mereka. Aku cukup mengenal apa-apa yang dikerjakan di kantor partai tersebut, selama ini yang kurasa kami tidak pernah merasa dirugikan, justru aktivitas dakwah ini yang sering mendapat fasilitas dari partai tersebut, dan tak perlu dipungkiri banyak kulihat orang-orang shalih di dalamnya, kekeluargaan dan pergaulannya pun amat terjaga.

Alhamdulillah, momentum pemilu tahun ini sungguh menjawab semua rasa penasaranku dahulu. Salah besar bila dakwah berujung pada partai, tapi partailah yang saat ini menjadi kendaraan berenergi besar untuk memajukan dakwah. Bila banyak orang di luar sana mencibir akan kasus konspirasi besar yang sedang melanda mantan presiden partai ini. Aku justru banyak belajar dari kesabaran dan tingginya tingkat ketawakalan beliau. Aku tidak mengatakan bahwa partai ini adalah partai yang terbaik, begitu juga jama’ah ini, karena kita layaknya kumpulan manusia, tentulah banyak goresan khilaf yang terukir. Meski begitu, aku sering tersentuh dengan kisah perjalanan para kader dalam berjuang untuk umat dan keluarganya.

Semoga kisah ini mampu menjadi renungan kita semua. Ini cerita seorang kader mantan anggota legislative DPRD di sebuah daerah di DIY, beliau menyampaikan bahwa penghasilannya setiap bulan sekitar 8jutaan plus tunjangan, sedang setiap tahun proposal-proposal permohonan dana yang masuk untuk agenda-agenda dakwah hampir 500 juta-an. Jadi penghasilannya ya dipakai untuk itu, sisanya sama beli bensin. Dalam akhir kalimatnya pun beliau menambahkan,”Ya kalau istri nggak kerja, nggak tau hidup dari mana..”. Coba bayangin gimana perasaan kalian? Udah mikir keras buat kesejahteraan rakyat, masih harus banting tulang untuk menghidupi keluarganya.

Kedua, ini hanya potongan cerita dari kebiasaan Ustadz Anis Matta, sebagai seorang pemimpin partai, beliau tentu sangat lelah, pernah suatu ketika saat perjalanan kampanye akbar menuju kota Solo, seharusnya itu waktunya beliau istirahat, namun justru beliau hanya duduk sembari memuraja’ah hafalannya. Ujar beliau, “Ya, beginilah istirahat saya..” Subhanallah.. sosok qiyadah yang amat dekat dengan Rabbnya, hingga kelelahan pun tak dirasa.

Lalu Ustadzah Yoyoh Yusroh, ummahat dengan ketiga belas putranya, saat itu beliau menjabat sebagai salah satu dari ke-empat orang pimpinan Komisi VIII DPR yang membidangi masalah agama, sosial dan pemberdayaan perempuan. Beliau pernah menyampaikan: “Hal yang terpenting untuk menegakkan amar ma ruf ini adalah dengan memberikan contoh secara nyata serta melakukan pendekatan secara persuaif sehingga tidak menimbulkan rasa antipati dari orang lain,”paparnya. Di samping berdakwah, mengenai money politikpun dirinya tidak bergeming sama sekali, bahkan sangat tegas dan berhati-hati. Di sela kesibukannya itu beliau masih saja menjaga tilawahnya minimal 3 juz perhari. MasyaaAllah, bahkan nampaknya kita yang masih punya kelonggaran waktu lebih banyak dari beliau, sangat sulit mengatamkan 3 juz perharinya.

Itu baru secuil cerita yang mungkin bisa kita petik, masih banyak teladan-teladan yang lainnya, seperti kisah teladan anggota DPR-RI dengan 10 putra-putrinya yang menjadi bintang Qur’an, atau perjuangan para caleg yang sampai mengeluarkan segala investasinya hingga hutang kesana-kemari demi kepentingan dakwah, bahkan bisa jadi penghasilannya habis untuk melunasi dan menanggung kegiatan-kegiatan dakwah ke depan. Padahal mereka juga punya keluarga, lalu siapa yang memenuhi kebutuhan hidup mereka? Pernahkah pikiran kita menalar sampai sejauh itu?
Ya, jawabannya hanya satu: Allah.

Jika ditanya tentang kisah-kisah perjuangan para pemimpin dan kader dalam partai ini, jujur aja semalam suntuk pun tak akan cukup untuk kutuliskan, yang aku tahu dakwah ini mengajak kita tidak hanya untuk mengorbankan waktu kita, tenaga, pikiran, materi, tapi juga keluarga, perhatian dan bahkan tempaan-tempaan yang seringkali membuat kita merasa tak kuat untuk terus bertahan.

Teringat pesan seorang ustadz kepada kami sebelum beliau berangkat ke Senayan beberapa hari yang lalu, beliau banyak bercerita bahwasanya jama’ah ini dulunya sangat kecil, namun saat ini Alhamdulillah kadernya sudah semakin pesat. Beliau juga menyampaikan bahwa dakwah ini masih membutuhkan kontribusi, dan Insyaa Allah kita bisa hidup dari kontribusi itu. Saat mendengar cerita bagaimana sekolah-sekolah berbasic tarbiyah, mulai didirikan hingga kini mulai menjamur, dan berbagai lapangan kerja yang terus bertambah tentu semuanya nggak instan. Di samping itu yang kutahu banyak para kader yang dituntun untuk terus mengejar pendidikannya, memperbaiki skillnya tanpa melupakan kodrat mereka sebagai makhluk ciptaan Allah. Bukankah itu salah satu bentuk nyata dari perwujudan perbaikan keadaan masyarakat untuk negeri Indonesia? Jelas bukan, bahwa dakwah ini tidak semata mementingkan kepentingan sepihak, namun upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengusahakan terbentuknya kumpulan umat yang lebih baik.

Begitulah sedikit cuplikan akan manis asam perjalanan para nahkoda dakwah dalam beramar ma’ruf nahi mungkar, semuanya butuh perjuangan yang tidak mudah, dan kunci hidup mereka hanya satu: niat karena Allah, karena niat dekat dengan iman, setelah itu ikhtiar, doa dan tawakkal. Bila ustadz Syatori pernah berkata: “Hidup adalah perjalanan meninggalkan dunia menuju akhirat.” Semoga Allah senantiasa menjaga para nahkoda dakwah ini dalam menjalani hidupnya untuk mencapai cita-cita mulia di akhirat nanti.

aamiin.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 1 Mei 2014 in Tarbiyah

 

Tag:

Menariknya Kegiatan Festival Garuda Keadilan Jogja

1922230_10201776765646529_527773811_n

http://www.fimadani.com/gk/

Generasi muda adalah para calon pemimpin di masa depan. Kejayaan atau kehancuran bangsa ini banyak ditentukan oleh kualitas generasi mudanya. Bila pemudanya baik, maka baik pula negeri tersebut. Oleh karenanya sejak dulu hingga sekarang pemuda menjadi pilar kebangkitan suatu bangsa. Pemuda dengan segala potensinya memang dilahirkan untuk menorehkan sejarah di dunia. Terlebih jumlahnya yang sangat massif dan potensi serta semangatnya yang begitu besar akan sangat berpengaruh pada kemajuan bangsa, meski begitu semangat mereka perlu diarahkan agar tetap berada dalam koridor yang benar.

Menjadi sebuah refleksi, saat kita mendapati banyak dari generasi muda saat ini mulai terpengaruh oleh arus global. Budaya baru, pengaruh-pengaruh yang merusak, masuk tanpa bisa dicegah. Potensi dan pandangan mereka tidak terarah, sehingga hanya menjadi masalah bagi bangsanya. Dari situlah mulai muncul beberapa permasalahan seperti tumbuhnya sikap individualis, kebanggaan berlebih terhadap budaya asing, tawuran pelajar, hingga terjerembab dalam narkotika, pornografi, dan seks bebas. Permasalah-permasalahan itu dapat terkikis salah satunya dengan memasifkan kegiatan-kegiatan positif yang dapat membangun karakter seorang pemuda dengan akhlak yang baik.

Memandang permasalahan pemuda yang saat ini semakin beragam, sebuah komunitas pemuda Islam yang biasa disebut Garuda Keadilan (Gerakan Muda Keadilan) DIY yang bekerja sama dengan aktivis dakwah sekolah kota Yogyakarta mengadakan serangkaian kegiatan Festival Garuda Keadilan (FGK) sejak bulan Februari hingga Maret 2014. Acara ini diadakan dengan tujuan untuk meningkatkan kecintaan pemuda kepada bangsanya serta mendorong mereka untuk berani berkarya dan berkorban untuk bangsa Indonesia.

Sebelum puncak acara Festival Garuda Keadilan, panitia mengajak para pemuda untuk mengikuti beberapa serangkaian kegiatan dari Garuda Keadilan, seperti lomba desain maskot, aransemen lagu, fotografi, mancing mania dan futsal competition. Selain itu ada pula kegiatan kesenian ‘street musical mini concert’ dan seminar ‘Aku siap Ujian dan Kuliah’ dengan pembicara-pembicara yang telah berkompeten di bidangnya.

okee

Serangkaian acara Garuda Keadilan ditutup dengan puncak acara Festival Garuda Keadilan. Dalam acara ini ditampilkan beberapa pertunjukan kesenian, antara lain: tarian tradisional, penampilan GK band, Aquarel, dan one day. Meski beberapa kali sempat tersendat karena sedikit masalah, pembawa acara dan panitia berhasil mengarahkan pengunjung agar tetap menikmati acara festival tersebut. Menariknya lagi karena adanya beberapa stand seperti medical zone stand, garage sale stand, dan kampung dolanan, sehingga semakin menambah ramainya acara. Konsep rangkaian acara Garuda Keadilan ini memang dibuat unik dan menarik, dengan tujuan utama mengajak para pemuda agar turut peduli pada bangsanya, tentunya melalui kegiatan-kegiatan positif yang nyaman dan menyenangkan bagi mereka.

second

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 13 April 2014 in Tarbiyah

 

Tag:

Demokrasi, Islam dan Renunganku

SAYA BERUSAHA MENGUTIP DARI ORANG YANG LEBIH BERILMU DARIPADA SAYA

semoga ini mencukupi:

Demokrasi Dalam Pandangan Syariat

Saat ini umat Islam dihadapkan pada kenyataannya bahwa khilafah Islamiyah yang tadinya besar itu telah dipecah-pecah oleh penjajah menjadi negeri kecil-kecil dengan sistem pemerintahan yang sekuler. Namun mayoritas rakyatnya Islam dan banyak yang masih berpegang teguh pada Islam. Sedangkan para penguasa dan pemegang keputusan ada di tangan kelompok sekuler dan kafir, sehingga syariat Islam tidak bisa berjalan. Karena mereka menerapkan sistem hukum yang bukan Islam dengan format sekuler dengan mengatasnamakan demokrasi.

Meski prinsip demokrasi itu lahir di barat dan begitu juga dengan trias politikanya, namun tidak selalu semua unsur dalam demokrasi itu bertentangan dengan ajaran Islam. Bila kita jujur memilahnya, sebenarnya ada beberapa hal yang masih sesuai dengan Islam. Beberapa diantaranya yang dapat kami sebutkan antara lain adalah :

Prinsip syura (musyawarah) yang tetap ada dalam demokrasi meski bila deadlock diadakan voting. Voting atau pengambilan suara itu sendiri bukannya sama sekali tidak ada dalam syariat Islam. Begitu juga dengan sistem pemilihan wakil rakyat yang secara umum memang mirip dengan prinsip ahlus syuro. Memberi suara dalam pemilu sama dengan memberi kesaksian atas kelayakan calon. Termasuk adanya pembatasan masa jabatan penguasa. Sistem pertanggung-jawaban para penguasa itu di hadapan wakil-wakil rakyat. Adanya banyak partai sama kedudukannya dengan banyak mazhab dalam fiqih.

Namun memang ada juga yang jelas-jelas bertentangan dengan syariat Islam, yaitu bila pendapat mayoritas bertentangan dengan hukum Allah. Juga praktek-praktek penyelewengan para penguasa serta kerjasama mereka dalam kemungkaran bersama-sama dengan wakil rakyat. Dan yang paling penting, tidak adanya ikrar bahwa hukum tertinggi yang digunakan adalah hukum Allah SWT. Namun sebagaimana yang terjadi selama ini di dalam dunia perpolitikan, masing penguasa akan mengatasnamakan demokrasi atas pemerintahannya meski pelaksanaannya berbeda-beda atau malah bertentangan dengan doktrin dasar demokrasi itu sendiri.

Sebagai contoh, dahulu Soekarno menjalankan pemerintahannya dengan gayanya yang menurut lawan politiknya adalah tiran, namun dengan tenangnya dia mengatakan bahwa pemerintahannya itu demokratis dan menamakannya dengan demokrasi terpimpin.

Setelah itu ada Soeharto yang oleh lawan politiknya dikatakan sebagai rezim yang otoriter, namun dia tetap saja mengatakan bahwa pemerintahannya itu demokratis dan menamakannya demokrasi pancasila. Di belahan dunia lain kita mudah menemukan para tiran rejim lainnya yang nyata-nyata berlaku zalim dan membunuh banyak manusia tapi berteriak-teriak sebagai pahlawan demokrasi. Lalu sebenarnya istilah demokrasi itu apa ?

Istilah demokrasi pada hari ini tidak lain hanyalah sebuah komoditas yang sedang ngetrend digunakan oleh para penguasa dunia untuk mendapatkan kesan bahwa pemerintahannya itu baik dan legitimate. Padahal kalau mau jujur, pada kenyataannya hampir-hampir tidak ada negara yang benar-benar demokratis sesuai dengan doktrin dasar dari demokrasi itu sendiri.

Lalu apa salahnya ditengah ephoria demokrasi dari masyarakat dunia itu, umat Islam pun mengatakan bahwa pemerintahan mereka pun demokratis, tentu demokrasi yang dimaksud sesuai dengan maunya umat Islam itu sendiri.
Kasusnya sama saja dengan istilah reformasi di Indoensia. Hampir semua orang termasuk mereka yang dulunya bergelimang darah rakyat yang dibunuhnya, sama-sama berteriak reformasi. Bahkan dari sekian lusin partai di Indonesia ini, tidak ada satu pun yang tidak berteriak reformasi. Jadi reformasi itu tidak lain hanyalah istilah yang laku dipasaran meski -bisa jadi- tak ada satu pun yang menjalankan prinsipnya.

Maka tidak ada salahnya pula bila pada kasus-kasus tertentu, para ulama dan tokoh-tokoh Islam melakukan analisa tentang pemanfaatan dan pengunaan istilah demokrasi yang ada di negara masing-masing. Lalu mereka pun melakukan evaluasi dan pembahasan mendalam tentang kemungkinan memanfaatkan sistem yang ada ini sebagai peluang menyisipkan dan menjalankan syariat Islam.

Hal itu mengingat bahwa untuk langsung mengharapkan terwujudnya khilafah Islamiyah dengan menggunakan istilah-istilah baku dari syariat Islam mungkin masih banyak yang merasa risih. Begitu juga untuk mengatakan bahwa ini adalah negara Islam yang tujuannya untuk membentuk khilafah, bukanlah sesuatu yang dengan mudah terlaksana.

Jadi tidak mengapa kita sementara waktu meminjam istilah-isitlah yang telanjur lebih akrab di telinga masyarakat awam, asal di dalam pelaksanaannya tetap mengacu kepada aturan dan koridor syariat Islam. Bahkan sebagian dari ulama pun tidak ragu-ragu menggunakan istilah demokrasi, seperti Ustaz Abbas Al-`Aqqad yang menulisbuku Ad-Dimokratiyah fil Islam. Begitu juga dengan ustaz Khalid Muhammad Khalid yang malah terang-terangan mengatakan bahwa demokrasi itu tidak lain adalah Islam itu sendiri.

Semua ini tidak lain merupakan bagian dari langkah-langkah kongkrit menuju terbentuknya khilafah Islamiyah. Karena untuk tiba-tiba melahirkan khilafah, tentu bukan perkara mudah. Paling tidak, dibutuhkan sekian banyak proses mulai dari penyiapan konsep, penyadaran umat, pola pergerakan dan yang paling penting adalah munculnya orang-orang yang punya wawasan dan ekspert di bidang ketata-negaraan, sistem pemerintahan dan mengerti dunia perpolitikan.

Dengan menguasai sebuah parlemen di suatu negara yang mayoritas muslim, paling tidak masih ada peluang untuk menghanifkan wilayah kepemimpinan dan mengambil alihnya dari kelompok anti Islam. Dan kalau untuk itu diperlukan sebuah kendaraan dalam bentuk partai politk, juga tidak masalah, asal partai itu memang tujuannya untuk memperjuangkan hukum Islam dan berbasis masyarakat Islam. Partai harus ini menawarkan konsep hukum dan undang-undang Islam yang selama ini sangat didambakan oleh mayoritas pemeluk Islam. Dan di atas kertas, hampir dapat dipastikan bisa dimenangkan oleh umat Islam karena mereka mayoritas. Dan bila kursi itu bisa diraih, paling tidak, secara peraturan dan asas dasar sistem demokrasi, yang mayoritas adalah yang berhak menentukan hukum dan pemerintahan.

Umat Islam sebenarnya mayoritas dan seharusnya adalah kelompok yang paling berhak untuk berkuasa untuk menentukan hukum yang berlaku dan memilih eksekutif (pemerintahan). Namun sayangnya, kenyataan seperti itu tidak pernah disadari oleh umat Islam sendiri

Tanpa adanya unsur umat Islam dalam parlemen, yang terjadi justru di negeri mayoritas Islam, umat Islammnya tidak bisa hidup dengan baik. Karena selalu dipimpin oleh penguasa zalim anti Islam. Mereka selalu menjadi penguasa dan umat Islam selalu jadi mangsa. Kesalahannya antara lain karena persepsi sebagian muslimin bahwa partai politik dan pemilu itu bid`ah. Sehingga yang terjadi, umat Islam justru ikut memilih dan memberikan suara kepada partai-partai sekuler dan anti Islam.

Karena itu sebelum mengatakan mendirikan partai Islam dan masuk parlemen untuk memperjuangkan hukum Islam itu bid`ah, seharusnya dikeluarkan dulu fatwa yang membid`ahkan orang Islam bila memberikan suara kepada partai non Islam. Atau sekalian fatwa yang membid`ahkan orang Islam bila hidup di negeri non-Islam.

Partai Islam dan Parlemen adalah peluang Dakwah :
Karena itu peluang untuk memperjuangkan kursi di parlemen adalah peluang yang penting sebagai salah satu jalan untuk menjadikan hukum Islam diakui dan terlaksana secara resmi dan sah.

Tentu saja jalan ke parlemen bukan satu-satunya jalan untuk menegakkan Islam, karena politik yang berkembang saat ini memang penuh tipu daya. Lihatlah yang terjadi di AlJazair, ketika partai Islam FIS memenangkan pemilu, tiba-tiba tentara mengambil alih kekuasaan. Tentu hal ini menyakitkan, tetapi bukan berarti tidak perlu adanya partai politik Islam dan pentingnya menguasai parlemen. Yang perlu adalah melakukan kajian mendalam tentang taktik dan siasat di masa modern ini bagaimana agar kekuasaan itu bisa diisi dengan orang-orang yang shalih dan multazim dengan Islam. Agar hukum yang berlaku adalah hukum Islam.

Selain itu dakwah lewat parlemen harus diimbangi dengan dakwah lewat jalur lainnya, seperti pembinaan masyarakat, pengkaderan para teknokrat dan ahli di bidang masing-masing, membangun SDM serta menyiapkan kekuatan ekonomi. Semua itu adalah jalan dan peluang untuk tegaknya Islam, bukan sekedar berbid`ah ria.

Itu saja. Saya kutip dari syariah online.

fraksi-pks-dan-ormas-islam

(gambar: acara silaturahim pimpinan Ormas Islam guna membahas masalah-masalah keumatan- sumber islamedia.com)

Aku sepakat dengan pendapat Ketua Presidium Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia, Priyo Budi Santoso yang menyerukan kepada seluruh komponen bangsa untuk tetap mengikatkan diri pada sikap kekeluargaan, musyawarah, kegotong royongan serta nilai religius. Jangan sampai elemen bangsa terpecah karena adanya gesekan sosial.

Renunganku

Telah terencana jutaan tipu daya yang akan menyerang di luar sana.
Wujud musuh saat ini bukan hanya mereka yang bersenjata, tetapi bisa jadi diri kita sendiri.
Ketika diri dipenuhi oleh perkara permusuhan, ketika diri dipenuhi emosi dan keegoisan.

Ketika kita merasa menjadi golongan terbaik dan unggul dari golongan yang lain.
Bukankah antar umat muslim bersaudara? Bukankah setiap mukmin berhak menentukan jalan hidup mereka?

Kuharap perkara khilafiyah tak menjadikan persaudaraan kita luntur.
Kiranya kau sedia memahami bahwa pilihan adalah perkara kemantapan dan ketulusan amal.

Jalan ini bukan tidak panjang, jalan ini bukan tidak berkelok, namun penuh liku, duri dan batu.
Layaknya sebuah pencarian, kau akan membutuhkan kompas di pencarian itu, kompas iman tak akan menyudutkan saudaranya dalam kehimpitan. Biarkan saja ia melangkah. Mengabdi sesuai yang ia yakini.

Jika kau meyakini kita bersaudara, kiranya kau mau mengerti hal ini, kami bukan tak mau mendengar, bukan jua menjauh atau bahkan menghilangkan jejakmu dalam pencarian jalan ini. Tentu tidak saudaraku..
Kiranya kau mau memahami bahwa setiap dari kita butuh perjuangan, ketenangan, butuh konsistensi dan kesabaran tika telah bertetap dalam sebuah jalan yang ia pilih.

Benar kaki ini pun pernah mencicipi ranah kalian. Namun kembali lagi, Allah lah sejatinya penetap hati. Hati kami bertahan di sini, dalam jama’ah ini dan ingin terus berjuang dan mengabdi di sini. Inilah jalan kami yang menurut istikharah kami paling ideal untuk kami berdakwah.

Saudara kami yang disayang Allah. Tujuan akhir kita sama bukan?

‘Uztadziyatul Alam’,

hanya jalurnya saja yang berbeda,
kami mencoba berikhtiar dari sentuhan grass root sembari membenahi parlemen.
Apa jadinya jika kita tak mau berpolitik? politik memang dunia yang dekat dengan kekotoran, tetapi jika dari kita tetap berdiam, maka politik di negeri ini akan semakin kotor, Indonesia akan semakin dikuasai oleh para penguasa sekuler. Saudaraku, kau pasti tahu, kita pernah mempelajari bahwa bangsa Indonesia terlahir dari tangan-tangan para pahlawan, dari budaya yang sangat erat di dalamnya.

Kami tahu, kalian pasti lebih tahu. Kita saat ini tengah berada dalam kekalutan perang pemikiran (ghowzul fikr) yang saling berlomba mencari mangsa, mereka bahkan menyerang ke berbagai lini tanpa tersisa, berbagai ranah dan ideologi. Sudah bersyukur ritual budaya seperti penyembelihan yang menjadikan kepala manusia sebagai korban telah bergeser. Sudah bersyukur musik-musik hedonisme yang mendewakan satanisme sudah diwarnai dengan nasyid haroqi atau minimal musik islami. Bersyukur film-film seperti 2012, almagedo, pacivic crime, avenger aliens yang mengandung misi tersirat semacam brain washing itu masih ditandingi dengan film-film sejenis Hafalan Sholat Delisa hingga film The Messenger.

Saudara kami yang disayang Allah.
Kiranya kau menghargai jalan kami.. kiranya kau memahami ikhtiar kami, di mana usaha dalam menyusun sebuah batu bata yang kokoh dari membentuk pribadi muslim, baitul muslim, mujtami’ muslim, hukumah islamiyah, daulah islamiyah, khilafah islamiyah,hingga uztadziatul-Alam adalah sebuah proses yang teramat panjang dan penuh perjuangan merupakan petunjuk dari Allah Ta’ala tentunya kau akan sangat mengerti.

Berjalan saja bersama pilihan kita masing-masing. Berfastabiqul khoirot saja dengan cara kita masing-masing. Selama itu masih dalam ahlul sunnah wal jama’ah kiranya tak perlu ada percecokan yang berkepanjangan.

Kami berjuang, kau berjuang.. berjuanglah dengan etika yang baik. Kami tak akan menyerangmu, namun kami akan berjuang bersama jama’ah kami, bersama Allah yang membimbingnya. Insyaa Allah.

Pancangkan azzam kita, kuatkan tekad kita. Mantapkan hati kita. Mari berlomba dalam membangun negeri untuk kebaikan umat, untuk melawan kemiskinan dan kebobrokan. Karena kami pernah belajar dari guru kami, ustadz Rahmat Abdullah: “Di antara sekian jenis kemiskinan yang paling memprihatinkan adalah kemiskinan azzam dan tekad”. Allah Ghoyatuna!

Saudaraku yang dirindu surga, Di surga nanti Insyaa Allah akan  kita rasakan manisnya persaudaraan, di mana setiap penghuninya tidak ada yang membeda-bedakan berdasarkan ras, suku, golongan, ataupun status sosial, yaitu bagi mereka yang mau menghadirkan kualitas hidup surgawinya salah satunya dengan terus berfastabiqul khoirat menurut keyakinaan, niat yang benar dan ittiba’ pada Rasulnya.. Insyaa Allah di sana akan kita temui saudara kita dari HTI, salafy, JT dan sebagainya. Kita masih satu aqidah bukan.. ? 🙂 Kita tidak akan saling mengkafirkn bukan?

Ya, karena Allah lah tujuan kita..

Aku rindu di mana umat bersatu, di mana setiap harakah Islam bersatu bersama untuk memikirkan kejayaan islam dan memayungi seluruh masyarakat.. ya, aku masih punya mimpi di sana saudariku..

bersatu umat islam a harokah

Bumi ALLAH,

Yang masih belajar dalam lingkaran tarbiyyah
Asni Ramdani

Saudara kita terus bergerak di sana, semoga menjadi renungan kita bersama..

mejadi lecutan untuk ikut bergerak bersama 🙂

Allahu a’lam

Astaghfirullah hal’adzim

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 12 Februari 2014 in Tarbiyah

 

Tag: , ,

Bashiroh Seorang Kakanda terhadap Adik Tercinta

381275_1678034568395_822889571_n
Di antara orang yang sangat merasakah sentuhan Ustadz Rahmat adalah adiknya sendiri, Ahmad Nawawy. Ia yang lahir tiga tahun setelah Ustadz Rahmat benar-benar mempunyai harapan dan tanggung jawab teramat dalam terhadap sang kakak yang selalu ia panggil Bang Mamak. Setelah ayah mereka tiada, Ustadz Rahmatlah yang menggantikan perannya sebagai ayah, sekaligus sebagai abang.

Kala itu, Nawawy kecil sudah terseret ke dalam kebiasaan pergaulan yang tidak baik terbiasa minum minuman keras. Ia bahkan keluar SD sebelum sempat menamatkannya.

“Saya ini bandel sejak kecil. Saya terjerumus ke miras sejak tahun 1973, berapa tahun setelah keluar dari SD di kelas empat. Terjerumusnya itu karena lingkungan, ingin nyoba-nyoba. Waktu itu anggur kolesom. Setelah itu minum arak. Jarang yang kuat, bahkan teman-teman itu suka dengan arak karena kadar alkoholnya 32 %, kalau anggur kolesom itu hanya 12 %,” cerita Nawawy.

Dalam kekalutan dan kepiluan yang ia hadapi terhadap keadaan adiknya, dalam lingkup lingkungan dan kesadaran yang mewajibkannya untuk terus menyampaikan pesan nabi, dalam kurun waktu perjuangan yang tak singkat itu, ustadz Rahmat tidak pernah henti-hentinya berusaha, mengajak, menasihati dengan berbagai upaya, curahan penuh kasih seorang kakak yang bersahaja dan bersahabat, ia tidak pernah bosan. Ia ingin agar adiknya yang sangat dicintainya, benar-benar keluar dari semua jalan yang sangat dibencinya itu.

Ustadz Rahmat biasanya mengajak Nawawy yang tengah mabuk untuk pergi dan berjalan-jalan. Nawawy sendiri tidak pernah bisa menolak. Ia mengakui bahwa kala itu tak ada seorang pun yang bisa menghalangi polah dan ulah buruknya itu. Bahkan encingnya pun dilawan. “Saya selalu bilang, uang yang saya pakai kan uang saya, yang minum juga saya,” timpal Nawawy. Tapi kalau sudah didatangi kakandanya yakni Ustadz Rahmat sang adik merasa seperti dihipnotis, seketika ia berhenti dari ulahnya dan naik ke atas motor tuanya.Ustadz Rahmat juga gemar membawanya jalan-jalan, terkadang ke Taman Ismail Marzuki (TIM), ya itulah tempat pelarian yang Ustadz Rahmat sarankan kepada adiknya. “Di sini ada drama, ada bela diri ada banyak lagi yang positif,” nasihat Ustadz Rahmat selaku kakanda.

Kadang Nawawy juga dibawa ke Cikoko, ke tempat sebuah padepokan silat. Tidak berhenti sampai di situ, untuk menghindarkan pergaulan Nawawy dengan lingkungan, ustadz Rahmat memasukkannya ke kursus Pusgrafin (Pusat Grafika Indonesia). “Waktu itu namanya PGI, saya kursus beberapa bulan,” kenang Nawawy.

Pernah suatu hari Nawawy menampar anak tetangga. Kakak ipar anak itu marah. Karena lebih besar dan tidak bisa melawan, akhirnya Nawawy mengambil pisau dan menunggu di depan rumahnya. “Setelah ustadz datang, ia menarik saya pulang. Saya pun menurut begitu saja.”Nawawy juga mengisahkan kejadian lain, “Saya pernah gebukin tiga orang di RT4/4. Tak lama saya diajak pulang ustadz. Katanya, ‘Luka tamparan kamu itu besok juga hilang tapi hatinya tidak bisa. Meskipun kamu minta maaf mungkin di depan dimaafin karena takut, tapi hati sangat membekas lukanya. Itu minta amal kamu di akhirat, itupun kalau amalnya banyak. Ini kata-kata yang sangat membekas hingga saat ini.

“Semua drama-drama hidup itu masih harus dijalani dengan segala upaya untuk bisa mencari nafkah. Di antaranya, melalui usaha sablon. Sebelumya, ayah mereka mewariskan usaha mesin cetak Hand-Press. Tetapi kemudian, mereka ingin menjalankan usaha sablon. Waktu itu masih langka. “Buku tentang sablon itu diterjemahkan ustaz Rahmat. Bukunya berbahasa Inggris. Belum ada terjemahannya. Karena kita ingin bisa nyablon maka dibelilah buku itu di Senen, Gunung Agung. Dan biasanya kita setelah buku ini diterjemahkan.”Usaha itu mereka namakan ARACO (Abdullah, Rahmah/Rahmat/Rahmi Company).

Ustadz Rahmatlah yang biasa mencari order. Kesibukan baru mulai mengisi hari-hari Nawawy. Tapi pergulatan batin belum usai. Candrarasa cinta Ustadz Rahmat kepada adiknya tak pernah pupus dan terhapus, meski  perih dan getir ia tetap mencintainya sepenuh hati, lebih dari sekadar rasa cinta seorang kakak yang mencoba menyeduhkan perhatian, tetapi cinta seorang hamba Allah yang mempunyai keyakinan, bahwa ia harus berbagi manisnya jalan yang sama dengan saudara kandungnya: jalan orang-orang beriman. Oleh karenanya berbagai upaya ia lakukan. Termasuk menuliskan surat khusus, melalui pos, yang ia kirim dari Tebet, saat ia tinggal di daerah sana untuk sebuah keperluan.

Jakarta, 19 Rabi’ul Awwal 1399 H

16 Februari 1979 M

Ke hadapan
Saudaraku A. Nawawy
Di Jakarta

 
(dengan saduran kalimat secukupnya, tanpa mengubah alur kisah)
 
Jogja, 18 Januari 2014
Atsabita Ramadhan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 18 Januari 2014 in Tarbiyah

 

Tag: , ,